Jokowi Agendakan Hadiri Pagelaran Seni untuk Sinabung

1
204

sri lazuari 2

 

SRI LAZUARI. JAKARTA. “Saya belum sempat ke Tanah Karo. Tapi, saya ingin sekali ke sana,” kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di akhir pembicaraannya dengan panitia pengumpulan dana “Tanah Karo Menangis: Rajutan Kasih untuk Pengungsi Sinabung” [Selasa 25/3].

Kunjungan panitia pengumpulan dana ke Kantor Gubernur DKI Jakarta adalah, selain memberitahukan kegiatan pengumpulan dana untuk korban erupsi Gunung Sinabung, sekalian menyampaikan undangan untuk acara puncaknya yang akan diadakan di Anjungan Sumatera Utara TMII melalui sebuah pagelaran kesenian yang diberi nama “Rajutan Kasih” [Sabtu 29/3].

Gubernur DKI yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi ini dengan antusias mendengarkan paparan yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Cahaya Purba. Cahaya memaparkan keadaan terakhir pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Jokowi usai pemaparan yang disampaikan oleh Cahaya Purba.

“Paling penting adalah menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak, Pak!” ujar Cahaya dengan terisak haru.

Jokowi spontan menyatakan atas nama pribadi akan memberikan bantuan donasi.

“Tidak banyak, tapi semoga bermanfaat,” kata Bakal Calon (Balon) Presiden RI usungan PDI-P ini sambil meminta daftar nama para mahasiswa asal lereng Gunung Sinabung yang saat ini tengah menempuh pendidikan di kampus-kampus Jakarta.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengupayakan memberikan santunan kepada mereka. Mohon daftarnya segera disampaikan kepada saya,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Dalam pertemuan singkat ini, Ketua Panitia didamping oleh Tatan Daniel (Penasehat Panitia), Hairani Tarigan (Sekretaris Panitia), Susilawati Br. Sembiring Milala (Bendahara 1), Frans Purba (Bendahara 2) serta Yuli br. Brahmana dan Heben Eser Ginting (Koordinator Wilayah Jakarta Pusat).

Atas nama warga pengungsi, Panitia menyampaikan undangan kepada Jokowi untuk hadir pada acara puncak di Anjungan Sumatera Utara TMII.

“Saya akan berusaha hadir!” ujarnya seraya mengingatkan staf yang mendampinginya untuk mengagendakan.

 

Peristiwa dan Seni Karo

Adapun pagelaran seni di acara puncak dirancang oleh Co’an Feriyanto Purba yang juga adalah pelatih tari di Anjungan Karo, TMII. Untuk acara puncak ini, Co’an akan menampilkan “Metamorphosis Erupsi Sinabung: Karo Siadi dan Kini” lewat tarian.

Rancangan Co’an ini tampaknya punya jiwa yang sama dengan “The voice of Mount Sinabung:   Performance of a traditional Karo Lament by Juara Ginting and members of the Karo dance group Tartar Bintang” yang akan tampil di Museum Etnologi Leiden (Belanda) 14 Juni yang akan datang.

Kesamaan jiwa dari rancangan kedua pertunjukan seni di atas adalah pada adanya proses transformasi dari peristiwa alam, yang dalam hal ini adalah letusan Gunung Sinabung dan pengungsian, ke dalam bentuk seni tradisi Karo. Bila Co’an mentransformasikannya ke tarian, Juara ke musik (ketteng-ketteng, kulcapi, surdam dan belobat) dalam mengiringi lagu berirama tangis-tangis berjudul Beidar Nandéna.

“Beidar Nandena diangkat dari kisah yang ditulis oleh Ita Apulina Tarigan mengenai pengungsian seekor kambing hutan yang berakhir dengan kematiannya. Kambing hutan ini disebut Beidar dalam bahasa Karo. Saya mengolah kisah yang ditulis Ita ke dalam sebuah lagu berirama tangis-tangis dan menyanyikannya sendiri sambil bermain kulcapi,” tutur Juara mengenai pertunjukannya di Museum Etnologi, Leiden, pertengahan Juni nanti lewat jejaring sosial facebook.

1 COMMENT

  1. Mengubah yang negatif menjadi positif.
    Kontradiksi kekuatan alam telah bikin katastrof bagi manusia. Gunung Sinabung adalah salah satu dari sejumlah gunung-gunung berapi yang telah bikin pengaruh yang sangat negatif bagi penduduk negeri kita yang hidup sekitar gunung berapi. Tapi ada selalu usaha dari manusia mengubah sebanyak mungkin keadaan negatif itu jadi positif. Tidaklah seperti untung rugi suatu bisnis, selalu memikirkan lebih banyak untungnya dari segi duit. Korban-korban Sinabung tidak melihat dari segi itu. Tetapi dengan melimpahnya simpati dan bantuan yang tulus dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia telah menanamkan satu kesan mendalam tersendiri bagi orang Karo pengungsi Sinabung, kesan solidaritas kemanusiaan yang tak ternilai harganya.
    Begitu banyaknya pernyataan dan sikap-sikap luhur dengan bantuan konkret dari berbagai etnis/kultur seperti FORLET dari Indragiri hulu, organisasi Himpunan Masyarakat Batak Bersatu dari Rejang Lebang, Bengkulu dan banyak lain-lainnya, telah meninggalkan kesan solidaritas seperti pada zaman perjuangan untuk kemerdekaan dulu. Ini semua adalah solidaritas yang betul-betul berakar dari sifat asli gotong-royong rakyat negeri ini, Solidaritas rakyat awam, dari bawah, adalah aslinya kegotong royongan bumi Indonesia. Kita semua mengharapkan agar solidaritas awam ini bisa menjangkit ke atas kelapisan pejabat tingkat tinggi negeri ini sehingga mereka juga bisa menyisakan solidaritasna ke rakyat awam, memikirkan kemajuan dan perkembangan rakyat awam, dengan mengurangi atau menghilangkan sama sekali sikap tamak mengkorupsikan uang rakyat. Jokowi adalah salah satu contoh positif dalam hal ini.

    MUG

Leave a Reply