Karo, Berhentilah Menjadi Pengeluh

1
148

Oleh: Penatar Perangin-angin

Kita kalak karo mulailah berhenti menjadi pengeluh. Mulailah mengejar bola. Kadang kita kerap berasumsi bahwa “angkana nge ukurku“. Bayangkan jika semua manusia berfikir seperti itu, kapan semua hal dapat terselesaikan tanpa argumentasi?

Tidak jamannya lagi menjadi “permenek“. Buanglah sifat “pergelut“. Mulailah dengan berfikir positif, bertindak positif dengan tujuan yang positif pula. Tempatkanlah budaya “mecek pusuh” pada tempat yang semestinya.

Ketegasan adalah anak tangga pertama menuju kemandirian. Keterbukaan adalah pintu awal kedamaian. Dapat dipimpin adalah kunci menjadi pemimpin.

Lalu, apalagi?

Apakah kita cukup puas dengan keadaan sekarang? Kalau iya, sepatutnya kita berterimakasih. Kalau tidak, sepatutnya pula kita berusaha lagi karena hanya kitalah yang memahami sampai batas mana tujuan kita. Tak seorang lain pun yang lebih memahaminya daripada kita sendiri. Hanya kita sendiri yang mengerti jore seperti apa yang kita mau.

Bagaimana kita tahu kalau si A enggo jore, si B enggo jore? Semua masih konon katanya.

Atau barangkali malah mereka yang menganggap kita jore? Dengan bekerja 25 jam sehari, itupun tidak cukup untuk mereka sedangkan kita, tidur malam kita yang masih Pkl. 23.00 pun kita sudah melewati mimpi sebanyak 8 episode.

Bukankah semcam itu juga yang menjadi impian mereka?

Mari kita tata ulang konsep hidup dan konsep berfikir kita. Tetap semangat. ajar bancina. Maju terus kalak Karo.

Salam mejuah-juah kita kerina

1 COMMENT

  1. “Berhenti menjadi pengeluh. permenek, pergelut.
    Hilangkan asumsi ‘angkana nge ukurku’. Biasakan dengan ketegasan dan argumenatasi secara terbuka, karena keterbukaan adalah pintu awal kedamaian”. Formulasi yang sangat bagus dan meyakinkan.

    Dialog, diskusi, dan argumentasi yang semakin mendalam dan ilmiah dalam mengemukakan tiap pendapat dan ide apa saja, sehingga pendapat atau ide itu teruji kebenarannya dengan antiargumentasi. Sifat-sifat ini akan menjauhkan sifat mengeluh, perpusuh dan permenek.

    Ini menggambarkan dua sikap (attitude) yang bertentangan. Orang-orang Karo yang masih punya attitude permenek/perpusuh karena mengharapkn ‘angkana min ukurku’, jelas sudah sangat jauh dari kemungkinan untuk diteruskan dalam zaman kita sekarang ini. Suku bangsa yang masih mempertahankan sifat-sifat permenek/perpusuh ini pasti akan ditinggalkan zaman karena sudah sangat tidak sesuai dengan era informasi sekarang. Era informasi elektronik ini telah memberikan kesempatan kepada kita orang Karo untuk bersikap terbuka dan berargumentasi ilmiah karena pengetahuan apapun bisa kita dapatkan dari internet. Dan orang Karo sangat senang dan tekun menangani informasi teknik modern ini.

    KBB (Karo Bukan Batak) dalam tingkat sekarang ini, setelah melalui bertahun-tahun perdebatan terbuka dan dengan argumentasi yang semakin luas, mendalam dan ilmiah, sudah terlihat banyak hasilnya. Lawan-lawan KBB terlihat sudah mulai kewalahan mencari argumentasi yang mantap untuk menantang KBB. Itulah semua berkat perubahan sikap (attitude) Karo dari perpusuh ke keterbukaan ilmiah jauh dari sifat tertutup dan perpusuh atau permenek atau pergelut. “Tempatkanlah budaya “mecek pusuh” pada tempat yang semestinya” kata Penatar Perangin-angin, sangat setuju. Apapun yang dibikin orang lain sama kita tetapi kitalah yang menentukan sikap yang bagaimana menghadapi si ‘penghina’ itu, seperti juga dikatakan oleh psikiater LK di Sorasirulo. Jadi sikap kita tadi, perubahan sikap tadi adalah segala-galanhya. ‘Your attitude, not your aptitude will determine your altitude’ nina sada pepatah.
    Bujur PP
    MUG

Leave a Reply