Peduli Sinabung dari Indragiri Hulu Tiba di Kabanjahe

1
168

natanael milala 82NATANAEL MILALA. KABANJAHE. Forum Komunikasi Lintas Etnis (FORLET) Pematang Reba (Kabupaten Indragiri Hulu, Riau) memberikan bantuan kepada pengungsi korban letusan Gunung Sinabung di Kabanjahe hari ini [Kamis 20/3].

Rombongan peduli korban letusan Gunung Sinabung ini terdiri dari 98 orang dari berbagai kalangan/ instansi; utusan masyarakat, berbagai etnis, pejabat pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, PGRI, Pramuka dan wartawan. Mereka diberangkatkan oleh Bupati Indragiri Hulu H. Yopi Arianto kemarin [Rabu 19/3]. Rombongan datang dengan mengendarai kenderaan roda empat dan bus.

”Selama perjalanan, rombongan melewati dan singgah di sejumlah kabupaten untuk bersilaturahmi,” tutur Ketua Umum FORLET Agus Rianto kepada Sora Sirulo.
Kasdim 0302 Mayor Bismi Tambunan yang ikut di dalam rombongan menambahkan, semua anggota rombongan berangkat serentak.

“Kita menempuh jarak yang panjang hingga tiba di lokasi pengungsian dan  mendapat pengawalan yang baik selama di perjalanan,” kata Bismi Tambunan.

Adapun bantuan  yang diberikan berupa uang sejumlah lebih kurang Rp.54 juta, beras sebanyak 1.5 ton dan beberapa keperluan pengungsi lainnya.

natanael milala 84“Bantuan yang diberikan sebagai bukti kepedulian Pemkab Indragiri Hulu terhadap warga korban Sinabung,” terang Agus Rianto.

“Saya bangga atas partisifasi semua anggota rombongan. Tentunya, pengorbanan waktu dan tenaga dalam memberikan bantuan tersebut sangat berarti bagi mereka,” kata Suardi Ketua Harian FORLET.

Kedatangan rombongan diterima oleh Dandim 0205 Tanah Karo Letkol Asep selaku Ketua Tanggap Darurat Sinabung. Kedua Dandim ini sebelumnya sudah melakukan koordinasi sebelum rombongan tiba di Taneh Karo Simalen.

1 COMMENT

  1. Inisiatif FORLET ini adalah satu inisiatif dalam perkembangan saling hubungan antara berbagai etnis/kultur, dari hubungan ‘sukuisme’ ke era permusuhan dan saling bunuh dimasa lalu, terus sekarang ke tingkat usaha dengan inisiatif dan kegiatan konkret mendekatkan etnis-etnis yang terdiri dari berbagai kultur. Jadi inisiatif ini bercita-cita sangat mulia, tidak hanya sekedar menunjukkan hati yang tulus membantu korban penduduk Sinabung, meringankan penderitaan mereka yang sudah berbulan-bulan dipengunsian, tetapi juga sebagai kegitatan dan usaha konkret dalam menjalin hubungan baik antara berbagai suku negeri multi suku Indonesia, dan dalam hal ini antara Karo dengan suku-suku Indragiri Hulu dalam FORLET (Forum Komunikasi Lintas Etnis).

    Ethnic-revival atau Cultural- revival rakyat-rakyat dunia adalah tema sentral dari penulisan dan analisa ahli-ahli dunia setelah melihat sendiri katastrof yang diakibatkan oleh kebangkitan/revival ini.

    Sejajar dengan inisiatif penulis-penulis dunia dalam mempelajari dan menganalisa kebangkitan etnis-etnis dunia yang sudah mengorbankan jutaan jiwa manusa dalam perang etnis pada ahir abad 20 dan permulaan abad 21,
    dari diberbagai negeri seperti Indonesia juga muncul banyak analisa dan inisiatif untuk ikut menyumbangkan buah pikiran yang bertujuan mennghindari kejadian-kejadian yang sangat mengrikan dalam persoalan saling hubungan atau interaksi antar etnis, atau interaksi antara berbagai kultur.

    Salah satu perbedaan yang sangat nyata antara analisa Indonesia dengan analisa ahli-ahli dunia ialah, di Indonesia menekankan ‘persatuan dan persamaan’ sedangkan analisa internasional menekankan perbedaan yang nyata antara berbagai kultur. Analisa nasional ini masih banyak dipengaruhi kontaminasi demagogi ‘persatuan dan kesatuan’ pancasilais Orba, demagogi mana telah bikin orang saling sembelih seperti di Kalbar, Kalteng, Maluku, Poso dll.

    FORLET adalah salah satu diantara sekian banyak organisasi/forum yang dibentuk pada permulaan abad 21, pada dasarnya bertujuan menghindari kejadian-kejadian yang mengerikan masa lalu dalam hubungan antara berbagai etnis/kultur negeri kita. FORLET seperti dijelaskan oleh ketuanya Agus Rianto: “Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Forlet ini bukanlah organisasi politik dan nirlaba, tetapi organisasi yang menghimpun semua kalangan dari berbagai etnis untuk bergerak bersama dalam bidang sosial dan budaya,” . Jelas disini bahwa FORLET bukan politis.

    Ketika permulaan kampanye Jokowi/Ahok muncul juga organisasi bernama FKAS (Forum Komunikasi Antar Suku di Jakarta), dengan tujuan utama ialah mendukung Jokowi/Ahok jadi gubernur/wk Jakarta. Jelas disini FKAS adalah organisasi antar suku yang berpolitik, artinya mendukung Jokowi/Ahok.

    Dari dua ‘organisasi suku’ ini terlihat perbedaannya bagaimana mendekatkan dan menjaga saling hubungan baik antara berbagai etnis/suku. FORLET dengan memakai bidang sosial dan budaya, sedangkan FKAS memakai cara politis. “Adapun perwakilan perwakilan antar suku yang tergabung dalam FKAS Jakarta adalah sebagai berikut untuk Suku Sunda diwakili oleh Djuanda Nataatmaja, Suku Jawa diwakili oleh Subagio Joyosumarto , Suku Tionghoa diwakili oleh Juliato Liem ,Suku Batak diwakili oleh Malvin Panjaitan ,Suku Bugis wiwakili oleh Mappatoba Sila,Suku Minangkabau diwakili oleh Sutan Attar, Suku Ambon diwakili oleh Yansen Matulessi , Suku Papua diwakili Robert Kogoya , Suku Manado diwakili oleh Ferdi Samratulangi , Suku arab diwakili Rahman Assegaf , sedangkan suku Melayu diwakili oleh Mahmud Baharudin”.

    FORLET mengikutkan dan menghargai suku Karo, sedangkan dalam FKAS sama sekali tak menyebutkan existensi Karo dan tak mengikutkan Karo walaupun banyak orang Karo di Jakarta.

    MUG

Leave a Reply