Kolom Ita Apulina Tarigan: BAJU BARUKU

2
214

ita 53Beberapa waktu lalu, aku mengikut seorang teman berkunjung ke desanya di kaki Gunung Arjuna. Serasa menemukan desa yang sebenarnya desa. Kami singgah dan dijamu makan oleh mertuanya dengan masakan desa yang enak sekali. Sambil duduk bersandar kelelahan campur kekenyangan mataku tertuju pada sebuah ruangan yang berisi gantungan jahitan dan potongan-potongan kain, dan ada dua mesin jahit. Ibu mertua terlihat sibuk mengukur dan memotongi kain.

Aku perhatikan lagi, model-model baju yang dikerjakannya sederhana tetapi sangat rapi hasil jahitannya. Model-model sederhana yang tak akan pernah ketinggalan jaman.

Setelah kembali dari sana, aku bertanya pada temanku, apa Ibu mau menjahitkan baju buatku? Bisa, tetapi bagaimana mengukurnya? Tanpa pikir panjang aku berikan sebuah baju batik lamaku dan 3 potong kain, aku bilang terserah Ibu modelnya, ukurannya ikut bajuku saja.

Sebulan kemudian, kain itu kembali menjadi 3 potong baju, semuanya nyaman dipakai. Lalu aku bertanya ongkos jahitnya, sungguh mati aku ternganga. Hanya 30 ribu rupiah per potong! Bagaimana mungkin, sementara di kota paling murah harganya 100 ribu rupiah per potongnya dan selalu aku sertai dengan komplain!

Kata temanku, memang ongkosnya hanya 30 ribu rupiah, seperti pelanggan ibu yang lain. Lama sekali aku renungkan pengalaman ini. Ibu hidupnya berkecukupan, rumahnya juga lumayan, ada mobil walau sederhana, ada sepeda motor. Aku berpikir lagi, bagaimana Ibu memutar uang yang sedikit itu? Belum lagi capeknya, waktunya.

Jauh dalam hati, aku menjadi malu. Apakah uang itu sebenarnya? Bagaimanakah kita memandang uang sebenarnya? Mengapa ada yang selalu kurang uang, padahal uangnya sudah banyak sekali, mengapa ada yang bisa hidup bergembira dan bahagia walau sederhana, walau tidak kenal budaya belanja?

Benar kata guruku dulu, uang bukan dari angka yang tercetak di atasnya, tetapi soal bagaimana nilainya. Mungkin bagimu 1 dollar tidak berarti apa-apa, tetapi ada orang yang sanggup membunuh demi 1 dollar.

Sampai sekarang, saya masih merenungkan baju baruku yang ongkos jahitnya hanya 30 ribu. Baju baru yang tampaknya akan menjadi favoritku seterusnya.

2 COMMENTS

  1. Ini adalah kisah sebenarnanya bagaimana pandangan atas uang didaerah pedesaan dan bedanya dengan dikota besar pada umumnya.

    “Apakah uang itu sebenarnya? Bagaimanakah kita memandang uang sebenarnya? Mengapa ada yang selalu kurang uang, padahal uangnya sudah banyak sekali,” (ITA) satu pertanyaan dan gambaran kenyataan dalam tingkat perubahan dan perkembangan fungsi uang, dalam proses abadi thesis-antithesis-synthesis.

    Uang telah berubah fungsinya dari alat tukar sejak mulanya. Fungsi ini masih terlihat di desa-sesa. Dari segi politik, sekarang uang telah menjadi alat penting KEKUASAAN, bahkan alat untuk bikin menang atau menipu atau menjatuhkan yang lain dalam ‘politik uang’.

    Proses perubahan fungsi uang juga harus lewat thesis-antithesis-synthesis. Tingkat antithesis atau perlawanan atas thesis semula adalah proses yang berjalan sekarang. Antithesis fungsi uang ini kelihatannya sudah mencapai puncaknya sekarang, walaupun tanda-tanda menurunnya masih sangat langka, seperti ‘semangat selfactualization’ sebagian orang, kemenangan politik tanpa uang seperti Jokowi menang di Jakarta, tanda-tanda seperti ‘kebahagiaan tanpa uang’, perubahan kebutuhan, mengutamakan lingkungan dsb.

    Proses antithesis fungsi uang ini masih akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu kedepan tergantung dari revolusi perubahan kesadaran manusia yang pada gilirannya tergantung dari perubahan ekonomi dan kesadaran ekonomi dunia.

    MUG

Leave a Reply