Tanta J. Ginting Tentang Film SOEKARNO: Aku Hanyalah Seniman, Bukan Politisi

0
164

tanta ginting 1

Wawancara Ita Apulina Tarigan dengan Pemeran Syahrir dalam film SOEKARNO

Jika berbicara mengenai Proklamasi Kemerdekaan RI, ketiga tokoh Soekarno, M. Hatta dan Sutan Syahrir adalah 3 serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi, nama Syahrir seolah tenggelam di balik kebesaran Soekarno dan Hatta. Minimnya perhatian terhadap Syahrir, membuat banyak generasi muda, bahkan tokoh-tokoh politik masa kini yang kurang mengenalinya. Padahal, sepak terjang Sutan Syahrir telah membuat Indonesia bermartabat di mata dunia di masa-masa Revolusi dan sesudahnya.

Tokoh Syahrir kembali menarik, ketika kemudian ditampilkan dalam film SOEKARNO karya Hanung Bramantyo. Tokoh ini diperankan oleh Tanta Ginting (TG), pendatang baru di perfilman Indonesia tetapi sudah cukup kenyang dengan pengalaman panggung. Beberapa waktu lalu, Sora Sirulo (SS) melakukan serangkaian wawancara dengan Tanta via email, berikut petikannya:

SS: Bagaimana ceritanya sehingga kam bisa terlibat dalam Film Soekarno ini?

TG: Semua berawal dari keterlibatan aku di dunia Teater Musikal. Di tahun 2009 aku diajak temen, Vj. Daniel Mananta, untuk menghadiri audisi GITA CINTA The MUSICAL (GCTM) garapan Maera Panigoro, Ari Tulang dan Dian HP. Itu pengalaman pertama aku di dunia seni pertunjukan. Gak banyak berharap, aku hanya datang dan memberikan yang terbaik di audisi yang mengharuskan aku mempertunjukan keahlian  berakting, nyanyi, dan menari. Singkat cerita aku diterima sebagai ensamble, atau supporting cast di GCTM.

Proses latihan GCTM cukup lama. Berlatih selama 6 bulan. Proses latihan dan persiapannya tidak mudah. Ari Tulang adalah pelatih yang sangat keras, dan tegas. Tidak jarang aku kena tegoran keras dari Ari Tulang dengan kata-katanya yang kasar dan tajam karena kesalahan atau gerakan kurang sempurna. Kadang menyakitkan, tapi apa yang Ari Tulang lakukan mendorong aku untuk bisa jadi lebih baik.  Aku tidak mempunyai latar belakang teater. Satu hal yang Ari Tulang katakan ke kita,

“INTINYA KALIAN MAU ATAU TIDAK. KALAU KALIAN MAU, KALIAN PASTI BISA.” Kata-kata itu sangat melekat padaku. Ternyata, GCTM meraih sukses yang lumayan tinggi di dunia pertunjukan teater musikal.

Setelah GCTM aku dapat kesempatan di ALI TOPAN The MUSICAL juga garapan Maera Panigoro, Ari Tulang, dan Dian HP. Semua pertunjukan MUSIKAL LASKAR PELANGI garapan Mira Lesmana, Riri Riza, Erwin Gutawa, Jay Subiakto, dan Hartati.

Di semua teater musikal yang pernah aku lakukan, aku selalu bekerja keras untuk memberikan yang terbaik. Tidak mudah, tapi kerja keras ini membuka peluang mendapatkan tawaran di televisi sebagai pembawa acara TARUNG di Kompas TV, Beanbag Show di U Channel, dan akhirnya tawaran FILM SOEKARNO.

FILM SOEKARNO berawal dari Casting Director mereka yang pernah melihat aku di GCTM dan bertanya ke Ari Tulang untuk meminta aku datang ke DAPUR FILM untuk audisi sebagai Hatta dan Sutan Sjahrir. Tanpa berfikir dua kali, aku langsung mempersiapkan diri dengan cara mempelajari latar belakang kedua tokoh ini dan datang ke DAPUR FILM.

Aku tidak berharap banyak saat itu. Aku hanya memberikan yang terbaik di audisi yang pertama dimana aku harus berakting sebagai Sjahrir. Proses audisi tidak lama, aku hanya berakting sangat singkat, tapi Zaskia, istri Hanung Bramantyo, sebagai salah satu casting director terlihat puas dengan performa aku.

Dua minggu setelah audisi pertama, aku dapat pangilan audisi yang ke dua. Di situ ternyata aku langsung dipasangkan dengan Ario Bayu sebagai Soekarno, dan Ben Kasyafani sebagai Hatta. Audisinya lumayan serius.

Hanung menyulap kantornya menjadi rumah zaman dulu, dan kita audisi lengkap dengan kostum dan semua ini direkam dengan secara professional. Aku gugup tingkat tinggi, dan harus mengulang satu scene sampai 7 kali. Ario Bayu dan Ben membantuku menenangkan diri, audisi ke dua selesai tapi aku kurang yakin. Namun beberapa hari kemudian aku dikontak oleh casting director mereka dan diterima sebagai Sutan Sjahrir.

SS: Apa perbedaan berperan di panggung seperti Laskar Pelangi dengan film, apa saja kesulitannya?

TG: Keduanya memiliki tantangan dan kesulitannya masing-masing.  Kalo di teater semua penampilan ditampilkan secara langsung, pengulangan adegan. Sekalinya acara dimulai semua harus dilaksanakan dengan sempurna. Di teater musikal, para pemain harus bisa melakukan akting, menari, dan bernyanyi dalam saat yang bersamaan, semua gerakan harus lebih besar dari biasanya. Ini bertujuan agar penonton yang berada di kursi paling belakang masih bisa merasakan emosi yang ingin kita sampaikan melalui gerakan kita. Dan otomatis projeksi suara juga harus lebih jelas dan luas.

Kalau di film justru sebaliknya. Kita diharuskan untuk bisa menyampaikan emosi dengan gerakan yang lebih natural dan tidak terlalu besar, ditambah kita harus melakukan acting kita di depan banyak orang.

SS: Bagaimana tanggapan kam terhadap tokoh yang kam perankan,

TG: Pemikirian Sjahrir sangat berpengaruh terhadap Kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya, perdebatan hebat antara 3 pemimpin Negara, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Jalan Sjahrirlah yang dipakai untuk mendapatkan kemerdekaan.

SS: Apa yang kam lakukan untuk mendalami dan menjiwai Syahrir?

TG: Saya melakukan riset tentang riwayat Sjahrir dan berdiskusi dengan banyak orang, terutama yang berlatar keturunan Minang. Misalnya kepribadian dan cara tata bahasa seorang Minang pada tahun itu. Aku mencoba untuk memberikan tawaran, tapi pada akhirnya pendapat Mas Hanung yang juga aku masukkan ke dalam karakter Sjahrir di film.

SS: Pengalaman apa yang berkesan buat kam selama terlibat di film ini?

TG: Karena ini adalah film pertama aku semuanya penuh kesan.

SS: Jika misalnya kam menjadi Syahrir pada masa sekarang ini, apa yang akan kam lakukan terkait dengan politik dan anak muda?

TG: Aku gak bisa kepikiran apa-apa, Karena aku seorang seniman dan bukan politisi.

SS: Apa harapan dan cita-cita kam di masa yang akan datang?

TG: Selalu bisa berkarya dan terus berkarya di bidang seni, dan suatu hari nanti bisa merubah industriy seni hiburan di Indonesia menjadi lebih baik.

Leave a Reply