Memilih Pemimpin Karo Secara Rasional?

10
198

Oleh: Joni Hendra Tarigan (Bandung)

Dalam konteks suatu Negara, apakah rasional bila Wakil Presiden RI dari USA atau katakanlah dari Singapura atau juga Malaysia? Jangankan sebagai kepala negara, organisasi dari USA (Ford dan lain-lain) sekalipun tak bisa menjelma menjadi begitu bijak untuk perjuangan kemajuan bangsa dan rakyat Indonesia. Mereka (organisasi kemanusiaan asing terutama USA) mengeluarkan 1 Juta dollar untuk mendapatkan triliunan dollar. Bahkan, bila nyawa rakyat bangsa ini terrenggut, tak jadi soal bagi mereka.

Sangat tidak rasional bila pemimpin pemerintahan dari luar Karo mau berkorban jiwa raga untuk orang Karo, sekalipun “Tali Pusar Itu Jatuh di Taneh Karo Simalem”.  Bebek tak pernah mengerami telurnya, sang MANUK-lah yang mengerami telur bebek. Akan tetapi, sampai kapan pun, bebek tidak akan pernah menjadi MANUK. Tidak bulunya seperti manuk, tidak suaranya, tidak sifatnya. Itu adalah jati diri bebek yang tetap akan jadi bebek (Bukan maksudnya kita sama dengan bebek dan manuk).

Memang, kenyataannya pula, orang Karo pun yang memimpin Kabupaten Karo bisa sangat mengecewakan warga Karo sendiri. Jadi, apa yang dimaksud dengan rasional memilih pemimpin pemerintahan atau perwakilan rakyat daerah? Apakah sudah pasti tindakan rasional bila kita memilih Bupati Kabupaten Karo dari suku lain?

Tidak rasionalnya sebenarnya adalah bahwa kualitas orang Karo yang sedang memimpin itu tidak seperti yang diharapkan. Banyak uang belum tentu bisa memimpin.

Terus, kalau Siti Aminah–Sagala yang dipilih saat itu, itu rasional? Darimana dasarnya? Kalau itu asumsinya, harus dikaji dan diuji kebenarannya lewat kejadian yang ada, maka asumsi itu masuk kategori teori.

Kalaulah Siti Aminah-Sagala dan dulu calon-calon bupati yang lain itu benar-benar ingin membangun Karo, mereka tak  harus menjadi Bupati untuk membangun Taneh Karo Simalem. Dengan kemampuan yang ada, satukan kekuatan untuk membangun Karo. Gebu Karo dan Sora Sirulo, lewat program kemanusiaan dan budaya terus berusaha berkontribusi untuk Taneh Karo Simalem.

Bagi saya, mereka ini (Gebu Karo, Sora Sirulo dan yang lain-lainnya) adalah pepimpin perubahan tanpa jabatan pemimpin. Namun begitu, merekalah pemimpin yang sebenarnya untuk Karo.

joni hendra 1
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di atas pentas. Klik foto untuk ukuran besar.

Enda lang, la surung jadi Bupati ndai, lanai idah ilapna pe.

Selamat berjuang Karo, hanya kaumnyalah yang bisa merubah kaum itu sendiri. Me, kin? Semangat, semoga lahir pemimpin sejati Karo.

Salam Perjoeangan Karo.

10 COMMENTS

  1. Saya tidak tahu kalo artikel ini menimbulkan reaski dari pembaca. Perbedaan pandangan kita ini saya kira wajar wajar saja. Durian pun yang umunya dikatakan enak, tidak bisa dipaksa enak bagi segelintir orang yang tidak suka. Mengenai ilmiah atau tidak ini bukan JOURNAL atau PAPER. Ini juga bukan liputan brita, tapi ini adalah pemikiran. Bagi yang tersinggung, mohon maaf. Tetapi apa yang saya paparkan itu terjadi. Bagi yang merasa ini tidak rational itu juga benar menurut ratio anda, tapi benar juga menurut ratio saya. Karena ini bukan paparan hukum atau pun teori, maka tidak ada faktor setiap orang untuk harus mengikuti atau meyakininya. Ini adalah pandangan atau pun pemikiran dan tentunya akan terus berkembang.

  2. Soal pemimpin Karo atau pemimpin mana saja sekarang tetap akan jadi bahan menarik untuk diperbicangkan. Pertama karena soal kepemimpinan atau leadership adalah salah satu arus besar dalam perubahan dan perkembangan dunia.
    Pemimpin dalam zaman primitif juga pastilah pakai logika juga atau rasional juga. Descartes, Spinoza, dll tak suka sama rasinalnya orang-orang primitif ini dan bikin definisi ‘modern’ abad 17. Rasionalnya orang-orang modern ini tak suka religion, maupun empirisism. Jadi pastilah juga sangat terbatas, mengapa tak mengikutkan semua faktor kalau mau mencari kebenaran?

    Dalam pemilu Karo, Siti Aminah juga rasional, dia lihat ‘suara lebih’ dari migran Batak di Karo, karena itu dia pakai orang Batak sebagai wakilnya. Rasional lainnya ialah dia PDIP, partai terbesar di Karo sejak zaman bahola. Dua kerasionalan ini bisa bikin menang, tak salah. Cukupkah menilai kerasionalan dari dua segi ini saja? Pengalaman dia sudah membuktikan tidak cukup.

    Banyak alasan dia dan kita, mengapa tidak cukup. Analisa yang tak di ikutkan ialah analisa CULTURAL REVIVAL DUNIA. Dan inilah yang telah bikin jatuh banyak pemimpin dunia, Kalau Siti bikin wakilnya orang Karo, kemenangan sudah ditangan sejak semula. Karo Jambi tak akan berlawan, biar banyak uang digunakan. Ini rasional yang dilengkapi dengan perkembangan terakhir dunia.

    MUG

  3. Saya sedih membaca tulisan ini, saya orang Teba, yang pusarnya sudah di tanam di tanah karo simalem merasa tersinggung, ini adalah cara cara kuno menjatuhkan orang lain, cobalah kalau menilai orang itu tidak subjektif, pakai otak rasional.

  4. “Itu adalah pemikiran yang sempit dan terbelakang yang harus kita kikis. Kita hidup di zaman global” (TS). Pastilah maksud kam ini sukuisme atau primordialisme, begitu kan?
    Dalam abad multikulturalisme yang lalu, sungguh betul pikiran ini. Belasan, 20 th lalu wanita berkerudung dihormati di Rusia, Belakangan mereka takut jalan dikota-kota besar kalau pakai kerudung. Dulu orang bangga berbahasa Swedia di Finland, sekarang orang tak ingin pakai bahasa Swedia di Finland. Haruskan kita menganggap orang Rusia atau orang Finland terbelakang?
    Dulu sangat takutlah kita kalau dituduh ‘sukuisme’, saya masih ikut merasakan, tetapi sekarang saya tidak takut lagi dituduh demikian, malah bangga.
    Kam bagaiman TS takut atau bangga?

    Salam primordial.
    MUG

    • Rasa bangga di dalam dada saja tidak cukup. Tapi menjadi yang bisa dibanggakan, kesitu kita harus menjadi. Mana kam lebih bangga satu orang Karo menjadi Bupati (di Tanah Karo), atau 100 orang Karo menjadi Bupati/Walikota (di daerah lain)?

      Satu hal yang ingin aku garisbawahi. Ketika kita berani bersaing, disitulah kemampuan kreatif terbaik kita akan keluar dan terbentuk. Jadi, klo ada org luar yang lebih hebat untuk memimpin Tanah Karo, seperti Jokowow di JKT misalnya, kenapa tidak? Tapi kalo orang luar itu tidak lebih baik dari calon Orang Karo, atau malah lebih buruk… Kelaut aja ko ningen…..
      Salam damai.

  5. ”Rasional Siti Aminah- Sagala berbeda dengan rasionalnya rakyat Karo sebagai pemilih” kata RGM dimilis tanahkaro.
    ———
    Maksudnya Pemilih Siti Aminah dan SS adalah bukan PEMILIH yang mewakili cara BERPIKIR Orang yang Benar Begitu Kah !!! Lalu Bisa kah Penulis menjawab Pertanyaan Kandidat Karo lain-nya, yang pada akhirnya harus terhenti di Papan Bawah…Bagaimanakah Meng-Indentifikasi PEMILIH papan Bawah Tersebut yang Notabenya adalah Karo Juga…apakah ada sebutan Ilmiah nya lagi Pak..Yang menjadi Kok rasa-rasanya Kebenaran menjadi sangat relatif di sini ( Rasional orang Karo ) artinya saya melihat ada usaha untuk Membangun Pemikiran bahwa” Karo Jambi adalah Konsekuensi Logis bahwa Rakyat karo mempunyai Nalar yang Benar menurut Karakter Karo itu sendiri.? Siapakah dan di namakan apakah Pemilih Kandidat Papan Bawah lainya atau Siti Aminah & SS–> apakah Pemilih MEREKA dan tidak MEWAKILI cara Berpikir Karo…dan siapakah bapak-bapak sekalian YANG membawa stempel CARA BERPIKIR KARO YANG BENAR…adalah MEMILIH KARO-JAMBI…bukankah ini yang namanya MEMPERKOSA dan Mencoba memberikan Pengertian bahwa Pemilih SS adalah BUKAN CARA BERPIKIR ORANG KARO YANG BENAR,,,

    Lalu darimana asalnya atau tuhan siapakah itu yang menentukan bahwa Pemilih SS dan Siti Aminah adalah bukan Cara Berpikir Orang KARO yang Benar, apa yang menjadi KEWENANGAN dan darimana KUASA itu datangnya…lalu apakah Ketika nantinya ada bernama ACONG atau TUMIAR menjadi Bupati suatu saat di Tanah Karo…Maka OTOMATIS KEBENARAN cara Berpikir Orang Juga Berubah !!

    Permasalahan paling mendasar adalah Bahwa ada PHOBIA yang cukup besar sehingga menjadikan TEBA menjadi MUSUH BERSAMA adalah Pilihan yang harus dimuat dalam membangun cara berpikir,.karena selama PIKIRAN TEBA adalah musuh bersama masih ada di alam pikiran masyrakat …maka selama itu lah !! EKSENTENSI yang meng-Kreasi hal tersebut dapat terus berjalan ( Batman – Jocker)…

  6. berhak kah kita menilai orang…memberi cap…lebel…jelek..tanpa data yang valid.pada seseorang sebelum ada kekuatan hukum yang menyatakan dia bersalah….ini akan menjadi kebiasaan buruk di kemudian hari….mari kita belajar demokrasi….atau kita kembali ke jaman nini nininta ndube….bubarkan saja DPRD ngak ada Bupati….PNS….makan gaji….pemborosan uang rakyat….

  7. RASIONAL kalau dari semua segi.

    ”Memang, kenyataannya pula, orang Karo pun yang memimpin Kabupaten Karo bisa sangat mengecewakan warga Karo sendiri. Jadi, apa yang dimaksud dengan rasional memilih pemimpin pemerintahan atau perwakilan rakyat daerah? Apakah sudah pasti tindakan rasional bila kita memilih Bupati Kabupaten Karo dari suku lain?” (JHT). Ini pertanyaan yang memang sangat penting dalam menentukan kerasionalan suatu tindakan atau kepemimpinan. Rasional harus juga dilihat dari hasilnya yang bisa dicapai atau sudah ada hasil masa lalu yang bisa jadi patokan sekarang. Dan itu tidak ada atau tidak menonjol pada semua calon.

    ”Rasional Siti Aminah- Sagala berbeda dengan rasionalnya rakyat Karo sebagai pemilih” kata RGM dimilis tanahkaro.
    Jadi kerasionalan bisa juga ditinjau dari berbagai segi, atau tiap orang/golongan bisa bikin definisinya sendiri. Atau yang paling baik barangkali ialah kalau ditinjau dari berbagai segi atau semakin banyak seginya pastilah juga semakin mungkin mendekati kebenaran. Sayangnya kenyataan selalu ialah tiap orang/golongan hanya mempercayai perumusannya sendiri atau golongannya sendiri yang sudah dipatokkan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini adalah strategi penting yang mau dicapai, sering terselubung sehingga umumnya orang yang ikut dilapangan tidak mengetahui bahkan tidak menyedari sama sekali, terutama kalau sudah dilibatkan pula didalamnya ’alat penyadaran’ termasyur ’duit’ atau tekanan ’persaudaraan’ lainnya.

    Saya sebut satu contoh yang sudah lalu yaitu munculnya ’organisasi horas’ di Kabanjahe ketika SBY berkunjung ke Karo 2010. Atau kejadian aneh lainnya seperti meng’karo’kan Jokowi dengan pemberian merga Karo yaitu Perangin-angin tanpa sepengetahuan suku Karo. Berapa orang yang melihat dan menyadari fenomena strategis ini?

    Nelson Mandela terkenal dengan kepemimpinannya yang sangat cepat melihat situasi dan cepat pula menyesuaikan dan mengubah arah atau taktik leadershipnya. Ketika mudanya th 50-60-an perjuangan bersenjata terikut dalam aksinya. Th 1990 dia keluar dari penjara dan melihat jalan damai pasti bisa meruntuhkan kekuasaan aparteid. Dia cepat melihat situasi secara menyeluruh dan cepat mengubah semua taktik dan strateginya, dan dia berhasil, tanpa pertumpahan darah.

    Ketika Siti Aminah mengangkat orang Batak Sagala jadi wakilnya, ada logikanya untuk menambah suara dari migran Batak yang banyak di Karo terutama di Berastagi. Ini logika pertama dan logika yang betul bagi seorang kandidat, mengapa tidak menggunakan suara yang ada dan pasti. Tapi ternyata tidak cukup karena ada logika kedua yang sedang melanda seluruh dunia dan umat berbagai kultur dunia dalam ethnic/cultural revival yang sedang menanjak termasuk di Karo. Balibo Siti-Sagala digantikan balibo KARO ADALAH KARO.

    Dalam pentrapan logika pertama dia betul dan menang dalam putaran pertama. Dalam putaran kedua berlaku logika kedua yang sama sekali tidak terikut dalam pemikiran Siti Aminah karena berbagai sebab yang mempengaruhi SA atau memang sama sekali tak terpikir. Mengikutkan logika kedua ini atau mengikutkan banyak logika sudah pasti lebih baik.

    Bagi Kajambi melihat atau tidak kedua logika ini tak begitu urusan, karena situasinya sudah otomatis memihak dia, sebagai calon satu-satunya yang masuk gelanggang pertandingan menantang Siti/Sagala.
    Rasionalitas Kajambi cuma bagaimana jadi nr 2 dalam putaran pertama. Setelah itu dalam putaran kedua akan berjala otomatis jadi kemenangan.

    MUG

  8. Itu adalah pemikiran yang sempit dan terbelakang yang harus kita kikis. Kita hidup di zaman global. Kalo logika “Hanya orang Karo yang berhak memimpin Kabupaten Karo”, maka itu artinya kita sedang menutup pintu Calon Bupati/Walikota di 497 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dan menutup pintu Calon Gubernur di 32 Provinsi. Realitas bahwa sekarang terbuka kesempatan untuk seseorang menjadi kepala daerah di seluruh Indonesia tanpa batasan primordial, suku, agama, ras justru harus dilihat sebagai kesempatan dan peluang emas untuk orang Karo menunjukkan taringnya. Bangunlah Kalak Karo! Dulu mungkin kita belum sempat menjadi seperti Srivijaya atau Majapahit yang kekuasaannya membentang menyeberangi samudera meliputi 1/8 bumi, menguasai nusantara. Maka sekarang lah saatnya. Wake up your self… Keluarlah dari kandang, harimau-harimau Sumatera Tanah Karo…. Tunjukkan pada dunia kekuatanmu… Namun bila salah satu darimu menjadi pemimpin, maka pimpinlah dunia dalam Kasih Tuhan! Bujur… Salam harimau, Auummm… http://www.minyakharimau.com (promo sedikit)

  9. bagi saya pribadi Menjadikan Bahwa Tanah Karo HARUS di Pimpin oleh Karo sendiri adalah TIDAK RASIONAL..oke kita kembali ke contoh USA,..bagaimana orang Kulit Hitam dulunya mendapat tempat yang tidak layak pada Negara mereka bahkan istilah ninger” tersemat di antara mereka..Nyatanya sekarang Masyarakat USA memilih Ninger tersebut untuk Mereka.dan Masih Contoh yang lain..yang bisa kita angkat dalam Hal ini..

    .contoh Kecil saja Patriotis dan semagat Nasionalisme pada abad ini tidak dapat di Ukur dengan Status adminstrasi yang melekat pada Dirinya. bahkan Hal tersebut dapat diukur dari segi Kecintaan dia terhadap Negara atau Daerah…contoh bagaimana Negara-Negara yang mengakui Dua Kewarganegaraan sekaligus…apakah Kencintaan terhadap Kebangsaan Mereka dapat di ragukan.. saya Kira UKURAN kencintaan terhadap Kebangsaan dan Kedaerahaan Tidak Bisa di Ukur dari KULIT dan tetek bengek lainnya,….salam

Leave a Reply