Kolom M.U. Ginting: Mandela, manusia biasa dan tak biasa

2
134

M.U. GintingMandela sering digambarkan sebagai orang biasa, sangat ramah dan rendah hati, sangat memberikan inspirasi dan energi bagi siapa saja yang berhadapan langsung dengan dia. Mandela telah memberikan jasa bagi kemanusiaan dan bisa dikatakan sangat melampaui kemampuan manusia biasa dalam abadnya.

Bayangkan, bagaimana ketika dia terpilih jadi presiden situasi yang sangat tegang antara orang hitam dan orang putih. ‘Dendam’ panas dari penduduk Afrika sangat gampang ’tersalur’ untuk melibas habis orang putih Afrika Selatan meski dalam perang sekejap saja karena dendam yang masih sangat menyala akibat kekejaman dan tekanan orang putih rezim apartheid atas penduduk asli selama berabad-abad; terutama masa-masa terakhir kekuasaan orang putih Afrika Selatan.

Tetapi, Mandela maju dengan politik perdamaiannya yang dikagumi seluruh dunia. Dia bisa menghambat perang balas dendam yang mengerikan. Dengan jalan damai dia berhasil mengubah dendam jadi rekonsiliasi. Banyak diantara ex penguasa lama, polisi, militer, dsb. menceritakan kembali bagaimana dia menyiksa orang dan minta maaf. Sangat terkenal kemudian badan rekonsiliasi ini bernama TRC (Truth and Reconciliation Commission).

Kalaupun tidak semua dengan hasil positif, tetapi TRC telah menujukkan bahwa rekonsiliasi ternyata bisa dan bermanfaat bagi proses perkembangan kemanusiaan untuk selanjutnya bisa bekerja berdampingan membina kepentingan bersama dalam satu negeri dan meninggalkan permusuhan dan kekejaman yang tak berprikemanusiaan di masa lalu. Ini semua tak lepas dari inspirasi, energi dan semangat Mandela yang telah menjadi simbol perdamaian, demokrasi dan kemajuan bersama antara semua penduduk Afrika Selatan.

Selama 27 tahun di penjara Robben Island, Mandela tak pernah lesu dan berhenti berjuang. Sebaliknya, dia malah semakin bersemangat walau sudah berumur 72 tahun ketika pertama kali dikeluarkan dari penjara (1990).

Mandela terkenal dengan ingatan yang sangat tajam dan terus bikin gerakan damai dalam melawan apartheid. Akhirnya dia berhasil ’memaksa’ pemerintahan apartheid untuk bikin pemilihan demokratis di tahun 1994 dan berhasil jadi presiden demokratis pertama Afrika Selatan (1994-1999).

Setelah habis masa jabatannya, dia mengundurkan diri dan menginginkan supaya generasi lebih muda bisa meneruskan jabatan presiden. Mandela pindah ke desa tanah kelahirannya Thembu Land, satu region tradisional/ kultural Thembu people, berpenduduk sekitar 600 ribu jiwa, bagian dari propinsi Eastern Cape. Dia sangat senang menikmati alam kampung kelahirannya. Di sana jugalah dia dengan tenang menutupkan matanya yang terakhir Kamis 5 Desember 2013.

When a man has done what he consider to be his duty to his people and his country, he can rest in peace. I believe I have made that effort and that is, therefore, why I will sleep for the eternity” (Nelson Mandela 1918-2013)

Good bye Nelson Mandela, rest in peace and joy for all Eternity.

2 COMMENTS

  1. Betul Heston Sinuraya, rekonsiliasi masih sangat langka Kecendrungan berat sebelah masih sangat biasa, antara pilihan rekonsilisasi atau konfrontasi.
    “Jika kamu ingin berdamai dengan musuhmu, kamu harus bekerja sama dengan musuhmu,” kata Mandela. “Mereka kemudian akan menjadi rekan kerjamu.”. Kata-kata Mandela ini sangat tinggi dan mendalam, gampang dipahami tetapi sangat tak gampang mempraktekkkannya. Keginialan dan keluarbiasaan Mandela ya itulah, dia mentrapkan dalam kenyataan. Semua kita bisa membayangkan bagaimana besarnya jurang atau permusuhannya dengan penguasa aparteid ketika itu.
    MUG

  2. Rekonsiliasi merupakan makhluk yang sangat langka di Indonesia, barangkali belum pernah ada. Sejak revolusi social pertama sampai revolusi tahun 66, sampai sekarang belum ada rekonsiliasi. Mudah – mudahan di masa depan nanti ada orang seperti Mandela di Indonesia.

Leave a Reply