Ketteng-ketteng di Posko Pengungsi Sinabung

0
187

vicaris 2Immanuel Sembiring Kembaren

 

vicaris 3Pada dasarnya musik mampu meningkatkan emosional perasaan orang lain di saat senang, sedih, penghayatan terhadap apa yang diyakininya dan lain sebagainya. Musik juga menjadi pengobatan alternatif dalam beberapa jenis dan tingkatan stress serta penyakit (dikenal dengan istilah terapi musik). Teori ini dan beberapa teori lainnya menguatkan penulis untuk berpikir bagaimana memberikan trauma healing bagi para pengungsi terkhusus anak perana (pemuda) dari desa Suka Meriah di Posko GBKP Klasis Sinabun di Tanjung Mbelang (Kecamatan Tiganderket).

Penulis pun berkordinasi dengan kordinator posko Pdt. Sentosa Gurusinga untuk memberikan pelatihan musik serta membuat group akustik-etnik Karo bagi pengungsi. Rencana ini disambut baik oleh kordinator posko dan beberapa teman relawan lainnya.

Bermodalkan semangat dan optimisme yang tinggi, penulis menghubungi beberapa teman untuk membantu dalam masalah pendanaan mengadakan alat. Pada awalnya, semua begitu mendukung, namun tindakannya hanya sebatas perkataan yang semangat. Ini membuat penulis sempat surut. Hanya terus berpikir bagaimana supaya ini bisa direalisasikan secepatnya.

Pikiran yang kacau sempat membuat penulis nyaris masuk ke jurang saat pulang dari ATM untuk mengecek bantuan dana. Keadaan ini membuat penulis berpikir seribu kali untuk menjadikannya.

Hingga suatu hari, penulis cerita-cerita dengan salah satu pengungsi Amos Surbakti. Tanpa disangka, Amos Surbakti begitu antusias untuk membantu mengadakan alat musik Karo, yakni keteng-keteng. Setelah bercerita, kamipun pergi mencari buluh belin (bambu) untuk dibuat menjadi keteng-keteng.

Kami sadar, kami tidak punya pengalaman dalam memilih terlebih membuat keteng-keteng, namun semangat kami membuat kami bereksperimen untuk mengetahui serta mempelajari pembuatan keteng-keteng. Dengan harapan, ketika kami mampu membuat keteng-keteng, itu akan kami coba bagikan ke teman-teman lainnya dan kami pakai dalam group yang akan kami bentuk.

Tak hanya itu, penulis merasakan bantuan Tuhan melalui semua orang untuk menjadikan group akustik-etnik Karo ini. Pak Herri Ketaren dari Jakarta langsung menanggapi pengadaan instrument musik ini. Tak menunggu lama, calon yang disumbang pak Herri Ketarenpun tiba di posko kami.

Kembali pada eksperimen pembuatan keteng-keteng. Buluh mbelin kami dapat dan pada hari Sabtu [8/2]. Kamipun mulai mencoba.

Amos Surbakti sebagai pembuat mulai mencungkil bagian buluh mbelin untuk menarik senar keteng-keteng. Penulis dan salah seorang relawan, Dian Sembiring menemani sambil mencoba memberi masukan. Pada awalnya terasa sulit, namun saat kami sudah berhasil menarik senarnya, kami merasa puas.

Tidak cukup sampai di situ. Kesulitan berikutnya muncul. Penentuan suara yang bagus menjadi pergumulan bagi kami. Penulis yang sempat ikut dalam pelatihan musik Karo bersama alm. Jasa Tarigan pada tahun 2007 mencoba mengingat bunyi keteng-keteng yang baik yang pernah alm. Jasa Tarigan berikan. Pengalaman tersebut membuahkan hasil. Keteng-keteng kamipun jadi.

Namun, sebagai amatiran, kami menyadari segala kekurangannya.

Kami mengeringkan keteng-keteng. Pada malam hari, kami membawa keteng-keteng kebanggaan kami diantara pengungsi. Sambutan yang luar biasa dari pengungsi. Mereka berkerumun untuk melihat bagaimana permainan keteng-keteng yang kami lakukan (walau permainan kami belumlah terlalu baik).

Ada hal yang membuat penulis sayangkan, generasi penerus Karo ada yang tidak kenal keteng-keteng. Namun itu mendorong semangat penulis untuk terus mengembangkan musik Karo ke depannya.

Apresiasi para pengungsi terkhusus penerus muda ini tentulah sangat baik. Ini memaksa penulis berpikir lebih keras untuk memperkenalkan, mengajarkan, dan mengembangkan musik Karo bagi teman-teman pengungsi di posko tempat penulis berada. Satu pengharapan penulis, ini kelak bisa dikembangkan dan terus dilakukan. Sebab, musik Karo adalah identitas budaya hidup orang Karo yang sebenarnya (bukan musik disco, keyboard berirama Karo, atau music Karo in DJ).

Kembali mengenalkan memancing mereka mencintai budaya Karo terlebih musik Karo.

Satu yang dapat penulis rasakan dari kejadian ini, musik Karo harus terus giat dikembangkan, baik permainannya maupun pembuatan alatnya. Kemauan keras tentu akan membuahkan hasil. Amos Surbakti misalnya, akan terus berkreasi menciptakan keteng-keteng untuk dipakai dan terus mencoba membuat sesuai dengan seharusnya. Kolaborasi musik Akustik-Etnik Karo tentu akan mengalihkan emosi sedih mereka menjadi emosi gembira dimana mereka dapat menghibur sesama terlebih Penciptanya.

Satu lagi yang diharapkan penulis, sesudahnya mereka dari pengungsian, pengalaman bermusik dan menciptakan instrumen musik Karo mungkin bisa mereka pakai untuk membantu mereka secara finansial. Tentu semua kembali pada semangat yang harus terus dikobarkan dan cinta terhadap musik terkhusus musik Karo itu sendiri.

Penulis hanya menyemangati dengan ide, masukan bermusik, sedang perkembangan berikutnya sepenuhnya ada di mereka. Hanya harapan dan semangat pulalah yang bisa menguatkan penulis hingga saat ini. Music is my soul. Music is my service. Culture is my self. Tuhan memberkati semua rencana.

Posko GBKP Klasis Sinabun Tanjung Mbelang [Sabtu 8/2].

Leave a Reply