Sirulo TV: 2 Warga Samosir Demo Presiden SBY di Kabanjahe

2
249

Mata Air Bermunculan di Karo Gugungngguntur purba 129NGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. Ketibaan Presiden SBY di Kabanjahe kemarin [Kamis 24/1] untuk meninjau kondisi para pengungsi bencana erupsi Gunung Sinabung diwarnai aksi demo 2 warga Samosir. Mereka menuntut dihentikannya perusakan lingkungan yang terjadi selama ini di kawasan hutan lindung Pulau Samosir yang mengakibatkan daeah itu rawan terhadap bencana longsor.

Dengan membawa spanduk bertuliskan “Lihat Sinabung dengan Bencana dan Lihat Kabupaten Tanah Samosir dengan Pembalakan Hutannya” 2 warga Kabupaten Samosir  melakukan  aksi di tengah-tengah kedatangan Presiden SBY di Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabanjahe.

Kedua warga Kabupaten Samosir ini sempat mendapat larangan keras dari aparat kepolisian yang menjaga keamanan Presiden SBY di Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Sinabung.

Sabar Lumbanbatu mengaku melakukan aksi ini agar SBY dapat melihat spanduk mereka. Warga Samosir sudah merasakan kesulitan  akibat banyaknya perambahan hutan di sana sehingga mengakibatkan rawannya bencana.

Setelah adanya larangan keras dari Paspanpres, kedua warga Samosir ini membubarkan diri dan membawa spanduk  yang sempat mereka bentangkan  saat SBY tiba di Kabanjahe.

2 COMMENTS

  1. Syukur mereka tidak membawa-bawa nama pengungsi sinabung. Lebih sykur lagi kalau SBY mengerti bedanya Samosir dengan Karo, dan bahwa orang Samosir adalah orang Batak, bukan orang Karo.

    Kalau soal hutan dan pemeliharaan hutan dimana saja, Karo sangat mendukung dan termasuk juga perjuangan Karo dalam soal hutan-hutan Karo.

    Tetapi mencurigai sikap dan aksi mereka ini terutama yang berkedok ‘membela Karo’ yang terus menerus tak henti-hentinya dilakukan, bikin Karo tetap ada kewaspadaan karena maksudnya tersembunyi adalah PEMBATAKAN KARO. Contoh sudah banyak dan kalau perlu saya ulangi lagi: mengkarokan Jokowi di Cililitan, SIB bikin merga Perangin-angin, orgnaisasi ‘horas’ di Kabanjahe, artikel ‘bangsa Batak’ pengungsi Sinabung, kerja tahun Pelembang, mengambil alih pran Karo penjelasan cimpa Karo, Tahura mau dijadikan ‘Singa’ , mengangkat Karo jadi ketua dsb .

    Ini semua tidak bisa hilang dalam jangka waktu yang masih sangat panjang kedepan. Artinya kita masih akan hidup bersama dalam situasi saling mewaspadai demikian Tetapi perlu saya jelaskan bahwa ofensif hanya dari pihak orang Batak, tak ada sama sekali dari pihak orang Karo. Dan ini sepenuhnya sesuai dengan sifat dan karakter yang berlainan. Mungkin memperdalam pengetahuan soal ini adalah satu jalan, atau satu-satunya jalan terpenting untuk bisa saling mengerti dalam jangka panjang.

    Dan satu lagi yang banyak buktinya ialah kalau ofensif itu dilawan atau dijelaskan secara ofensif juga maka ofensif sepihak akan berkurang. Setidaknya peristiwa-peristiwa diatas tidak akan dicoba-coba lagi. Tetapi cobalah kalau semua ofensif mereka ini, orang Karo mendiamkan saja, pura-pura tak tahu, atau tak urusan. Mereka akan semakin menjadi-jadi. Ini pasti karena sesuai dengan hukum-hukum kontradiksis dan dialektika, tes-antites-syntes. Contoh hidup ialah orang Pakpak atau Simalungun, mereka tinggal menunggu hari kepunahannya kalau meneruskan bersikap tak urusan terhadap ofensif orang Batak.

    MUG

    • “Tetapi mencurigai sikap dan aksi mereka ini terutama yang berkedok ‘membela Karo’ yang terus menerus tak henti-hentinya dilakukan, bikin Karo tetap ada kewaspadaan karena maksudnya tersembunyi adalah PEMBATAKAN KARO”
      ga penting dan ada manfaat nya juga membatakan karo, pernyataan tolol..

Leave a Reply