Catur di Cililitan

1
232

raninta mila 16RANINTA MILA. JAKARTA. Di tengah hiruk pikuknya ibu kota, Jakarta, banyak orang sibuk mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berdesak-desakan saat pulang kerja. Berangkat pagi dan pulang sore bahkan malam. Namun, masih ada kita temukan orang-orang yang asyik bermain catur dan bermain kartu di warung-warung.

Itulah yang terlihat di CV Pelangi daerah Cililitan. Apa yang tersirat di pikiran para lelaki itu? Mereka asyik ngopi dan ngobrol sembari bermain kartu dan catur. Akankah dapur rumah masih mengepul?

Di tengah susahnya perekonomian Jakarta. Laki-laki ini taunya hanya sedang menikmati hidup tanpa peduli hari menjadi senja dan berganti malam. Sepertinya mereka adalah orang-orang Karo yang merantau ke ibu kota.

 

Bila demikian adanya, sepertinya budaya kampung tetap dibawa ke tengah hiruk pikuk kota. Membiarkan anak istri yang morat marit mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

1 COMMENT

  1. Baguslah persoalan ‘catur’ ini diangkat ke permukaan. Banyak orang Karo, anaknya atau bapaknya, atau pasti juga ibunya punya pengalaman hidup dalam keluarganya, bagaimana ‘tidak enak’nya kelakuan laki-laki/suami seperti ini melanda banyak keluarga Karo, dikampung ataupun di kota-kota seperti Jakarta ini. Kalau persoalan ini sudah diangkat diatas meja internet tentu bisa muncul ide-ide berdasarkan pengalaman sendiri untuk menangani soal ini.

    Permainan catur bisa juga diorganiser jadi ‘sekolah’ catur yang akan bertanding menghadapi pemain nasional atau satu waktu ke dunia.

    Merlep Ginting sambil makan sirih bermain catur nasional maupun internasional. Dia tak pernah ikut kursus catur, sepenuhnya pemain alam, lahir dari permainan seperti di Cililitan atau tempat lainnya di kampung-kampung Karo. Salah satu penarik utama bagi Merlep selain hobbinya main catur ialah dalam caturnya dia sering bertaruh dalam bermain catur. Karena itu dia tak pernah memperkenalkan dirinya pemain catur ‘jagoan’, supaya orang tak takut main catur sama dia, dan bahkan sering juga ‘mengalah’ dalam permainan, membikin lawan lebih optimis.

    Seperti umumnya orang tua Karo th 40-50-an Merlep berpakaian sederhana, baju dan celana wrna gelap/hitam, pakai bulang-bulang Karo, dan makan sirih. Kalau kita lihat dia main dan sambil makan sirih ngunyah-nguyah sirihnya itu, dia kelihatan sangat tenang dan dapat inspirasi semakin banyak, setiap langkahnya sangat meyakinkan dan sering tak terduga. Orang Karo bilang ‘pitu kali keleh’, artinya sudah memikirkan 7 langkah kedepan, termasuk perhitungan langkah lawan. Ketika beberapa orang Karo mengusulkan dia pakai dasi dan tak makan sirih lagi, terlihat sangat terganggu inspirasinya.

    Merlep Ginting tak banyak bicara, atau pastilah banyak bicara dalam hati, jutaan kata-kata dan percakapan yang selalu terjadi dalam hatinya pada setiap pertandingan catur, tanpa ada yang mendengar dan mengetahui. Itulah introversi Karo. Stimulasi intern!

    Banyak pecatur Karo lahir dari ‘catur kampung’ ini, tanpa kursus catur, pemain alamiah saja. Pemain jagoan catur internasional semuanya lewat ‘sekolah catur’. Karo tidak. Kalau ‘catur cililitan’ ini diarahkan juga bisa satu waktu memberi hasil yang bermanfaat bagi Karo dan perkembangannya. Pertama bikin pertandingan catur Karo Cililitan, kemudian Jakarta, dan kemudian secara nasional. Perluasan dan perkembangan begini akan bermanfaat bagi perkembangan permainan catur, dan perkembangan permainan catur Karo sendiri.

Leave a Reply