Datanglah ke Laubaleng

3
430

Oleh: Denh Van Houten Maha

denh 3denh 1Laubaleng, salah satu desa yang berada hampir di tengah perbatasan Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Aceh, tepatnya 30 km dari Kutacane (ibukota Kabupaten Aceh Tenggara).

Mungkin sebagian masyarakat Karo kurang mengenal desa (kuta) Laubaleng ini karena letaknya yang jauh dari Kabanjahe. Akan tetapi, banyak masyarakat mengetahui nama Laubaleng dari penggalan lirik lagu Kam Ateku Jadi (Laubaleng ndeher Perbulan, melala je tualah pirang).

Sejarah mencatat nama kuta Laubaleng, pernah menjadi ibukota Kabupaten Karo pada masa Agresi (akhir tahun 1948 kalau tidak salah). Bupatinya saat itu Alm. Rakoetta S. Brahmana memindahkan ibukota dari Tigabinanga ke Laubaleng. Meskipun Laubaleng hanya beberapa bulan menjadi ibukota, tetapi pengaruh dari pernahnya menjadi ibukota tetap ada. Di sini ada sarana-sarana umum berupa rumah sakit, kantor pos dan sebagainya.

Laubaleng ipanteki oleh Ginting Munthe dengan kalimbubuna Sembiring Kembaren dan Karo-karo Ketaren. Saat ini, Laubaleng didiami oleh lintas suku dimana suku Karo mendominasi dan suku pendatang lainnya tetap berbaur dengan mengunakan bahasa Karo dalam percakapan sehari-hari.

Mata pencarian penduduk Laubaleng tidak jauh berbeda dengan suku Karo di daerah lainnya yaitu bertani jagung, padi, coklat dan tanaman-tanaman lainnya. Meskipun kelapa jadi tanaman unggulan di Laubaleng, tetapi tidak dikatagorikan mata pencarian oleh masyarakat setempat. Mereka menganggapnya sebagai sumber ekonomi pendamping,

denh 2Kelapa atau talah di Laubaleng sangat unik, berbeda dengan kelapa lainnya yang ada di daerah lain. Di samping kecil, manis dan dipercaya dapat memperhalus kulit bagi yang meminumnya. kelebihan lainnya dari talah Laubaleng mempunyai santan yang lebih dibandingkan kelapa daerah lainnya. Kira kira, 1 kelapa dari Laubaleng sebanding dengan dengan 2 atau 3 kelapa daerah lainnya.

Di awal tahun 1080an, kelapa Laubaleng sering dijadikan minyak goreng. Di samping aromanya lebih khas, masakan juga lebih gurih dan nikmat.

Di awal tahun 1990an, Laubaleng pernah menjadi tujuan masyarakat luar untuk mencicipi kenikmatan kuliner martabak palampam dan kolak dingin. Mungkin sebagian dari kita pernah mencicipinya juga dan sampai sekarang tetap bertahan menjadi kuliner andalan pada saat hari pekan Laubaleng.

Saat ini, Laubaleng menjadi 2 bagian yaitu Laubaleng Tiga dan Laubaleng Kuta. Laubaleng Kuta hampir 100% penduduknya adalah suku Karo, sedangkan Laubaleng Tiga didiami 50% Karo dan selebihnya Batak, Mandailing, Jawa, Pakpak, Alas, Simalungun dan lainnya.

Ketika kita berkunjung ke Laubaleng, kita tidak akan pernah merasa puas apabila tidak mandi di tempat pemandian umum. Di samping airnya sejuk, sebagian masyarakat juga mempercayai ketika kita mandi di sana maka tubuh yang letih akan kembali segar sebagaimana kita bangun di pagi hari.

Tiga Laubaleng (hari pekan Laubaleng) yang jatuh pada hari Jumat merupakan pusat perdagangan terbesar yang ada di Kecamatan Laubaleng. Hampir seluruh warga yang ada di kecamatan ini dan juga dari luar kecamatan mengadakan transaksi jual beli berkisar 3 milyar per minggunya

Meskipun warga Laubaleng umumnya sudah menganut berbgai agama, budaya Karo yang ada tetap dijunjung dan dilaksanakan. Mereka tidak mencampurkan agama dengan kepercayaan budaya Karo seperti halnya saat melaksanakan acara Gendang Guro-guro. Panitia dengan aron wajib menari (ngelandeki) dan memberi sesembahan kepada geriten simantek kuta ras anakberuna. Mereka percaya, bila ini tidak dilaksanakan, acara bisa saja terganggu oleh turunnya hujan deras atau sound system tiba-tiba tidak bekerja atau mungkin akan terjadi perkelahian.

Warga juga tetap ercibal ketika hujan tak kunjung datang di Laubaleng. Tahun lalu, keadaan Laubaleng sedikit terpinggirkan oleh karena akses jalan menuju Laubaleng dari Kabanjahe rusak parah. Perhatian pemerintah masih kurang terhadap alan  menuju Laubaleng. Kelebihan tonase dari kenderaan pengangkut barang dan balok merupakan penyebab utama keruakan jalan. Anggota legislatif yang berasal dari daerah Laubaleng tidak pernah mau tahu akan kerusakan jalan.

Tetapi, jangan lagi takut untuk datang ke Laubaleng karena pada tahun ini jalan ke Laubaleng sudah mulai dibenahi.

Perhatian pemerintah terhadap petani juga minim. Tidak pernah ada lagi penyuluhan pengembangan hasil pertanian ke Laubaleng. Peningkatan SDM milik pemerintah juga terkesan apa adanya. Rumah sakit yang ada bisa dikatakan bukan rumah sakit lagi, melainkan rumah yang sakit. Di samping minimnya tenaga dokter, peralatan yang ada sedikit dan tak jarang masyarakat berobat ke kota bukan ke rumah sakit umum yang ada di Laubaleng.

Yah, buat yang hendak berkunjung ke Laubaleng, yakin dan percayalah, ketika kita datang maka 1 hari terasa tidak cukup untuk berada di sini.

3 COMMENTS

  1. Martabak Palampam rasanya mantap, kalau tidak salah sudah punya cabang di Tiga Lingga
    bujur man kam : Bang Denh Van Houten Maha, enggo ka angkai kami tentang kuta Lau baleng enda

Leave a Reply