Ukraine Makin Serbut

1
92

loreta 17LORETA KAROSEKALI. AMSTERDAM. Referendum di Krim (Crimea), Ukraine, telah berlangsung dan usai hari ini [Minggu 16/3]. Hasil resmi referendum akan diumumkan besok. Tanda-tanda keruwetan masalah sudah mulai terlihat.

Hasil referendum sudah bisa diramalkan bahwa sebagian besar penduduk Krim yang memang mayoritas dari etnis Rusia ini akan memilih untuk bergabung dengan Negara Rusia. Menurut hasil polling, 93% dari warga Krim akan memilih untuk bergabung dengan Negara Rusia. Pesta kemenangan telah dirayakan di Kota Sebastopol hari ini karena sangat diyakini kemenangan akan berada di pihak yang ingin bergabung dengan Negara Rusia. Apalagi, ternyata, lebih 80% penduduk Krim datang ke TPS untuk mengikuti referendum. Ribuan orang turun ke jalan sambil melambai-lambaikan bendera Rusia menunjukkan keyakinan menang.

Besok [Senin 17/3], parlemen Krim akan memohon secara resmi kepada PM Rusia Vladimir Putin untuk menerima Krim bergabung ke Negara Rusia.

Perlindungan Minoritas

Amerika Serikat tetap tidak mengakui referendum Krim dan terus mendesak untuk mencari solusi politik. Juru bicara Gedung Putih mengatakan, Menlu AS John Kerry telah mengadakan pembicaraan dengan Menlu Rusia tentang perlunya reformasi konstitusional di Ukraine agar warga minoritas Ukraine yang berbahasa Rusia semakin dilindungi secara konstitusional.

Usulan AS ini tentu saja maksudnya bahwa AS juga prihatin terhadap posisi kaum minoritas berbahasa Rusia di Ukraine, tapi jalan keluarnya bukan dengan melakukan paksaan secara semena-mena sebagaimana yang dilakukan Rusia sekarang ini.

loreta 18Usulan John Kerry dapat dimengerti seperti ini. PM Ukraine yang telah melarikan diri ke Rusia adalah kepercayaan Rusia dan, oleh karena itu, kepemimpinannya selama ini dapat menjamin kenyamanan warga minoritas yang berbahasa Rusia. Di pihak lain, gerakan demonstrasi yang terjadi baru-baru ini, yang membuat kepemimpinan PM sebelumnya runtuh, sangat menginginkan Ukraine bergabung dengan Uni Eropah. Sangat berbeda dengan warga minoritas berbahasa Rusia yang anti Barat. Dengan kepemimpinan baru, apalagi sudah ada isu-isu yang tersebar, dikhawatirkan warga mayoritas Ukraine akan menekan warga minoritas ini.

Alasan Putin mengerahkan kekuatan militer ke Krim adalah untuk melindungi warga berbahasa Rusia ini. Adapun usulan Kerry adalah juga untuk melindungi warga minoritas yang sama, tapi bukan dengan cara yang dilakukan oleh Rusia sekarang ini, melainkan dengan cara mereformasi Ukraine dan merubah beberapa bagian dari Undang-undang Dasar negara ini.

Tuntutan Referendum Meluas

Sementara itu, hari ini juga (siang tadi), demonstrasi besar-besaran terjadi di bagian lain dari Ukraine yang banyak penduduknya berbahasa Rusia. Mereka juga menuntut diadakan referendum di daerah mereka karena mereka menginginkan juga bergabung dengan Rusia. Para demonstran berhasil memasuki gedung pemerintahan daerah setempat dan memacakkan bendera Rusia di puncak gedung ini. Polisi Ukraine mencoba menghempang para demonstran, tapi tidak berani berbuat banyak sehingga para demonstran berhasil menerobos lebih jauh.

Ketidakberdayaan polisi Ukraine adalah karena mereka mencurigai demonstrasi itu merupakan provokasi dari Kremlin (Rusia) untuk membuat alasan mengirim militer bergerak ke sana untuk melindungi warga berbahasa Rusia. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Putin kepada Kanselir Jerman Angela Merkel dalam sebuah pembicaraan telepon siang tadi.

“Kami hanya ingin menjamin keamanan warga berbahasa Rusia di Ukraine,” kata Putin kepada Merkel yang ditanggapi oleh para pengamat politik sebagai pertanda dia akan segera mengirim militer lebih ke arah Timur bila saja, menurut kriteria Putin, keamanan warga berbahasa Rusia di sana tidak terjamin.

Itulah pula yang membuat polisi Ukraine merasa serba salah dalam mengambil tindakan. Bisa-bisa dianggap terlalu kasar apalagi dianggap menghina para demonstran dan dijadikan pula alasan oleh Putin untuk mengirim militer ke sana.

Putin sendiri tidak sangat didukung oleh rakyatnya. 50 ribu orang Rusia kemarin melakukan aksi hunjuk rasa di Moskow memprotes tindakan Rusia yang, menurut istilah mereka, mencaplok Krim secara militer.

SS Nazi vs Uni Sovyet

Demonstrasi lain terjadi di Letland. Para veteran tentara SS Nazi memperingati rekan-rekan mereka yang gugur di Perang Dunia II, khususnya dalam perang melawan Rusia.

50 ribu rekan seperjuangan mereka gugur dalam perang itu. Ada 140 ribu orang tentara Letland di pihak Hitler saat itu dalam penyerangan Jerman ke Uni Sovyet. Mereka menganggap penyerangan Jerman ke Uni Sovyet berarti pembebasan Letland dari Uni Sovyet. Sayangnya, hingga tahun 1991 kemarin, Letland masih di bawah kekuasaan Uni Sovyet.

Para veteran SS ini mengkhawatirkan pencaplokan Krim oleh Rusia adalah langkah awal Putin menguasai negara-negara kecil lain di sekitarnya seperti di era Sovyet Uni dan kemudian menyerang Jerman.

Menteri Lingkungan Hidup Letland, Einars Cilinskis,  turut bergabung bersama para demonstran saat para demonstran melakukan perjalanan mars berhunjukrasa. Perdana Menteri Letland mengatakan akan memecat Cilinskis dari jabatannya sebagai menteri. Dunia internasional juga mengecam demonstrasi ini karena tentara SS berada di bawah komando Hitler yang menganut rasisme.

Berita Terakhir

Saat berita ini sedang hendak dikirim ke redaksi, didapat berita terbaru bahwa setengah dari surat suara telah dihitung dengan hasil 95,5% memilih bergabung dengan negara Rusia.  Malam ini juga, pesta kemenangan dirayakan di Kota Sebastopol, Krim, dengan ledakan-ledakan kembang api dan lambaian bendera Rusia.

1 COMMENT

  1. KULTUR, KULTUR, . . .

    “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.

    Pepatah Indonesia, pepatah kultur Timur yang akan menyelamatkan dunia, Timur dan Barat.

    Pendatang Jokowi orang Jawa, kultur Jawa, ke Betawi dia sandangkan sarung Betawi di bahunya. Di Kalbar, Kalteng, terjadi sebaliknya. Pendatang dan penduduk asli harus saling sembelih dulu dan eksodus, baru kemudian dipikirkan kembali dimana bumi dipijak disitu memang langit harus dijunjung.

    Pembantaian antara penduduk asli dan pendatang, hanya sebagai peringatan kebenaran pepatah itu, karena sudah dilupakan selama satu abad, seluruh abad 20, dimana yang berlaku hanya tradisi ‘loudmouth and braggarts’, kasar dan sangat tidak menghormati tradisi penduduk asli dimana kaki berpijak.

    Barat tidak mengenal pepatah ini, dan kolonialisme barat adalah biang keladi utama bahwa bangsa kita sejenak melupakan tradisi indah itu.

    Banyak orang Rusia sebagai pendatang di Ukraina, tetapi selama ini dan bahkan sejak dulu juga tak pernah ada soal. Way of thinking kedua kultur bangsa ini hampir sama, juga bahasanya, beberapa hurufnya lain dengan huruf-huruf Rusia. Tetapi mereka saling mengakui dan menghargai existensi kedua kultur di Ukraina. Mengapa sekarang jadi soal dan dipersoalkan?

    Dua ambisi lama peninggalan abad 20, peninggalan ambisi dua blok, sisa perang dingin. Itulah yang terjadi sebagai penyebab utama.

    “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Orang Rusia dan orang Ukraina tak pernah mengenal pepatah itu, tetapi mereka telah menjalankan dalam kehidupan mereka sejak adanya kehidupan bersama mereka, bahkan jauh sebelum dua blok lahir.

    MUG

Leave a Reply