Kolom Ita Apulina Tarigan: APRIL

1
196

ita 54

April pun tiba. Biasanya, besok setelah bangun, aku baru sadar bulan telah berganti. Itu pun karena terpaksa membalik kalendar meja.

Hari ini, duduk terkantuk-kantuk di stasiun kereta menanti kereta yang telat lagi. Angin malam terasa menyapu telinga. Sarung pantai di leher aku lilit sekali putaran lagi. Erat. Lumayan menahan sejuk angin malam.

Pernah sekali waktu, untuk jangka yang lama, aku benci sekali pada Waktu yang kejam. Semesta menempatkan manusia di jalur waktu tanpa kita bisa protes. Waktu yang kita jalani itu dengan kejam membantai harapan manusia satu per satu. Orang-orang dicintai, kenyamanan, ketenangan, dlsb. tanpa alasan. Remuklah manusia dalam duka lara.

Waktupun terus berjalan. Tidak perduli manusia sedang terluka, sedang patah hatinya, putus harapannya. Kecepatannya konstan, konsisten. Kita sering merasa sang Waktu begitu cepat berlalu, padahal sama saja. Apalagi ketika keriangan menghilang atau ketika waktu menempatkan manusia dalam masa bahagia.

Entah kenapa, belakangan ini aku mencoba nikmati dihanyutkan Waktu ke mana saja. Ketika aku berusaha keras melawan, dia terus berjalan. Seperti kerut halus yang sudah mulai muncul di ujung mata, atau rambut putih yang kadang berdiri tegak di kening.

Masih sering muncul rasa tidak rela, tetapi tidak sekeras dulu. Sekarang, api harapan mulai menyala lagi di hatiku, walau kecil sederhana, tapi bisa membantuku tegak gagah berdiri. Apalagi saat mengenangkan orang-orang yang peduli dan mencintaiku, walau hari terus berganti. Aku tak dapat melawan waktu, tapi waktu juga menghadirkan saat bahagia.

Selamat tiba April, selamat datang hari baru!

Stasiun Tugu (Yogjakarta), 1 April 2014

1 COMMENT

  1. Entah kai gia tuturta. Tapi saranku orang memng tidak usah dan tidak perlu melawan waktu. Orang yg percaya pd Tuhan menggenggam “eternal life” (=kegeluhen si rasa lalap) di tangannya. So why worry about time?

Leave a Reply