Karo Masuk Rumpun Batak? Bagaimana Bisa? (2)

2
146

Oleh: Superta Silangit

 

superta 3Kembali ke awal, haruskah dengan alasan menyandang merga kita masih bagian dari pada Rumpun Batak yang sudah jelas itu hanya Pro dan Kontra diantara saudara kita yang ada di Tapanuli? Tentu tidak saudaraku. Kita tidak ada kaitan dengan semua itu. Itu hanya urusan mereka, dan bukan urusan kita.

Yah, kita harus tegas diri untuk menghindar dari pada yang namanya masalah kepercayaan yang ada di kelompok/ wilayah lain. Kembali kepada mereka yang sangat bangga dikatakan Batak atau Bangso Batak, saya kira itu sudah jelas hak mereka. Tapi kita juga berhak kalau Suku Karo bukan lahir dari mereka/ Tapanuli.

Sangat berbeda jika ada individu dari kita (sebahagian orang) yang mungkin leluhurnya berasal dari Tapanuli. Memang, harus kita pahami mana urusan suku mana urusan pribadi. Tidak bisa dipungkiri, sebagian dari kita ada yang dulunya berasal dari Pagaruyung, Simalungun/Simelungun, Pak-pak, India dan mungkin ada lagi yang anda sendiri juga bisa melihat dari lembaran-lembaran buku sejarah tentang merga di suku Karo.

Namun begitu, di sini, saya terangkan bahwa bukan tidak banyak saudara kita yang dari Simalungun/Simelungun, Pak-pak, Pagaruyung, India dan lain sebagainya yang tidak ingin terkait ataupun, berhak mengatakan, bahwa mereka bukan rumpun Batak.

Sebagai penerangan tambahan tentang merga di suku kita (Karo) , ada sistem penabalan merga di suku Karo, yaitu IKAROKEN namanya. Sistem ini sangat jelas menghantarkan kita kepada “apapun merga awal yang kita bawa dulunya, harus menjadi merga cabang jika mau menjadi suku Karo”.

Lalu, apa merga utama itu? Tidak lain ialah MERGA SILIMA. Mungkin segala merga cabang yang ada di suku Karo menghantarkan kita kepada apa dan darimana garis-garis keturunan leluhur kita dulunya.

Tambahan
sebenarnya, merga di suku Karo mempunyai misi utama yang sama dengan mereka bersuku lain, Yah, tidak lain misi itu ialah menjaga supaya tidak adanya perkawinan semerga di suku Karo. Sama halnya dengan saudara kita yang menamakan kelompoknya/ sukunya suku Melayu, tetapi merga di suku Karo diganti nama oleh mereka menjadi suku. Melayu juga sangat memantangkan yang namanya kawin sesuku. adapun hal itu ‘ hanya namanya saja yg berbeda (merga di Karo dan suku di Melayu). Tetapi tujuannya sama. Beberapa Merga/suku di Melayu : Piliang, Demo/Domo, Rangkayo bosar, Rangkayo Mudo, dll.

Penyimpangan
Kemudian, mengapa ada huruf B di salah satu rumah ibadah suku Karo? Mungkin ini salah satu dilema bagi sebagian kita.

Namun demikian, bisa saya terangkan bahwa orang Karo yang menjadi Jemaat di salah satu rumah ibadah itu tidak lain adalah bertujuan untuk beribadah kepada Tuhan, bukan lantaran alasan suku Karo adalah rumpun B. Ini harus dibedakan.

Saya sangat yakin dengan ciri khas Suku Karo itu sendiri, yaitu Mehamat. Mungkinkah kita orang Karo ini terlalu Mehamat kepada semua orang?

Ada sejarah yang mengatakan nama rumah ibadah itu memakai huruf B dimulai pada tahun 1941, yang sejarahnya beberapa orang dari suku Karo diberi pendidikan yang berhubungan dengan ajaran agama itu di daerah Tapanuli. Sebelum 1941 saya sangat percaya kalau ajaran agama itu sudah dikenal oleh masyarakat Karo walaupun tanpa ada huruf B di penamaan rumah ibadahnya. Tapi, tidak ada salahnya, kita-kira ini mengikuti jejak suku tetangga kita yang sudah menghilangkan huruf B di dalam penamaan salah satu rumah ibadahnya, atau menggantinya dengan kata Badia. (Hanya usul)

Penutup
Kepercayaan terhadap salah satu agama import sebenarnya tidak bisa menjadi alasan kita untuk tidak Mehamat kepada sesama pemeluk agama import yang sudah disahkan oleh pemerintah NKRI ini. Leluhur kita sudah membuat suatu pernyataan bahwa ada dua Dibata suku Karo, Dimana yang pertama adalah Dibata/ Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya (Esa) dan yang ke dua adalah Dibata Ni Idah, yaitu Kalimbubu pada masyarakat Suku Karo.

Semoga bermanfaat kepada kita semua kalak Karo. Saya pribadi dapat mengatakan kalau Suku Karo tidak ada kaitan sama sekali dengan apa dan bagaimana yang terjadi di Tanah Tapanuli. Sudah jelas dari sini saya juga sebagai orang Karo telah memegang teguh kalau suku Karo itu bukan Batak.

Penamaan rumpun itu sendiri tidak lain adalah Penjajah Belanda dan masyarakat yang berada di Tapanuli lah yang membuat namanya. Apa dan kenapa itu yang menjadi namanya’? Ooggghhh …. Saya kira hanya Tuhan beserta staf-stafnya saja lah yang tahu . Soalnya, dengan nama rumpun yang dibuat oleh mereka itu sepintas saya kira di sini hanya akan membuat merekalah yang seakan-akan tampil di depan sehingga orang-orang di luar Sumatera berkata “apa itu Karo? Setahu saya Batak.”

Sedikit punya harapan “kenapa tidak rumpun Karo saja namanya ea?” Satu hal yang paling unik juga dapat kita perhatikan, dimana masyarakat karo yg membaur dengan suku lain bagai tak dikenal meskipun dia sudah berprestasi dikancah global. Sehingga tidak jarang kita temui, masyarakat karo disapa dengan Horas. Alangkah tertindasnya perasaan ini disaat dia tidak mengetahui jika sebenarnya kita akan lebih senang jika disapa dengan Mejuah juah. karena publik diluar Sumatera juga tahu kalau suku karo berciri khas Mehamat (saling menghormati dlm kajian luas) kepada semua orang, dan lebih halus dlm mengucapkan kata kata kepada semua orang bahkan kepada tuhan nya dalam memanjatkan doa.

Demikianlah tulisan ini saya buat tanpa menunggu persetujuan dari pada banyak pihak. Tapi semoga bermanfaat terkhusus masyarakat suku Karo,,

Pendungi Kata, ersentabi kel aku rikutken jari sisepeuluh Nande , Bapa , Turang , Senina, Impal, ras Teman Meriah,, sibar bagem lebe bas aku nari si labo lit ergana adi la kin lit kena, sebab kam kap aku ~ aku kap kam,,

Bujur ras Mejuah juah.

Jika anda berkenan membagikanya, saya ucapkan banyak terimakasih. Salam damai.

2 COMMENTS

  1. Usul sideban sipernah kubegi emkap B iganti Budaya. Enda muat cocokna sebab ciri budaya Karo berdominasi bas gereja enda, Budaya Karo ras Kekaroan, enda me ciri utama gereja enda, janah kerina ka jelmana mengikuti dan menjaga budaya kekaroan enda gelah la pernah masap. Tiap gereja suku nggambarken sukuna, bagi gereja HKBP, nggambarken Batakna, bage bas gelarna bagepe bas praktekna. Maka adi B iganti Budaya, maka enggo je gelar ras praktekna sesuai, la bertentangan gelarna ras praktek budaya Karo.
    MUG

  2. Kuakap pe bage katandu ena..enca si rumah ibadah nindu nda B diganti ku(B) Badia, epe ide si mejile kuakap..tapi nungkun aku sitek, Silangit e ku merga kai nge induk na senina, maaf aku pe labo mbue kel kuangkai tentang merga kita kalak karo enda pe

Leave a Reply