Kerja Tahun Batukarang Penuh Derita

3
223

Oleh: Deva Alvina Sebayang

Tanggal  16  JANUARI 2014 adalah Kerja TAHUN BATUKARANG. Kebetulan Kila saya baru saja meninggal tahun 2013, maka kami memutuskan untuk datang Ke Batukarang . Untuk mencapai  Desa Batukarang, kami melewati  Simpangempat – Sibintun – Payung ke Batukarang.  Kami memang ragu karena langit tampak memerah di jalan yang kami tuju, seakan awan sangatlah tebal.  Tapi kami harus melalui itu.

Ketika melewati jalan-jalan yang penuh abu, ada perasaan mencekam, sedih melihat semua hancur.  Beberapa orang bertahan dalam kondisi itu, bahkan ada yang menjemur padinya. Sepanjang jalan Sibintun aku melihat  2 anjing ( induk dan anak ) yang tergeletak. Aku pikir tertidur, tapi ketika berhenti ternyata mati. Mereka mati berpelukan, dan masih banyak anjing juga yang bergeletakan.

Setiba di BATUKARANG, HUJAN ABU yang tebal turun sehingga kami tak lama berada di sana. Tidak berani ambil resiko kabut abu yang tebal, kami memutuskan pulang dari arah jalur Singgamanik sampai Kabanjahe.

Dalam wawancara dengan penduduk setempat, ada 3 hal yang saya temukan :

1. Masih banyak warga bertahan untuk berladang dan memanen hasil kerja, tapi ada permainan harga.  barang, hewan ternak dibeli murah. Mohon dicari solusi untuk itu. Sudah jatuh ketimpa tangga pula.

Warga Taneh Karo yang saat ini tertimpa bencana benar-benar  di bawah tekanan. Hewan ternak dijual dengan harga murah karena tekánan pembeli. Juga hasil panen dibeli harga murah dengan alasan kena abu vulkanik.

Saya bingung, padahal di pasar harga melambung naik. Mohon diatasi agar mereka tidak dimanfaatkan. Kasihan mereka bekerja di tengah abu tapi hasilnya dibeli dengan harga murah.

ngguntur purba 712. Sepulang dari Batukarang saya bertemu dengan Pdt. Agustinus Purba, Ketua Diakonia GBKP yang 24 jam waktunya untuk mengurusi pengungsi. Saya menanyakan jumlah pengungsi yang meninggal dunia? Beliau menyebutkan belum ada data akurat. Memang ada yang meninggal dunia, tapi belum diketahui secara pasti apakah karena bencana Sinabung atau penyakit bawaan.

Beberapa sahabat dan warga juga menyebutkan demikian, sudah ada yang meninggal tapi belum diketahui faktor apa.

Saya sudah 2 kali ke posko pengungsian. Saya melihat masih sebatas pemberian obat. Belum ada pendataan lengkap tentang tinjauan terus menerus tentang kondisi kesehatan pengungsi.

KEMATIAN korban gunung berapi, khususnya Sinabung menurut saya bukan hanya karena kena awan panas tapi bisa dikarenakan berbagai faktor seperti: Terlalu lama menghirup debu vulkanis, stress (hilangnya motivasi) dan juga penyakit menular di pengungsian.

3. Banyak hewan yang kami lihat mati ditinggal pengungsi. Kami harapkan ada lembaga sosial yang menangani hal ini. MOHON KETIKA PRESIDEN DATANG DISAMPAIKAN UNTUK MEMBUAT TEMPAT KHUSUS HEWAN PIARAAN, (BABI, LEMBU Dan KAMBING).

4. Tingginya tingkat stress para pengungsi.  Meski dalam beberapa posko dan laporan sahabat facebook bahwa ada hiburan di pengungsian, tapi itu sedikit mengobati perih yang dirasakan.

Kekhawatiran para pengungsi akan biaya hidup, biaya anak sekolah, kuliah dan berubahnya rutinitas hidup menjadi faktor pemicu stress. Jadi saya mohon Team ahli yang menangani hal  ini..

5. Sistem pembagian masker. Meskipun jarak 5 km sudah diungsikan, tapi “ HUJAN ABU “ terjadi melebihi  jarak yang ditetapkan. Realitanya masyarakat tidak dapat memperoleh masker dengan mudah, Bahkan di beberapa desa, MASKER DIJUAL harga 2000 atau 5000 ( 3 buah)

Mohon jelas sistem kerja dan sosialisasikan pada masyarakat untuk mengambil masker di …. dengan gratis.

6. Masyarakat Karo dikenal peduli pendidikan, meski rumahnya gubug tapi anaknya kuliah minimal SMA. Untuk itu, saya mohon kepada mahasiswa korban Sinabung untuk diberi  beasiswa pendidikan.

7. MOHON SEGERA DIRELOKASI PENGUNGSI SECEPATNYA.

MELIHAT REALITA di balik bencana SINABUNG saya masih menganggap penting bahwa SINABUNG diangkat status menjadi BENCANA NASIONAL.

3 COMMENTS

  1. Saya sangat setuju dengan apa yg dituliskan adik kita brSebayang itu. Semoga apa yg kita harapkan bisa tercapai, kita minta pd pak Presiden utk memutuskan yg terbaik bagi sdr2 kita itu semua. Seandainya bpk Presiden mau mengatakan pada Menteri Pendidikan agar semua Mahasiswa yg ortunya dipengungsian dibebaskan dari wang kuliahnya, sampai keadaan membaik. Kalau tdk pastilah banyak anak2 kita yg jadi putus sekolah. Semoga harapan kita ini terwujud. Semoga !!!

  2. 7 poin yang dikemukakan oleh beru Sebayang ini sangat penting jadi perhatian.
    Daerah yang harus diungsikan semakin luas, situasi pengungsi semakin payah, semakin menyedihkan. Bagi pengungsi yang sudah datang sejak pertama erupsi sudah berbulan-bulan dipengungsian, hidup darurat pastilah semakin stress, Relokasi ketempat yang lebih ‘manusiawi’ memang sudah waktunya untuk direncanakan, karena bencana ini bisa saja berlangsung begitu saja sampai bertahun-tahun, tidak ada yang pasti.

    MUG

Leave a Reply