Sirulo TV: Kehidupan Namanteran Menggeliat Kembali

0
117

ngguntur purba 166Mata Air Bermunculan di Karo GugungNGGUNTUR PURBA. NAMANTERAN. Sudah beberapa bulan warga Desa Namanteran mengungsi. Hampir sepekan lalu [Sabtu 15/2] para pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung ini telah dapat kembali ke kampung halaman mereka. Kini, sebagaimana terlihat oleh Sora Sirulo hari ini [Kamis 20/2], para pengungsi yang sudah kembali ke kampung  halaman melakukan kegiatan bersih-bersih di halaman rumah mereka.

Mereka juga membersihkan genteng maupun atap rumah yang rusak atau kotor tertutup debu. Selain melakukan pembersihan, mereka juga melakukan perbaikan di sana sini.

Warga Namanteran terlihat  telah melakukan aktivitas seperti biasanya ke ladang. Mereka melakukan pengecekan lahan yang akan mereka tanam kembali. Mereka juga melakukan pemupukan terhadap tanaman yang mereka rasa masih bisa bertahan hidup.

Pengolahan kembali ladang yang selama ini terlantar telah menjadi sebuah lapangan kerja tersendiri bagi sebagian warga setempat. Mereka dapat bekerja sebagai aron dengan bayaran Rp. 70 ribu per harinya.

Tapi, pengolahan kembali ladang yang telah lama terlantar ini juga menjadi lapangan kerja tersendiri bagi para aron di Kota Kabanjahe yang selama ini banyak digeluti para pendatang dari Samosir dan Nias di samping sebagian diantaranya adalah juga orang-orang Karo. Mereka berkumpul di dekat Jembatan Lau Dah (Kabanjahe) untuk kemudian diangkut dengan kenderaan ke ladang-ladang yang memerlukan tenaga kerja mereka sebagai aron.

Lain halnya dengan penduduk setempat yang mengenakan upahan Rp. 70 ribu per hari, para aron dari kota ini mengenakan upah Rp. 80 ribu per hari dengan alasan mereka harus berhadapan dengan abu vulkanik. Upah biasanya aron sebelum terjadi erupsi Gunung Sinabung adalah antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 60 ribu.

Para warga berharap agar hujan turun di kampung mereka. Beberapa warga terlihat memanen hasil tanaman yang masih bisa dipanen setelah begitu lama mereka tinggalkan.

Leave a Reply