Bangun Kembali Citra Sejati Karo

1
159

Oleh: Penatar Perangin-angin (Muara Bungo)

Memang, beberapa dekade belakangan ini, kita kalak Karo mengalami degradasi kepekaan, kepedulian dan keinginan untuk membangun bumi sendiri. Lebih parahnya, tidak bisa diatur, apatis, egosentris dan cenderung menutup diri terhadap sesuatu yang membawa perubahan secara tidak langsung.

Foto: Juara R. Ginting
Click foto untuk ukuran besar (Foto: Juara R. Ginting)

Kita maunya selalu instan, praktis dan langsung ada hasil, “bagi si ngetep lacina“, padahal kita tahu filosofi ini tidak ideal. Kita selalu memikirkan pribadi lepas pribadi, hal umum namun berdampak buruk kita lupakan. Akibatnya, sikap apatis itu dijadikan oleh segelintir orang untuk mengeruk kekayaan di bumi kita.

Dulu kita tidak seperti ini. Dulu kita peduli. Dulu orang lain angkat topi bila melihat kita. Padahal, SDM pemuda pemudi Karo tidak kalah dengan yang lainnya. Taraf pendidikan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Namun, apalah arti semua itu jika keinginan dan kepedulian serta tindakan nyata tidak pernah diterapkan?

Jika hal ini terus berlarut-larut, Taneh Karo Simalem hanya akan tinggal sejarah diantara puing-puing kepunahan identitas dan entitas kita. Kemakmuran dan peradaban yang bermartabat hanya akan menjadi hisapan jempol belaka.

Sekarang, kita harus saling mengingatkan dan saling mengajak. Melalui sosial media, komunitas kita yang aktif di basis masyarakat Karo baik lokal maupun regional. Bangun kembali citra sejati yang bukan sekedar pencitraan.

Pesan untuk siapa saja yang kemudian hari duduk di Karo 1, agar mengingat dan menjalankan amanat rakyatmu. Pikirkan siapa kita ini. Apakah kita ini hanya akan menjadi peserta sementara atau akan eksis seperti suku lainnya? Buatlah negeri ini surga dan Karo yang paling indah, kasihanilah rakyatmu, sayangilah budaya dan leluhurmu. Hargailah kepercayaan yang diberikan bagimu.

Kita akan melihat, bukan kehinaan yang dialami, tetapi kecintaan yang sesungguhnya dari seluruh rakyatmu. Keputusan ada di tanganmu, Maka, buktikanlah. Harapan hanya tinggal setitik, yaitu dirimu.

1 COMMENT

  1. “beberapa dekade belakangan ini, kita kalak Karo mengalami degradasi kepekaan, kepedulian dan keinginan untuk membangun bumi sendiri” (PP). Gambaran tepat tentang Karo sebagai satu suku beberapa dekade belakangan. Mengapa begitu bisa terjadi? Pertama karena penindasan tekanan kejama Orba yang anti-nasionalis Soekarno sedangkan “Karo adalah satu dengan Bung Karno” (pidato Guruh ketika berkunjung ke Karo). Sebab penting kedua ialah karena Karo tak pernah terlihat keluar sebagai akibat dari poilitik PEMBATAKAN etnis saingan dalam ethnic competition. Dengan politik pembatakan, Karo tertutup dan terisolasi dari pengetahuan umum. Karo bungkem atau ‘menerima saja’ dibilang Batak Karo, sehingga yang terkenal dan dikenal orang Bataknya, dan Karonya tak pernah ada yang mengenal. Sampai ada juga rumor atau pendapat umum bahwa orang Karo adalah Batak yang baik, artinya Bataknya yang baik tapi Karonya tetap saja tak ada yang tahu.
    Sekarang kita semua bisa melihat sendiri, bagaimana pandangan atau sikap rakyat umum terhadap Karo, jelas sudah banyak perubahan, ke yang positif! Tak perlulah kita menganggap KBB telah banyak berjasa dalam mengangkat kedepan arti Karo itu, tetapi bisa dibandingkan kalau tak ada kegiatan KBB. Sekarang yang tak giat dan yang selama ini diam atau ‘apatis’ dalam mengangkat Karo juga bisa membedakan Karo dimasa Orba, masa permulaan reformasi dan sekarang. Lebih banyak yang merasakan positifnya, artinya bisa menikmati kemuliaan, dignity dan integritas yang ada dalam satu suku yang bernama Karo. Semua kita bisa membandingkan, sekarang dengan beberapa dekade kebelakang. Lita merasakan adanya IDENTITAS KARO, beda dengan identitas etnis lain dan sederajat dengan etnis lain. Tidak ada lagi yang mengganggap Karo sebagai salah satu sub-etnis tertentu.
    Berhasilnya dan begitu cepatnya hasil gemilang ini bisa dicapai dalam waktu yang relatif pendek, tak bisa juga dipisahkan dari perkembangan pengetahuan dunia soal suku-suku Sumatera bagian utara ini, termasuk suku-suku di Aceh. Perkembangan yang saya maksudkan ialah dalam lapangan antropologi dan sejarah, dan juga penemuan arkeologi USU bahwa Karo dan Gayo adalah gerup manusia tertua didunia yang penah ditemukan di dataran tinggi Gayo, yaitu sekitar 7400 th. Tak ada gerup manusia atau budaya yang lebih tua dari ini. Dari sini terlihat jelas bahwa Karo dan Gayo bukan sub-etnis Batak, karena orang Batak sendiri menurut prof Bungaran Simanjuntak tiba di Sumatra sekitar 2500 th lalu, dari Taiwan lewat Pilipina.

    “Pesan untuk siapa saja yang kemudian hari duduk di Karo 1, agar mengingat dan menjalankan amanat rakyatmu. Pikirkan siapa kita ini.”

    Sekarang sudah lengkap bahan-bahan terkumpul untuk memikirkan Karo, terutama bagi Karo 1.

    Bagi organisasi PP pancasilais gadungan, supaya memikirkan cara dialog yang berkualitas daripada berdialog denga menggunakan batu dan kayu. PMS Karo telah menunjukkan teladan demokrasi yang berkualitas tinggi dalam menyampaikan protesnya ke DPRD soal penyiksaan dan pengeroyokan salah satu teman mereka yang dilakukan oleh orang-orang dari pimpinan PP Medan. Polisi Medan harus cepat menunjukkan kejantanan mereka memihak keadilan dan menjalankan rolnya sebagai penegak hukum, jangan membiarkan gerup tertentu menyiksa dan melempari orang lain dengan batu dan memukuli orang yang sudah pingsan dengan kayu berulang-ulang dan berganti-gantian pula.

    MUG

Leave a Reply