Mental Pandi Peranginangin Terganggu Setelah Ditipu Wali Kelas

3
153
imanuel 309
Pandi Prangin-angin didampingi ayahnya.

Supir KPUM 23 Sukses Perawani Pacar di Malam Tahun BaruIMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Awalnya, Pandi Peranginangin (11) siswa kelas 4 SDN Rimomukur (Kecamatan Namorambe) adalah salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Ia mampu bersaing dengan teman sekelasnya sehingga meraih rangking 2. Demikian juga saat dilakukan perlombaan cerdas cermat bidang studi Matematika tingkat kecamatan antar sekolah yang digelar beberapa hari lalu, Pandi juga meraih juara 2 dan akhirnya mendapat penghargaan. Namun, sejak mendapat penghargaan itu pula, mental Pandi malah jadi terganggu.

Cita-citanya selama ini untuk meraih bintang di langit menjadi berubah drastis. Anak ke 4 dari 6 bersaudara buah hati pasangan Payo Peranginangin dan Diana Br Tarigan ini semula merupakan anak periang. Kini dia brubah menjadi pemurung. Bahkan, Pandi juga kini sudah malas belajar di sekolah maupun di rumah. Pandi juga lebih banyak murung dan selalu terlihat melamun dengan pandangan kosong.

Ini semua terjadi sejak hadiah yang seharusnya diterimanya malah dirampas oleh guru wali kelasnya CS.

Informasi yang diperoleh Sora Sirulo [Minggu 9/2] mengatakan, perubahan karakter dan terganggunya mental Pandi berawal ketika ia dihunjuk oleh sekolahnya sebagai perwakilan untuk mengikuti perlombaan matematika tingkat SD se Kecamatan Namorambe beberapa hari lalu [Selasa 4/2].

Dalam perlombaan tersebut, atas kepintarannya, Pandi akhirnya mendapat juara 2. Panitia menyerahkan  hadiah uang tunai Rp 200 ribu kepada Pandi. Jelas saja Pandi senang bukan kepalang. Setidaknya dalam benaknya, ia dapat membuat senang kedua orangtuanya yang selama ini hanya bisa tinggal di sebuah gubuk reot di ladang orang lain karena tidak memiliki tempat tinggal.

Uang tersebut selanjutnya dimasukkan Pandi ke dalam saku celananya. Menurut rencananya, Pandi akan menyerahkan uang Rp 200 ribu tersebut kepada ayahnya untuk sekedar menambah untuk membeli beras agar dapat dinikmati bersama keluarganya kelak.

Mirisnya, senyum kecil Pandi hanya sebentar. Usai acara perlombaan dilaksanakan, oknum guru wali kelas Pandi berinisial CS malah meminta uang tersebut kepada Pandi. Akibat ulah gurunya itu, angan-angan Pandi yang semula memberi kejutan kepada orangtuanya gagal sudah. Uang tersebut sudah berpindah tangan ke cengkraman CS.

Sampai di rumah, Pandi pun berubah murung dan sedih sejak peristiwa itu. Tentu saja perubahan pada anaknya membuat pertanyaan besar dari ayahnya Payo Peranginangin. Semula, Pandi berusaha merahasiakan kelakuan guru wali kelasnya itu. Namun, karena beberapa hari berikutnya Pandi tak juga berubah, Payo Peranginangin terus memaksa Pandi untuk bercerita. Pandi  akhirnya buka mulut dan menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya.

Kejadian itu sempat merebak di desa tempat tinggal Pandi di Desa Rimomukur. Hal itu juga sampai ke telinga CS oknum guru yang mengambil hak Pandi. Lantas, beberapa hari berikutnya, di dalam kelas, CS menyerahkan uang tersebut kepada Pandi. Sayangnya oknum Guru tersebut bukan menyerahkan uang sebesar Rp. 200 Ribu itu seluruhnya. Tetapi hanya Rp. 80 ribu saja.

“Memang, uang yang sebelumnya diterima anak saya dikembalikan, tapi cuma 80 ribu saja. Sejak itu, anak saya jadi pemurung dan malas belajar. Ketika Pandi disuruh mengikuti perlombaan tingkat kabupaten oleh gurunya, ia juga tidak mau lagi,” kata Payo kepada Sora Sirulo.

Payo mengaku cukup kesal atas tindakan guru wali kelas anaknya. Lebih jauh dikatakan Payo, seharusnya, pihak sekolah memberikan lebih dari itu kepada anaknya. Soalnya katanya, Pandi sudah bisa mengharumkan nama sekolah.

“Saya juga heran, selama ini anak saya tidak pernah mendapat bea siswa berprestasi dan beasiswa miskin dari sekolahnya. Padahal, sampai saat ini, kami sekeluarga belum memiliki tempat tinggal dan menumpang di gubuk ladang warga. Jangan-jangan dana bantuan pemerintah untuk sekolah baik dana BOS, Beasiswa Miskin dan Beasiswa berprestasi, juga selama ini turut digelapkan oleh guru tersebut,” duganya.

Kepala Sekolah SD Negeri Rimomukur, Juan Bukit SPd, belum bisa dikonfirmasi lebih jauh. Saat hendak dikonfirmasi melalui selularnya, Juan Bukit mengaku masih sakit dan masih menjalani opname di salah satu rumah sakit.




3 COMMENTS

  1. miris bgt hal spt itu terjadi dgn anak umur 11, sy yg sewktu kuliah saya pnh kecewa berat dgn dosen yg bersikap diskriminasi SARA salah sasaran pada saya lgsg drop dan malas belajar pdl saya sudah berumur 20an waktu itu, apalagi anak sekecil itu, mentalnya pasti terluka, smoga pihak2 yg berkaitan menanggapi mslh ini dgn serius, terlihat sepele namun jika dibiarkan akan menjadi2..

  2. kiranya berita ini jangan sampai disini aja, tp terus di usut ke sekolah bersangkutan, uang sekecil itu saja di rampas apa lagi dana BOS dan R-BOS ratusan juta, dikemanakan itu, toh si anak juga tidak dpat bantuan dari dana BOS.

Leave a Reply