Simbisa Karo Masih Diantara Kita

3
299

simbisaOleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

robinson g. muntheMasyarakat dunia pada umumnya terdiri dari berbagai golongan (meski mungkin terlihat secara samar), seperti golongan pedagang, cerdik pandai (cendikiawan), rohaniawan, penguasa (birokrat dan pejabat), serta golongan pekerja dan satria. Pada umumnya, golongan satria inilah yang dulunya disebut oleh masyarakat Karo dengan julukan simbisa. Saat ini, para simbisa ini bisa saja hidup dengan berbagai profesi, termasuk para preman pasar, terminal, kernek bus, petani, TNI/ Polri, mahasiswa, dokter, pengacara, wartawan, dan lain sebagainya. Tantangan yang timbullah yang membangkitkan figur simbisa yang “terselubung” tersebut. Indikasi ini terlihat dari berbagai komentar dan reaksi dalam kasus Pemuda Merga Silima (PMS). Tantangannya dalam hal ini adalah bagaimana “menggarap dan mendayagunakan” mereka ini secara rill bagi kehormatan masyarakat Karo (bukan untuk kepentingan politik ekonomi jangka pendek)?

Pada masyarakat tradisional Jepang, golongan samurai (satria) adalah golongan terhormat (sama saja dengan simbisa Karo zaman dulu) yang lebih dari hanya sekedar pedagang dan cendikiawan. Sampai sekarang di Jepang, golongan ini masih dihormati dan muncul dalam figur dan berbagai profesi tertentu (sebahagian menjadi Yakuza) walaupun tidak sevulgar seperti jaman dulu.

Sebagai golongan samurai Jepang yang akhirnya memilih menjadi yakuza (karena kecewa dengan penguasa formal dan lain-lain) pada saat sekarang ini malah sudah masuk melalui pasar saham ke konglomerasi usaha. Dalam hal ini, sepertinya pemerintah Jepang tidak terlalu risau (walaupun juga tidak terang-terangan membiarkan). Kenapa?

Pemerintah dan rakyat Jepang memahami bahwa spirit para yakuza adalah spirit para samurai Jepang, spirit yang dihormati bangsa Jepang. Spirit itu sendiri telah terpelihara dalam setiap profesi orang Jepang, termasuk para pengusaha dan pekerjanya.

Dalam kehidupan masyarakat Karo, benang merah antara spirit simbisa telah putus antara masa dahulu dengan masa sekarang (disebut zaman modern). Dalam arti kata lain, spirit masyarakat Karo zaman dulu tidak pernah lagi dimunculkan pada era kekinian. Hal inilah yang membuat kita seolah-olah telah tercabut dari akar sejarah, padahal hal ini tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Karo.

Spirit Kekaroan itulah yang merangkul kita tetap bersatu meski kita tinggal di berbagai tempat dan dengan berbagai profesi tentunya.

3 COMMENTS

  1. Mmg dulu ga sm dgn skrng.. Sangat susah mempertahankan kebudayaan kita org karo ini. Semoga suatu saat spirit para pendahulu kita bisa tumbuh kembali. Mjj.. Jbu…

  2. “Figur ‘simbisa’ sedang terselubung, didalam berbagai profesi”. Simbisa adalah bagian yang tak terpisahkan dari way of thinking dan kultur Karo sejak existensinya dan selalu didepan dalam keadaaan Karo terdesak dan diperlakukan tidak adil, seperti terlihat jelas ketika berhadapan dengan ketidakadilan yang dipaksakan oleh kolonialmaupun dalam banyak peristiwa lainnya setelah merdeka . Simbisa muncul “bagi kehormatan masyarakat Karo (bukan untuk kepentingan politik ekonomi jangka pendek)” sangat menggambarkan kenyataan.

    MUG

Leave a Reply