Renungan: HUKUM RIMBA

2
230
nancy 22
Model: Masmur Sembiring (Sanggar Seni Sirulo)

nancy 21Oleh: Nancy Meinintha Brahmana (Kabanjahe)

Mufasa adalah seekor singa jantan yang menjadi penguasa di hutan Afrika.  Begitulah cerita dari satu film Lion King yang mengisahkan tentang seekor singa jantan yang kuat, ditakuti oleh binatang lain dan mereka  patuh padanya.  Di sekeliling Mufasa ada beberapa binatang yang menyertainya, ada yang cukup bijaksana, ada yang senang mencari ulah dan ada pula penjilat.  Di alam rimba yang buas terjadilah hukum rimba siapa yang kuat dialah yang menang.

Di hutan, para binatang tidak memerlukan logika, strategi, intelektual, pemahaman dan kebijaksanaan untuk menangkap mangsa atau menjadi penguasa di daerahnya.  Mereka hanya membutuhkan naluri meskipun mereka mempunyai juga sistem kekerabatan.  Namun, binatangpun mempunyai pemimpin yang diangkat dan dipatuhi oleh mereka atas persetujuan bersama, mengenal dan mematuhi norma-norma yang sudah disepakati bersama secara area menurut kelompok mereka.

Pemimpin adalah seorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin.  Pemimpin sejati tidak pernah menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin. Namun, kehendak Allah harus terjadi dalam hidupnya agar seorang itu harus menjadi pemimpin. Beberapa kisah yang dapat kita baca mengenai pemimpin yang mengelak untuk menjadi pemimpin adalah :

Musa, memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan.  Yang dia katakan adalah, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hambaMupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

Gideon, membebaskan bangsa Israel dari suku Median, diangkat menjadi Hakim.  Yang dia katakan adalah, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel?  Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.”

Daud, Raja Israel, dia berkata, “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku. Sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? …”

Yesaya, menjadi nabi Tuhan. Dia mengatakan, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.”

Yeremia, menjadi nabi Tuhan.  Dia mengatakan, “Ah, Tuhan Allah!  Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

Yehezkiel, menjadi nabi Tuhan.  “…Dan Roh itu mengangkat dan membawa aku, dan aku pergi dengan hati yang panas dan dengan perasaan yang pahit. Karena kekuasaan Tuhan memaksa aku dengan sangat.”

Kisah di atas hanya sekelumit untuk mengingatkan kita tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini khususnya di Kabupaten Karo.  Semenjak Bupati pertama Rakoetta Brahmana menjadi bupati atas pilihan rakyat di bawah NKRI, tidak ada lagi pernah terdengar seorang Bupati naik atas pilihan rakyat.

Sesungguhnya bukan hanya Kabupaten Karo yang mengalami krisis pemerintahan. Banyak sekali daerah di Indonesia bahkan pemerintah pusat sendiri mengalami hal yang sama.  Namun, ruang lingkup yang kita bahas  di sini hanya mencakup Karo.

Sesungguhnya, dari dahulu Karo telah terpecah belah karena terjadi perang saudara antar daerah sehingga terjadilah pengelompokan-pengelompokan kekuasaan. Peperangan yang melahirkan ketidakpecayaan dan sikut menyikut beranakpinak hingga sekarang. Karo semakin melupakan azas kekerabatan yang sesungguhnya adalah senjata ampuh untuk meredakan permasalahan yang paling rumit sedemikian rupa.

Kekerabatan si waluh jabu, sangkep nggeluh, tutur siwaluh, merga silima, perkade-kaden sepuludua.

Kebencian menjadi senjata paling ampuh untuk meruntuhkan satu dengan yang lain.  Namun ini semua tidak menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Karo.   Bersaing untuk menjadi yang terlihat hebat sudah menjadi pilihan di hati masyarakat Karo sehingga sangat bangga dengan menyandang title preman.

steven amor 13

Kebijaksanaan semakin terpuruk dan hikmat kehilangan tempatnya. Selama Masyarakat Karo tidak kembali pada azas runggu lima merga maka tidak akan pernah terjadi pembaharuan yang berarti di Bumi Turang.  Selama ada pribadi yang mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Karo maka tidak akan pernah terjadi pemerataan dan peningkatan Karo yang signifikan.

KEMBALI KEPADA RUNGGU.  Sudah waktunya untuk kembali runggu, berbicara dari hati ke hati antar  Merga Silima, para tokoh agama, Ketua dan Pengurus Inti Persadan, untuk berbicara dan mengambil sepakat agar MEMILIH PEMIMPIN SECARA BERGANTIAN MENURUT MERGA SILIMA. Arih-arih gelah ersada, kata orang Karo, akan sangat bermanfaat untuk menghindari kecemburuan, kebencian, sikut menyikut bahkan uang keluar sebab tidak perlu ada saingan dalam hal ini.

Semuanya berhak menjadi mata dan hati bagi pengembangan Karo. Namun bagi pribadi yang sudah terbiasa menjadi penjilat dan ingin mendapat percikan kemakmuran maka gagasan ini akan menjadi kesulitan baginya karena tidak ingin ada perubahan dalam hidup dan tidak sanggup untuk merubah kebiasaan.

Tokoh yang dikedepankan harus dibukakan kepada seluruh masyarakat, di mana tokoh tersebut adalah hasil dari runggu Merga Silima, Tokoh Agama, Pengurus Persadan Merga, yang sudah diseleksi dengan persyaratan yang ditetapkan agar layak disodorkan kepada Menteri Dalam Negeri dan masyarakat Karo. Dengan adanya arih-arih ersada maka akan didapat pemimpin yang siap untuk memimpin tidak karena uang atau kesombongan kemampuan, dan pasti akan mendapatkan pemimpin yang menjadi pelayan dan bukan sebagai penguasa yang ingin dilayani.

Dengan demikian pula maka  hanya ada satu baliho yang bertuliskan “INILAH CALON BUPATI KARO TAHUN 2015-2020, SEBAGAI HASIL RUNGGU KITA BERSAMA, NAMA… , YANG BERSEDIA MENJADI PELAYAN BAGI TANAH KARO BUMI TURANG SIMALEM, DOAKAN AGAR BELIAU DAPAT MEMIMPIN DENGAN BIJAKSANA DAN KABUPATEN KARO SEMAKIN MAJU.”

Hukum Rimba tidak ada lagi, Hukum Kekerabatan berlaku.

2 COMMENTS

  1. Pengaruh berabad-abad kolonial dan pengaruh sangat buruk (saling sikut dan saling bunuh) pemerintahan fasis Orba telah merusak tradisi Karo yang sangat ideal bagi kemanusiaan dan perkembangan kemanusiaan.
    Karo sangat beruntung punya tradisi dan filsafat hidup yang bisa diandalkan bagi kemanusiaan, dan semakin banyak generasi muda Karo yang terbuka pikirannya untuk menemukan kembali gaya hidup Karo yang ideal, seperti tertulis dalam artikel ini.

    “Selama Masyarakat Karo tidak kembali pada azas runggu lima merga maka tidak akan pernah terjadi pembaharuan yang berarti di Bumi Turang. Selama ada pribadi yang mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Karo maka tidak akan pernah terjadi pemerataan dan peningkatan Karo yang signifikan.”

    “Dengan adanya arih-arih ersada maka akan didapat pemimpin yang siap untuk memimpin tidak karena uang atau kesombongan kemampuan, dan pasti akan mendapatkan pemimpin yang menjadi pelayan dan bukan sebagai penguasa yang ingin dilayani.”

    “MEMILIH PEMIMPIN SECARA BERGANTIAN MENURUT MERGA SILIMA. Arih-arih gelah ersada, kata orang Karo, akan sangat bermanfaat untuk menghindari kecemburuan, kebencian, sikut menyikut bahkan uang keluar sebab tidak perlu ada saingan dalam hal ini.”

    Ini satu ide/gagasan baru dan ideal (kembali ke Karo atau Karo renesans) dan sangat mungkin dilaksanakan bagi orang Karo, karena tradisinya, way of thinkingnya dan filsafat hidupnya ,sikunginen radu megersing siagengen radu mbiring’,

    MUG

Leave a Reply