Kebersamaan di TMII Untuk Warga Sinabung

0
256
edi sembiring 28
Ade F. Meliala. Klik foto untuk ukuran besar

edi sembiring 6EDI SEMBIRING. JAKARTA. “Penduduk sekitar Sinabung pasti sudah jenuh,” kata Ade F. br Meliala, Direktur Operasional Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang khusus hadir dan memberikan kata sambutannya pada acara pengumpulan dana bertajuk “Rajutan Kasih Tanah Karo Menangis,” di Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta Timur [Sabtu 29/3: Malam].

Ade F. br Meliala juga menegaskan, inilah tanggungjawab kita satu kampung.

Kita mulih ku kuta bangun kutata,” ucapnya dengan terputus-putus.

Ade F. br Meliala mengakui tak begitu fasih berbahasa Karo. Perempuan kelahiran Payakumbuh ini memiliki 2 merga/ suku. Lewat garis keturunan ibu (matrilineal), dia berasal dari suku Chaniago (Minangkabau). Menurut garis keturunan ayah (patrilineal) dia berasal dari merga Sembiring Meliala (Karo).

edi sembiring 30
Sikambang (Pesisir Tapteng)

Ade F. br Meliala adalah perempuan pertama yang menjadi Direktur Operasional TMII sejak didirikan tahun 1975. Semenjak beliau menjabat Direktur Operasional TMII, yaitu tahun 2008, terlihat citra Taman Mini Indonesia Indah kian terangkat dan semakin menarik di mata pengunjung. Tak lagi membosankan, karena hadirnya beraneka atraksi budaya dan kian bertambahnya sarana-sarana yang tersedia.

Ade F. br Meliala menyatakan salut dengan upaya panitia penggalangan dana untuk korban erupsi Gunung Sinabung.

“Biasanya kegiatan di TMII ini adalah pagelaran budaya tapi kali ini dibungkus penggalangan dana,” ujarnya sambil tersenyum.

Ade F, br Meliala juga mengatakan, satu satunya gunung yang lama ngambek adalah Sinabung.

“Gunung Merapi sekali meletus sesudah itu selesai. Penduduk bisa kembali beraktivitas. Penduduk sekitar Sinabung pasti sudah jenuh,” katanya.

edi sembiring 33
Pentas Metamorfose Erupsi Sinabung oleh Rudang Mayang/Mulianta Surbakti/Agustina Pelawi (Klik foto untuk ukuran besar)

Malam itu, Ade F. br Meliala membeli sebuah foto berbingkai yang mana hasil penjualannya akan disumbangkan untuk mahasiswa/i yang orangtuanya terkena pengaruh bencana erupsi Sinabung. Ada 600 mahasiswa/i yang berasal dari Tanah Karo yang saat ini kuliah di berbagai universitas di Indonesia sedang terancam putus kuliah. Ini adalah hasil pencarian data yang telah dilakukan oleh tim “Rajutan Kasih Tanah Karo Menangis,” yang diketuai oleh Cahaya Purba.

Mewakili Pemprov. Sumatera Utara di Jakarta, Nursalim A Hasibuan, menyambut baik kegiatan ini.

“Berapa pun yang terkumpul semoga bisa meringankan derita mereka,” ucapnya.

edi sembiring 37
Monolog “Kecoa” dan dilanjutkan dramatisasi “Simponi Alam Berkabung” (Klik foto).

Pada malam yang sebelumnya telah dibasahi rintik hujan, rangkaian atraksi seniman Sumatera Utara satu per satu mengisi acara. Wujud kekompakan seutuhnya warga Sumatera Utara di perantauan Jabotabek untuk mengusap duka panjang yang lebih 5 bulan tetap mendera warga di kaki Gunung Sinabung.

Pagelaran kesenian didukung hampir seratus orang seniman. Diantaranya, Rita Matumona, Rani Dahlan, Tio Fanta Pinem, Agustina Pelawi, Santa Hoki Ginting, Mulianta Surbakti, Aldy Mozaid, Kartika Sembiring, Yan Harahap, Rudang Mayang Group, Komunitas Seniman Tradisi Sumatera Utara, Kelompok Teater Bumi Kalamtara, Sanggar ”Matra Etnika”, serta para seniman tradisi dari Mandailing, Gusti Mayani (Tapanuli Tengah) yang membawakan senandong Sikambang, Jhane Cova Saragih (Simalungun), Darmansyah Ismail (Melayu), dll. Hadir juga dari tanah Betawi, sanggar Betawi Kota Bambu yang membawakan Gambang.

“Mereka berpartisipasi, tanpa honor. Ini murni gerakan moral kesenian,” papar Tatan Daniel, Kepala Anjungan Sumatera Utara di Taman Mini ”Indonesia Indah”.

“Kepekaan para seniman diharapkan dapat menggugah kepedulian masyarakat,” tambahnya.

edi sembiring 35
Klik foto untuk ukuran besar

 

Pada kesempatan itu, ditayangkan pula film dokumenter tentang erupsi Sinabung serta kondisi terakhir para korban di beberapa tempat pengungsian. Film dokumenter dibuat langsung oleh teman-teman relawan dari posko Karang Taruna yang berpusat di Kabanjahe. Mereka adalah Edhie Surbakti, Lahar Sang Pemberontak, Yosua Salang Say Effendy dan Hanson Munthe. Keempatnya datang khusus dari Kabanjahe dan Medan untuk memutar film dokumenter ini dan memberikan kesaksian saat-saat erupsi Sinabung, proses evakuasi korban dan penanganan di pengungsian selama ini.

edi sembiring 36
Penyerahan lukisan yang dibeli oleh Ade F Meliala diserahkan sang fotografer: Lahar (Klik foto)

Ada pameran puluhan foto yang bercerita tentang kondisi yang terjadi pada warga yang tinggal kampung-kampung kaki Sinabung. Begitu juga dengan gambaran kehidupan mereka yang berbulan-bulan tinggal di pengungsian. Aktivitas anak-anak serta kondisi pertanian yang merupakan tulang sendi kehidupan mereka. Pertanian mereka kini hancur dan belum mendapatkan kejelasan kapan mereka akan direlokasi.

Foto-foto yang berpigura ini dijual dan dananya dikumpulkan untuk membantu mahasiswa/i yang terancam putus sekolah.

 

Leave a Reply