Giliran Trenggiling Meninggalkan Sinabung

0
199

alexander firdaustalexander firdaust 36ALEXANDER FIRDAUST. BERASTAGI. Setelah penemuan dua ekor bedar beberapa hari lalu di sekitar lereng Gunung Sinabung, warga kembali menemukan satwa liar yang dilindungi.

Satwa liar dilindungi yang ditemukan kali ini adalah trenggiling atau disebut sokkir atau juga uskir dalam bahasa Karo. Trenggiling ini ditemukan warga di pemukiman penduduk, tepatnya Desa Gamber (Kecamatan Simpangempat, Kabupaten Karo) [Sabtu 25/1].

Menurut keterangan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, O. Simbolon, trenggiling (Manis Javanica) ini ditemukan oleh warga. Mereka mengantarkannya ke kantornya di Kabanjahe.

“Ini trenggiling betina. Usianya sekitar tiga bulan. Kondisinya sehat,” kata Simbolon kepada wartawan di Kabanjahe [Sabtu 25/1].

Karena warga telah mengetahui trenggiling merupakan satwa langka yang dilindungi, mereka tidak meminta kompensasi atas penemuan tersebut. Warga juga berharap agar pihak Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) dapat mengembalikan binatang tersebut ke habitatnya yang aman. Trenggiling itu kemudian dibawa ke Hutan Wisata Deleng Lancuk yang berada di sekitar Danau Kawar. Lalu dilepaskan di sana.

Semenjak meletus pada bulan September 2013 yang lalu, berbagai hewan dinyatakan telah turun dari Gunung Sinabung. Sebelumnya warga juga telah menemukan berbagai satwa liar, seperti kucing hutan, ular, dan dua ekor bedar.

 

Anti Racun

Trenggiling atau dalam bahasa Karo adalah sokkir termasuk salah satu jenis hewan yang sering dikaitkan oleh orang Karo dengan dunia gaib dan pengobatan.

Bagi masyarakat Karo tradisional lidah trenggiling umumnya dipercaya sebagai anti racun, sementara sisiknya kerap dijadikan mainan kalung atau gelang bagi anak-anak untuk menangkal roh-roh jahat. Saat memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling menjulurkan lidahnya yang bersaput lendir. Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.

Mengingat lidah trenggiling tahan akan sengatan serangga atau gigitan semut, lidahnya dianggap oleh orang-orang Karo sebagai anti racun.

Kesukaannya memakan semut inilah yang membuatnya disebut ant eater (pemakan semut) dalam bahasa Inggris dan meer eter (pemakan semut dalam bahasa Belanda)

 

Mitologi Karo

Sokkir atau uskir ada disebutkan di dalam kisah mitologis Karo tentang terjadinya Tungkat Penalun.

Kisah ini menuturkan sepasang saudara-saudari kembar yang saling mencintai berburu uskir di dalam hutan bersama tujuh anjing mereka (Biang Si Pitu). Sang sokkir berlari memanjat sebatang pohon tenggolan. Biang Si Pitu ikut memanjat pohon dan tak kembali lagi ke bawah. Sepasang anak kembarpun mencari anjing mereka dengan memanjat pohon tenggolan. Rupanya, sokkir dan anjing mereka telah lengket di batang tenggolan. Merekapun ikut lengket di sana.

Atas permintaan ibu sepasang anak kembar, Guru Pakpak Pitu Sendalanen kemudian menebang batang tenggolan dan menjadikannya Tungkat Penalun. Di ukiran Tungkat Penalun tergambar sepasang anak kembar, Biang Si Pitu dan sokkir itu.

Menurut antropolog Juara R. Ginting, Merwaldt membuat kisah terjadinya Tungkat Penalun menjadi sangat terkenal. Dia menterjemahkannya dari pustaka Karo dengan judul Si Aji Dunda Ketakuten. Nantinya, antropolog terkenal dari Universitas Leiden, Rassers, menganalisis kisah ini dalam kaitannya dengan garis keturunan ganda (gabungan patrilineal dan matrilineal) atau disebut juga dual organization di Asia Tenggara.

Adapun penelitian Juara sendiri menunjukkan relevansi kisah ini dengan konsep perkawinan impal yang berulang-ulang dari satu generasi ke generasi berikutnya, disebut ngumban, dimana arti impal dan turang menjadi sama alias  ‘setali tiga uang’. Di dalam kisah itu ada tersebut Guru Pakpak mengatakan: “Anakndu kap kelandu e, kemberahen.”

“Konsep inilah yang mendasari orang-orang Karo memanggil kekasihnya dengan istilah turang yang berarti saudara/ saudari sendiri. Ditinjau dari prinsip garis keturunan bapa, memang sepupu silang (impal) berasal dari dua kelompok keturunan yang berbeda. Tapi, bila ditinjau dari prinsip garis keturunan ibu, impal kita adalah turang kita. Itu yang digambarkan secara transendental di dalam kisah kejadian Tungkat Penalun,” kata Juara melalui facebook.

 

Leave a Reply