Kolom M.U. Ginting (Swedia): KEKUATAN DALAM KULTUR

0
126

M.U. Gintingmuginting 28”Taneh Karo Simalem, menjadi target selanjutnya. Banyak tanah ulayat yang hilang dan menjadi milik pribadi atau korporasi, kenapa bisa terjadi? Tatanan budaya yang ada sudah luntur, disebabkan oleh apa? Tanpa kita sadari ada gerakan internal (tanpa disadari ikut membantu untuk menghilangkan kearifan lokal), gerakan eksternal orang-orang yang ingin menguasai wilayah Taneh Karo Simalem.” Dikutip dari tulisan Steven Amor Tarigan (SAT) di http://www.sorasirulo.com/2013/06/19/budaya-dan-lingkungan-apa-pentingnya-gerakan-karo-bukan-batak/.

Ada dua kekuatan atau yang SAT sebutkan gerakan internal dan gerakan external. Kekuatan external ini adalah kekuatan luar biasa, cikal bakal satu kekuasaan dunia, dengan kekuatan ekonomi/finansial terkuat dan terkonsentrasi, dalam tingkat perkembangan sekarang ini masih dalam perjalanan ke puncak dalam proses tesis-antitesis-syntesis, belum menurun. Seluruh kemanusiaan merasakan, artinya bukan hanya satu-dua negeri. Hiburan yang masih ada bagi kemanusiaan ialah bahwa proses apapun akan mencapai puncaknya dan dari situ menurun seperti dalam filsafat dialektika Karo ’seh sura-sura tangkel sinanggel’.

Kekuatan external itu kata SAT akan berusaha ”menghilangkan kearifan budaya lokal . . . karena budaya lokal sangat memiliki peranan penting dalam mengatur hubungan dengan alam semesta dan sesama. Pengkaburan sejarah budaya setempat adalah cara termudah untuk menguasainya”. Ini adalah kesimpulan ilmiah dari sejarah, dari praktek kolonialisme dan penjajahan yang berabad-abad.

Karo dan kulturnya sudah ribuan tahun, adalah budaya tertua di dunia yang pernah ditemukan, http://www.setkab.go.id/nusantara-4750-tim-arkeologi-balar-temukan-fosil-berusia-7400-tahun-di-aceh-tengah.html.  Sudah sekian lama pula Karo mengumpulkan dan menyimpulkan pengalaman hidup yang sangat luar biasa keakuratannya tergambar dalam bangunan arsiteknya, filsafat hidupnya dan dialektikanya. Artinya, dalam way of thinking dan way of life.

Dialektikanya yang jauh lebih tua dari dialektika Yunani kuno; baik dalam dialektika pikiran tesis-antitesis-syntesis Karo (seh sura-sura tangkel sinanggel) maupun dalam dialektika alam seperti Pantarei Karo aras jadi namo, namo jadi aras. Dalam Pantarei Yunani kuno Heraklitos sekitar 500 BC ’semua mengalir’, sedangkan dalam pantarei Karo bahkan lebih dilengkapi dengan proses ’yang satu berubah jadi kebalikannya’ dimana aras (bagian yang dangkal, deras, beriak, dari aliran sungai) berubah jadi namo (lubuk, bagian yang dalam, tenang). Begitu juga sebaliknya dan seterusnya, menggambarkan proses yang dialektis.

Dalam dialektika pikiran tesis-antitesis-syntesis Karo yaitu seh sura-sura tangkel sinanggel adalah kesimpulan dialektis orang Karo kuno sejak ribuan tahun bahwa tiap kali cita-cita (sura-sura) sudah tercapai, pastilah akan diikuti oleh problem berikutnya. Itulah yang terjadi dalam kehidupan manusia sejak ribuan tahun sampai sekarang.

Dalam menggambarkan dialektika kehidupan sosial, orang Karo kuno bilang: siagengen radu mbiring, sikuningen radu megersing. Artinya, saling menjelekkan akan menghasilkan sama-sama busuk, tetapi kalau saling memperbaiki, akan sama-sama lebih bagus. Filsafat hidup Karo ini dalam era modern ini disebut juga dengan Win/win solution. Bagi dunia soal ini adalah soal perjuangan untuk dimenangkan, yang dalam benak orang Karo adalah soal naluri di bawah sadar.

Menang Bersama

Orang Karo lebih menginginkan menang bersama daripada menang sendiri. Ini termasuk ciri utama pandangan hidup Karo atau ciri utama kultur Karo. Salah satu sebab utama mengapa orang Karo bisa cepat menyesuaikan atau diterima di berbagai macam kultur/daerah.

Untuk mempertahankan contoh keindahan hidup yang satu ini, Karo harus mempertahankan keutuhan daerahnya sebagai sumber utama kearifan hidup yang sangat tinggi ini, salah satu kearifan lokal yang tinggi. Kalau daerah sumber utama filsafat ini hilang atau di situ sudah berlaku kultur hedonisme, sudah jelas bukan Karo lagi. Sudah tak ada tempat bagi filsafat hidup itu di Karo.

Salah satu negara yang mati-matian mempertahankan negaranya sebagai tempat utama kultur dan budaya aslinya ialah Israel. Israel tegas mempertahankan kultur Yahudinya, tidak mau diganggu gugat kultur dari suku lain, terutama kultur orang Arab yang hidup sekeliling daerah Israel.

muginting 31Ribuan tahun tradisi Karo dan filsafat hidupnya yang disebut Rakut Sitelu, filsafat penyangga kehidupan alamiah Karo dan kehidupan sosial Karo. Dari daliken sitelu, tiga tungku untuk mamasak makanan supaya bisa menjaga kelangsungan hidup. Dalam hubungannya dengan kehidupan sosial adalah anakberu-senina-kalimbubu (penerima dara, pelaku, pemberi dara), filsafat kehidupan yang sungguh-sungguh berlaku sampai sekarang, Karo masih sangat menikmati, jelas juga terlihat dalam kehidupan bersama di rumah adat Karo, rumah besar arsitek unggul pemikir Karo kuno. Sebuah bangunan dengan dengan daya tahan ratusan tahun, tanpa bahan metal (paku) atau semen seperti rumah-rumah modern.

”Hedonisme dijejalkan kepada kaum muda dengan dalih kebersamaan, persatuan dan gaul. Apa motivasi di balik itu? Tanpa kita sadari, kita sudah kalah, dan sudah terbukti walau masih ada beberapa orang coba menyamarkannya demi melancarkan aksinya.” (SAT).

Budaya hedonisme banyak merusak pada tingkat lokal maupun nasional. Memang itulah tujuannya, meluluh lantakkan kekuatan atau potensial yang ada di satu daerah dari segi budaya. Banyak ’hiburan malam’, judi, miras, narkotika, pelacuran dengan bumbunya AIDS/ HIV yang mematikan. Anak-anak muda kita tidak bisa melihat ini semua. Siapa yang melihat, katakanlah dan beri pencerahan.

Pemda? Ada uang masuk dari semua kegiatan hedonis (pajak) tetapi siapa yang menjelaskan akibatnya yang berjangka panjang yang jauh lebih banyak ruginya daripada untungnya?

Kearifan Lokal

Kehancuran kearifan lokal atau budaya/kultur lokal adalah kehancuran segala-galanya bagi satu daerah, karena kekuatan atau potensial utama satu daerah ada di dalam kultur/ budaya itu sendiri. Adalah karena kultur dan budaya Karo itulah makanya kita orang Karo masih merasa ada artinya hidup sebagai orang Karo. Kalau di Karo sudah berdominasi budaya ’pelacuran’ hedonis, narkotika, judi, AIDS/HIV, menangnya dan enaknya sendiri, saling sikut dan bahkan saling bunuh sebagai fenomena harian, apakah masih ada artinya kekaroan itu?

Mempertahankan kultur/ budaya Karo dan daerahnya adalah mempertahankan survival Karo.

Mempertahankan budaya kearifan lokal seluruh nusantara adalah mempertahankan survival Indonesia sebagai satu nation yang utuh dan berbudaya

Leave a Reply