Cerpen: Beidar

0
157

Beidar 1Oleh: Ita Apulina Tarigan

 

“Bangunlah, bangun.”

Walau matahari belum nampak, terasa panas sudah membakar kulit.

“Hantarkanlah adikmu ke telaga. Badannya sudah panas sedari malam.”

“Ibuuu….” aku menggeliat sambil setengah melek. Menatap wajah ibu dengan sorot mata cemas. Tatapan matanya membuatku tidak bisa membantah. Setengah mengantuk aku berdiri. Kulihat ayah di tepi tebing menatap. Sepertinya ke atas. Langit masih gelap, tetapi semburat merah jingga menyala keras di Rimba Sinabung.

Agi, adikku, mengekor langkahku. Bibirnya kering. Matanya memerah. Berdua kami meloncati akar-akar pohon dan urat-urat yang menggantung. Mata air itu jauh di bawah. Di atas sini sudah kering semua. Jalan rahasia ini sunyi sekali. Jarang kami bertemu teman-teman yang biasa membagi canda ria.

Oh, aku ingat. Si ular phyton hitam sok ganteng itu. Beberapa minggu lalu sudah bilang dia akan pergi mencari tempat lebih dingin. Menurutnya, dia akan menjadi pionir mencari tempat baru bagi kami dan, katanya, itulah saatnya dia menepuk dada. Bahwa hidupnya sudah berguna.

Aku ingat. Dengan sok tahu dia pernah mengatakan, sekali hidup berarti setelah itu mati. Kurasa dia sudah ketularan manusia.

“Abang, pelan sikit… Aku haus dan capek,” terdengar suara adikku terengah-engah.

“Ih…  bagaimananya, kalau haus ya harus minum. Di sini tak ada airlah. Bagaimana bisa minum? Dengar ya, orang-orang kampung itu selalu membandingkan kita pada anaknya. Melompat seperti beidar, berlari seperti beidar, belum apa-apa sudah mengeluh… issss… jangan bikin malu pasukan beidar. Ayo jalan.. Ah..  Itu dia telaga kita. Sampai bukan? Kaulah memang, selalu saja mengeluh.”

Adikku perlahan menuju tepian telaga. Lalu, langkahnya terhenti.

“Abang… Keruhlah air ini. Bagaimana bisa minum? Air kotor dan bau. Tak bisa, Abang.. hiks.. hiks…”

Aih… mulailah adikku menangis. Sungguh tak tahan aku mendengar suara tangisan.

“Mengapa tak diminum saja. Kalau tak mau minum, tahankanlah!” Aku mulai membentak.

Dia terus saja menangis merintih. Ihhh… anak satu inilah. Betul-betul bikin susah. Hanya telaga ini yang kutahu. Belum pernah aku pergi jauh keluar dari batas larangan itu.

“Eeehhh… Mengapa menangis? Mengapa tak minum?” Terdengar lembut suara ibu tiba-tiba di belakang kami.

“Kami terkejut. Makk… dia tak mau minum. Kotor dan bau, katanya.”

Ibu diam. Ayah juga diam. Ibu memberi bujukan. Pelan-pelan, sedikit-sedikit adik meminum sambil terbatuk.

“Sudah, mak,” katanya dengan suara tercekat.

Ibu melap sudut bibir adikku. Kulihat setetes bulir air matanya.

“Beidar, tentu engkau tahu arah matahari bergerak, bukan?” Suara ayah dalam berwibawa memanggilku.

“Hemm…” dengusku.

“Dengar, nak. Hutan dan gunung ini semakin panas. Kau adalah anak lelaki ayah. Kita berdua lelaki di keluarga ini. Kita harus bertahan melangsungkan keluarga kita. Dengarlah, ayah akan pergi ke Timur, engkau ke Barat. Kita cari tempat baru, air bersih. Kamu mau kan, nak?” Ayah menatap sambil mengelus tanduk remajaku.

“Lewat batas hutan larangan?”

Ayah mengangguk.

“Berjalan terus?”

Dia mengangguk lagi. Ibu menangis, memeluk adik.

“Beri tanda di jalan yang kau lewati, supaya ada petunjuk pulang untuk bertemu. Dua kali putaran surya setelah ini, kita bertemu di sini. Ibu dan adikmu akan mencari tempat aman di bawah. Beidar, kakekmu adalah pejuang sejati. Kau darahnya. Jaga dirimu, putraku!”

Gontai aku berjalan ke Timur. Kutahan tidak menoleh ke belakang. Tak mau ayah ibu lihat takutku, lihat air mataku. Tetapi… kutoleh juga, ibu tersenyum melambai. Adik juga.

Sekali lompat aku melintasi lima akar kayu. Iya, percayalah ayah, aku anak lelakimu tidak akan mengecewakan keluarga.

Semakin jauh berjalan, semakin berkabut pandangan. Bukan, ini bukan kabut, ini debu. Tetapi, kata ayah, jika terus berjalan akan bertemu air jernih.

“Beidar, Beidar, hendak ke mana?” Ih.. burung-burung cerewet ini selalu centil bertanya. Si Bulu Kuning ini, suka sekali hinggap di tandukku.

“Mengapa tak kau hinggapi saja kumis si Arimo?”

“Hihihihii….” katanya mengikik.

“Beidar, kau hendak ke mana? Mencari air. Aku temani, ya? Aku bisa terbang. Aku bisa membantumu.

“ Tak sudi ditolong perempuan. Aku bisa.”

“Aih… Beidar. Sekarang semua susah. Tak lelaki tak perempuan. Jangan sombong. Hari-hari kita sudah tak pasti. Seperti Nini Deleng yang sudah empat bulan ini tak bicara, tetapi mendadak mengamuk.”

“Aku akan berjalan jauh.”

“Taka pa, Beidar. Aku ikut.”

“Tak mau. Nanti teman-temanmu para jantan play boy itu bikin susah. Ribut saja.”

“Hiks… hikss… Tak ada sanak saudara lagi, Beidar. Teman tak punya. Tadi malam habis disapu si Awan Panas. Hikss….”

Hessss… Kalau sudah pakai air mata, bagaimana mungkin kutolak?

Kami berjalan. Sampai malam menyergap. Entah di mana. Tetapi, di bawah kulihat beberapa kelap kelip lampu. Puncak Nini Deleng mulai lagi memerah.

“Jangan tidur, Beidar. Kapan saja dia bisa mengamuk. Kalau tertidur nanti tak bisa mengelak.”

“Hah… Macam mana tak tidur? Aku lelah sekali. Begini saja, kita bergantian. Sebelum surya bangkit kita berjalan lagi.”

Giliranku pertama tidur. Rasanya tidur cuma sebentar. Si Bulu Kuning meneriakiku:

“Beidar, Beidar … Dia mulai lagi. Kita beruntung arahnya tidak ke sini. Kita pindah saja.”

“Aku tak percaya pada lava. Dalam pikiranku, dia itu memang sengaja hendak memangsa kita. Pegang tandukku, kita pergi!”

Sepanjang malam aku melompat, berlari. Tubuhku tergores duri-duri dan ranting. Aku terus berlari.

Gumpalan awan meluncur menerpa pepohonan. Tak terkira berapa sahabat kami yang mati kaku. Aku tak mau mati sebelum bertemu air. Air untuk ibu dan adik.

Perlahan surya muncul. Kuning telur tertutup abu. Belum pernah aku berani menentangnya. Tetapi, hari ini, aku menatap tepat ke wajahnya.

Kulihat Bulu Kuning terkulai lemas. Bulunya berdebu kusam tak bercahaya.

“Beidar, aku sudah capek. Pergilah. Kau sudah di arah yang benar. Di bawah sana ada Lau Borus. Anak-anak senang sekali berendam di situ. Dingin, sejuk dan airnya ramah. Tak pernah kering oleh kemarau.”

“Sudah dekat. Kita bisa pergi bersama, Bulu Kuning!”

“Tidak, aku sudah letih. Memegang tandukmu pun tidak berdaya lagi, apalagi terbang.”

“Aku bisa memegangmu dengan mulutku.”

“Cengeng! Pergilah, Beidar. Terimakasih engkau ada bersamaku di saat terakhirku.

“Naaaaaaaaannnnndeeeeeeeiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………………”

 

* * *

Beidar menjerit sekuat tenaga. Menghantam dinding batu dan tanah. Meratap pada pohon-pohon, menangisi si Bulu Kuning, menangisi kepedihan. Tak ada air mata. Dalam tangisan teringat Beidar pada Ibu, Ayah dan Adik. Akankah mereka selamat?

Terasa perih di sekujur badan, letih kaki dan punggung.

“O, Matahari. Bagikan aku sedikit enerji mencari Lau Borus. Biar dapat kubawakan pulang kabar gembira. Mengobati luka hati dan luka badan.”

Beidar mulai panik. Tak ada aliran sungai. Hanya debu, lumpur, debu, lumpur, debu, lumpur. Gemuruh dari atas sana menggoncang jantungnya. Ternyata suaranya lebih menakutkan ketika jauh dari sana. Suara berdengung memekakkan telinga Beidar. Belum pernah dia mendengar suara seriuh dan sesakit ini. Mahkluk apakah yang bersuara ini? Jantungnya melompat tak teratur, lebih keras daripada ketika dia berlari menuruni jurang pada saat berlomba dengan sahabatnya. Dadanya sakit, nafasnya satu-satu.

Tiba-tiba, hilang suara seram itu. Berganti dengan raungan anjing kampung. Tiga anjing tegap berdiri di depannya.

“Ikut kami,” kata Si Hitam.

Beidar memasang kuda-kuda. Tegap dan mengangkat wajahnya jantan.

“Ikut kami,” Si Hitam mulai membentak.

“Aku tidak kenal kau,” dengus Beidar waspada.

Si Hitam melirik kanan kiri. Dalam hitungan detik, mereka melompat menerkam Beidar. Beidar sudah memperkirakan ini. Tanduk dan kaki depannya membalas menerjang. Mereka mengkaing. Surut, tetapi terus menggonggong.

Sekali lagi mereka menerjang bersama. Sekali lagi Beidar menghantam balik. Si Coklat terkapar mengkaing. Perutnya tergores tanduk.

Lelaki bertopi di atas mahkluk menyeramkan itu melompat turun. Di tangannya besi panjang terjulur. Tepat menusuk dada Beidar dan memojokkannya ke sudut pagar ladang.

Dadanya sakit lagi. Nafasnya kembali satu-satu.

Beidar diringkus, dinaikkan ke atas truk. Tak guna meronta, dada sakit badan terkurung.

“Ayah, Ibu, aku sudah berusaha.”

Beidar sekali lagi menatap surya, menyampaikan pesan lewat angin senja.

“Ayah, anakmu sudah berjuang sebagai laki-laki.”

Surya hilang perlahan tertutup abu. Beidar kembali bernafas satu-satu.

 

* Kenangan untuk Beidar yang telah menghembuskan nafas terakhir di Kebun Binatang, Medan.

Leave a Reply