Status Sinabung Masih Awas, Jumlah Pengungsi 15.959 Jiwa

0
122
ngguntur purba 166
Foto: NGGUNTUR PURBA

alexander firdaustALEXANDER FIRDAUST. MEDAN. Gunung Sinabung dalam beberapa hari terakhir tampak tak mengalami erupsi. Namun, gempa guguran masih kerap terjadi. Begitu juga gempa tremor masih terjadi terus menurus serta aliran lava pijar masih kerap tampak. Dengan keadaan Sinabung yang demikian, status Awas atau Level IV masih belum dicabut.

Status Awas dari Gunung Sinabung ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Pusat [Rabu 26/2].

“Saat ini pada Gunung Sinabung tidak ada erupsi. Gempa guguran 28 kali, tremor menerus, aliran lava pijar ke Selatan 100-400 meter. Belum dapat dipastikan sampai kapan aktivitas Gunung Sinabung berhenti. Status gunung ini masih Awas atau Level IV,” ujarnya.

Sutopo memaparkan, dari data BNPB tercatat jumlah pengungsi sebanyak 15.959 jiwa yang tersebar di 33 titik posko pengungsian. Para pengungsi itu berasal dari desa-desa yang termasuk dalam zona merah.

“Pengungsi tersebut berasal dari desa-desa yang berada di dalam radius 5 km. Ini sesuai rekomendasi PVMBG,” ucap Sutopo.

BNPB sebelumnya memulangkan para pengungsi Gunung Sinabung, khususnya mereka yang berasal dari beberapa desa di luar radius 5 kilometer, seperi yang direkomendasi pihak PVMBG. Tercatat hingga Minggu 23 Februari 2014, sebanyak 17.150 jiwa (5.213 KK) pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

Disinggung mengenai rencana relokasi beberapa desa pacsa erupsi Gunung Sinabung, Sutopo mengungkapkan hingga kini masih terkendala lahan. Sebab, pemerintah daerah belum menyediakan lahan untuk relokasi.

“Rencana relokasi hingga kini masih terkendala lahan. Pemda Karo dan Pemprov Sumut yang bertanggungjawab menyediakan lahan untuk relokasi hingga kini belum menyediakannya,” ungkapnya.

Lanjut Sutopo, total penduduk yang harus direlokasi ada 1.255 jiwa (389 kepala keluarga). Penduduk itu tersebar di 3 desa, yaitu Desa Sukameriah (450 jiwa/137 KK), Bekerah (338 jiwa/115 KK), dan Simacem (467 jiwa/137 KK).

“Kondisi perumahan dan pertanian ketiga desa tersebut banyak yang rusak-rusak saat ini,” jelas Sutopo.

Leave a Reply