Siapkah Kita Hadapi Kemungkinan Terparah dari Sinabung?

0
186
ita 44
Foto: MONA PELAWI

Puncak Sinabung Tetap BerpijarCatatan Perjalanan  Pemimpin Redaksi Sora Sirulo Ita Apulina Tarigan

Hari itu [Senin 30/12] kami nekad mendekati gunung Sinabung dengan harapan dapat melihat dari dekat. Keberanian kami karena cuaca bersih dan gunung kelihatan tenang. Dari Kabanjahe, kami melaju menuju Simpangempat, kemudian memilih menuju Sinabung lewat Naman. Apa daya, sesampai di Torong kami harus berbalik arah karena longsong di beberapa titik dan tidak mungkin dilewati. Terlihat beko sibuk menyendoki dan memindahkan tanah longsoran. Bukan hanya kami yang harus berbalik, ada banyak kendaraan lain mengalami hal sama. Akhirnya, kami menuju Berastepu melalui Tigapancur.

Mendekati Tigapancur, awan dan kabut menutupi gunung, hanya kakinya yang terlihat. Kami sempat ragu meneruskan perjalanan, tetapi dengan memperhatikan arah angin sepertinya ada harapan Sinabung akan terang kembali.  Kami sampai di Simpang Sebintun. Sepi. Terlihat beberapa orang berlalu lalang. Ada beberapa perempuan mengobrol di teras rumah berdebu. Sebagian nampak saling mencari kutu. Tetapi kebanyakan rumah dan pagar bergembok. Anjing-anjing menatap layu seolah menantikan tuannya. Tetap setia berjaga di gerbang dan di pintu rumah majikannya. Seorang bapak tua terlihat turun dari kereta membawa bungkusan plastik. Sepertinya membawakan makan siang untuk anjingnya yang langsung melonjak gembira.

Semakin masuk ke dalam suasana semakin sepi. Di Tigaserangkai, seorang ibu duduk termenung di warungnya sembari menjejer minuman botol. Kami bertanya dalam hati, siapakah yang membeli dagangannya? Apakah sekedar membuka warungnya hanya karena kebiasaan? Kiri, kanan, depan yang terlihat hanya rumah-rumah terkunci rapat.

Kami terus melaju ke atas, ke perladangan sembari mencari tempat mangkal yang paling dekat bisa mengamati Sinabung. Benar saja, angin menghembuskan awan dan kabut, Sinabung semakin cerah walau puncaknya masih tersaput awan. Akhirnya, kami menemukan sebuah ladang yang ditanami padi dan berhenti di situ. Menjepret beberapa kali, mengamati pepohonan yang sudah kering kerontang dan jalur aliran lava.

Foto: MONA PELAWI

Tanpa kami sadari, di depan kami ada sebuah sapo reot.  Di depannya ada anggrek dan batang terung. Ternyata, ada seorang ibu tua sibuk membersihkan tanah dan memanen terungnya. Menatap kami heran, kemudian berlalu. Kami lalu tidak melihatnya lagi karena kesibukan sendiri. Siang itu kami makan nasi bungkus di pinggir jalan dan menghabiskan waktu. Lalu, tiba-tiba, kami dengar suara gemuruh di perut gunung. Kata Ngguntur Purba (koordinator Sirulo TV Kabupaten Karo), itu sudah biasa tidak perlu ditakutkan.

Cuaca tiba-tiba mendung. Teringat ada banyak titik longsor di daerah Teran. Gunungpun kembali tertutup. Kami beranjak menuju Kabanjahe.

Sesampai di Kabanjahe, kami terkejut melihat banyak orang berdiri di pinggir jalan menatap ke arah Sinabung. Ternyata erupsi dengan awan hitam pekat. Menurut BMKG, awan itu mengandung pasir dan desa Sukanalu Teran dihujani pasir. Betapa beruntungnya kami. Hingga sore ada beberapa kali erupsi serupa.

Malam kembali riuh di saluran informasi ketika dikabarkan Sinabung mengeluarkan lava. Kami buru-buru menuju media center untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Malam itu juga, kami kembali menuju Tigapancur. Jalanan dan kota Kabanjahe sepi. Di Tigapancur, kami bertemu banyak orang dengan berbagai macam kendaraan. Mereka turut mengamati Sinabung dan arah mobilnya sudah siap-siap menuju Kabanjahe bila terjadi kemungkinan paling berbahaya.

Pijar-pijar lava meluncur kencang dari puncak Sinabung. Cepat sekali mencapi lambungnya. Silih berganti dari puncak, tiada henti. Kami seperti melihat pertunjukan langka. Langit terang dan bintang bersinar. Bukan aku saja, seorang lain juga melihat bintang jatuh sewaktu luncuran lava besar meluncur memijar. Terdengar lagi gemuruh perut Sinabung, seolah menuang batu-batu.

Semua hanya menahan nafas, nyaris tidak bersuara. Suara terdengar ketika lava meluncur lagi. Sudah jam 2 pagi, terlihat mobil Komandan Kodim melintas. Kamipun memutuskan kembali ke Kabanjahe, walau pertunjukan lava belum usai. DI Simpangempat, kami melihat mobil sang Komandan berbelok ke posko BMKG.

****

Di balik itu, kami juga mendapatkan kisah bahwa TNI dan BNPB sore itu melakukan penyisiran di desa-desa yang dianggap rawan terhadap letusan Sinabung. Mereka masih menemukan beberapa orang yang membandel. Walau mereka bisa memaklumi alasan penduduk, tetapi alasan keselamatan adalah yang paling penting.

Belum lagi dengan berita simpangsiur yang beredar dari mulut ke mulut dan media sosial. Ini sangat meresahkan penduduk dan pengungsi. Padahal sudah ada media centre yang selalu update kondisi terkini Sinabung. Sulit merasakan apa yang dipikirkan orang-orang yang mendramatisir berita Sinabung tanpa memikirkan kepanikan dan ketakutan orang yang mendengarnya.

Di beberapa jalur jalan, kami melihat beberapa tanda jalur evakuasi jika terjadi bencana. Seharusnya ini menjadi perhatian bersama untuk keselamatan bersama. Di Simpangempat, kami malah menemukan tanda-tanda seperti itu diremuk entah dengan apa.

Dari kejadian-kejadian ini, terlihat betapa kita belum siap terhadap penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana adalah tanggungjawab bersama, bukan hanya pemerintah tetapi juga oleh semua warga. Sosialisasi keselamatan, jalur evakuasi, pengoptimalan media centre hendaknya terus disosialisasikan. Sehingga, warga terbiasa dengan informasi yang benar dari sumber yang benar.

Sampai hari ini, BMKG sendiri belum dapat memastikan kapan aktifitas Sinabung akan berakhir. Bisa saja, untuk seterusnya kita harus hidup berdampingan dengan Sinabung. Jika demikian adanya, tentu harus ada perubahan dan cara pandang warga serta pemerintah. Mudah-mudahan, di waktu yang akan datang kita bisa lebih tanggap, lebih akurat dan sistematis dalam menangani bencana. Kiranya semangat dan optimisme warga Karo tetap bernyala seiring dengan masuknya kita di tahun yang baru.

Selamat tahun baru 2014, sangap kita kerina Kalak Karo!

Leave a Reply