Lampu Pun Menyala: Mengenang Wardin Ginting

0
169

edi sembiring 6edi sembiring 7Oleh: Edi Sembiring (Jakarta)

Tadi siang aku bertemu seseorang yang setelah 5 tahun tak bertemu.

“Aku sudah melatih tari di Anjungan Karo,” katanya.

Ya, kami bertemu tak sengaja lima tahun lalu. Lima tahun lalu, dia bercerita banyak tentang jalan sunyi tari tradisi yang diusungnya. Aku lihat penampilannya pada beberapa keping VCD miliknya. Waktu itu aku merasa putaran waktu berjalan terlalu mundur. Sangat jauh.

Ketika aku menemukan klip-klip Sanggar Seni Sirulo, aku merasa hal yang sama. Ini adalah jaman berjalan saat ini. Hingga aku ambil tag line: “Masa lampau adalah aktual.”

Jalan sunyi dunia tradisi. Membaca tulisan di atas, tak ada pesta yang tak berakhir dengan sunyi. Lampu dipadamkan. Esok akan ada panggung yang lain. Semua menanti. Tinggal kapan lampu dinyalakan.

Tadi siang aku bertemu sesorang yang setelah 5 tahun tak bertemu.

“Aku sudah pernah menangani 2 kali pementasan drama. Tapi sebagai penanggungjawab desain pentas. Dan beberapa kali juri tari,” tuturnya.

Ya, aku ingat ia cerita datang dari kampung melanjutkan kemampuannya akan tari tradisi di Jabotabek. Sambil mencari makan serabutan. Tapi, siapa yang mau menerima idenya? Siapa yang mau menontonnya?

Hingga, ketika membesuk seseorang yang mumpuni di bidang teater di sebuah ruang rumah sakit, aku teringat si penari itu. Aku sampaikan dan hubungkan mereka. Hubungan itu baik dan membuahkan kerja yang baik pula.

“Aku sudah jadi pelatih tari tradisi di anjungan Karo. Tanggal 29 Maret datanglah. Aku akan tampilkan Metamorphosis Erupsi Sinabung. Karo siadi dan kini. Lewat tari,” katanya.

Aku berjanji datang, semoga langkah baik. Tidak seperti di langkahku saat di dua pentasmu yang dulu. Sepertinya dia senang kembali menemukan ruhnya. Ruh yang menari ketika lampu-lampu dinyalakan. Bayang-bayang tubuh dan lengkingan musik yang datang diam-diam. Dan, merasuki.

Kini, panggung ini miliknya. Dialah Co’an Feriyanto Purba

 

* Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Ita Apulina Tarigan mengenai kepergian penarune Wardin Ginting

Leave a Reply