KBB dan Waktu

2
102

Oleh: Penatar Perangin-angin

 

penatar 5Soal legitimasi KBB (Karo Bukan Batak) hanya menyangkut waktu. Proses penerimaannya butuh waktu dan waktunya tidak bisa dipercepat atau diperlambat.

Idiom bahwa KARO merupakan bagian dari BATAK sudah begitu mengakarnya dalam pemahaman banyak orang Karo khususnya dan internasional umumnya. Pengelompokan Karo sebagai bagian dari suku Batak terjadi pada masa belum mengenal baca tulis di kalangan Karo.

Lalu, apakah pada saat itu suku Karo sudah sepakat atau tidak untuk dikelompokkan ke dalam Batak? Apakah pernah dilakukan musyawarah soal itu? Kalau orang-orang Karo yang tidak memiliki pendidikan formal saat itu ternyata diam, apakah sudah cukup mewakili bahwa kita sepakat untuk menjadi bagian Batak?

Ayolah, mari kita coba untuk sekali ini saja berfikir dengan jernih, obkektif dan logis. Kita sama-sama tahu bahwa pengelompokan tersebut bersifat sepihak dan bukan pihak Batak sendirian pula yang punya hak menyimpulkan. Memang, pihak Batak melihat keadaan ini sebagai peluang untuk mereka manfaatkan sebagai alat politik mereka untuk kepentingan mereka pula. Bahkan, jika kita tanya kepada mereka, mereka sendiri tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk penggolongan itu. Artinya, bahwa mereka juga tahu dan menyadari kita bukan bagian dari mereka secara suku/ ras atau nenek moyang.

Penggolongan ini lalu diperkuat pula oleh pihak salah satu gereja kesukuan di Karo itu sendiri. Apakah berdasarkan penelitian atau tidak, kuasa gereja pada suatu saat, terutama setelah peristiwa G30S, amatlah besar sehingga orang-orang Karo mau tidak mau harus menerima begitu saja oleh pengaruh besarnya kekuatan gereja memutuskan segala sesuatunya pada tatanan budaya Karo.

Saya pernah mengatakan kepada teman (seorang rohaniawan gereja Karo) dalam bincang-bincang ringan kami soal hilangnya budaya dan tradisi asli Karo yang berdampak pada bobroknya mental dan prilaku masyarakat Karo. Pada akhir perbincangan, saya mengatakan bahwa kehancuran dan ketidakpedulian akan akar budaya kita ini adalah buah hasil yang disemai dari bibit gerejawi. Kini kita tuai sebagai permasalahan baru yang begitu mengerikan bahkan gereja sendiri tidak sanggup untuk mengendalikannya lagi.

Penyampaian saya ini mungkin terkesan buruk dan ditolak oleh pihak gereja. Saya bisa memakluminya. Tapi, sebaiknya pula, gereja tidak cukup untuk prihatin saja dengan kondisi ini. Sadar atau tidak, gerejalah yang pertama kali ingin menarik orang-orang Karo keluar dari tradisinya. Gerejalah yang pertama berani mengatakan tradisi Ksaro adalah  sebuah peradaban tua yang salah dan sesat dengan memeprkenalkan konsep “maju”.

Kembali soal pelabelan Batak. Kita tidak usah terlalu jauh membahas, nyata sekali yang kita lihat bahwa gereja [Batak] Karo begitu enggannya untuk melepaskan “merk” dagangnya sehingga terkadang banyak orang menganggap bahwa KBB telah keliru, sesat dan tidak mendasar.

Sebenarnya, inilah kesempatan bagi gereja untuk menunjukkan bentuk tanggungjawabnya soal kehancuran dan kebobrokan masyarakat dalam hal budaya. Gereja perlu memulai untuk meluruskan bahwa Karo Bukan Batak. Dimulai dari gereja dan diakhiri di gereja pula.

2 COMMENTS

  1. Politik ‘pembatakan’ sangat berbahaya, kita sudah bisa melihat sendiri bagaimana pengaruhnya terhadap suku Pakpak dan Simalungun. Gereja orang Karo itu harus bisa melihat ancaman yang begitu mengerikan dihadapan orang Karo. Berjasalah untuk survival Karo, bukan untuk kepunahan Karo seperti keadaan orang Simalungjn dan orang Pakpakk.. Daerah Pakpak adalah daerah suku bangsa yang terluas di Sumut pada mulanya, bagaimana sekarang? Oarang Pakpak sendiri sudah ‘lebih enak sebagai Batak, begitu juga diantara banyak Simalungun. Mereka sudah jadi tamu didaerah mereka sendiri. Sudah ada agerakan Simalungun Bukan Batak, begitu juga gerakan Pakkpak Bukan Batak. Ajpakah sudah terlambat? KBB jelas belum terlambat.

    Dunia internet adalah dunia Karo, artinya dunia introveersi. Era internet kompatibel dengan way of thinking Karo, The quiet Revolution Susan Cane. Kalau dikumpulkan semua apa yang sudah pernah diomongkan oleh orang Karo selama 100 th pada era lalu, jumlahnya tidak lebih dari apa yang sudah diomongkan (ditulis) orang Karo selama 100 hari dalam era internet. Karena itu kemenangan KBB dan kemenangan Karo sebagai orang introvert dalam abad introversi ini tak diragukan. Tulis di internet sebanyak mungkin. Orang Karo tak bisa mengatakan banyak, tapi bisa menuliskan ribuan kata, lebih mendalam dan lebih ilmiah. Itulah yang tak terkalahkan! Tapi ditempat yang tak bisa menulis, harus juga belajar MENGATAKAN.

    “Sebenarnya, inilah kesempatan bagi gereja untuk menunjukkan bentuk tanggungjawabnya soal kehancuran dan kebobrokan masyarakat dalam hal budaya. Gereja perlu memulai untuk meluruskan bahwa Karo Bukan Batak. Dimulai dari gereja dan diakhiri di gereja pula.”
    Bagus sekali perumusan ini. Dan ini juga hanya mungkin di era internet.

    Orang Karo harus menulis sebanyak mungkin soal ini, karena Karo tidak butuh politik PEMBATAKAN. Tapi ada yang sangat butuh, seperti terhadap suku Simalungun dan Pakpak. Tak perlu banyak cerita bagaimana orang Batak butuh politik PEMBATAKAN ini atas orang Pakpak dan Simalungun. Kalau ada yang belum tahu berarti membohongi dirinya sendiri. Itulah yang sudah banyak terjadi dikalangan orang Pakpak dan Simalungun, tak mau tahu soal PEMBATAKAN. Orang Karo masih ada yang begitu, tetapi arahnya sudah jelas, semakin berkurang yang tak lmelihat politik PEMBATAKAN. Tujuan politik itu JELAS. Ethnic competition, bukan hanya untuk kemenangan dominasi semantara, tetapi juga dengan tujuan memusnahkan etnis lain berangsur-angsur tapi pasti, secara daerah maupun kultur. Ingat lagi Simalungun dan Pakpak.

    MUG

  2. Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan. Apalagi sebuah lembaga/perkumpulan yang saya yakin banyak kita termasuk di dalamnya. Pertanyaanya, beranikah kita berubah dan memulai perubahan itu?

    Sederhananya: Saya sering mengkritik penggunaan kata MARGA, ULOS, BORU, Opung, Lae, Horas, dll disesama orang Karo, tetapai mereka selalu katakan “Sama saja!”, “Itu aja dimasalahkan”, “gilak”, sok[…]” Kalau untuk hal sepele saja kita masih belum sanggup, bagaimana hal yang lebih besar.

    Saya punya banyak teman yang menentang Karo adalah Batak(Batak Karo), tetapi lagi-lagi hanya retorika. Saat ditanya actionnya apa… selalu beginilah, begitulah, dlsb. Generasi Karo belum siap bermain di zona kritis sehingga totalitas KBB masih diraguna. Jangankan bersuara KBB, bilang AKU CINTA KAMU saja belum berani. 😀
    Mejuah-juah.

Leave a Reply