Kolom M.U. Ginting: KLARIFIKASI

0
232

M.U. Gintingmuginting 69Soal klarifikasi tiap persoalan adalah titik awal kebenaran.  Bagi orang Karo ada contoh yang sangat jelas: KBB, Karo Bukan Batak, yang terus menerus kita perluas dan perdalam.

 

Ada beberapa perkembangan akhir-akhir ini dalam diri Jokowi, dia berani membela soal penjualan aset negara oleh Megawati ketika jadi presiden. Dia sekaligus juga berjanji, kalau dia jadi presiden, tidak akan menjual aset negara. Mulanya dalam rangka menjawab tuduhan dia akan menjual aset negara bila jadi presiden nantinya. 

Klarifikasi adalah bagian dari ciri perubahan zaman Abad 21, bagian dari arus PENCERAHAN, bagian yang tak terpisahkan dari DIALOG dalam menyelesaikan soal-soal kemanusiaan sekarang ini. “Pencerahan dan Harapan,” kata Sutradara Ginting. Pencerahan akan memberikan harapan dan memupuk keyakinan dan rasa optimis.

Karena itu, tugas bikin klarifikasi penjualan aset ketika Mega jadi presiden adalah tugas semua pencinta dan pejuang nasional negeri ini. Penjualan aset negara tak bisa terpisah dari usaha neokolonial/neoliberal mencelakakan negeri ini dengan utang-utangnya sehingga bisa diperintah oleh asing.

Salah satu yang perlu dicatat ketika itu ialah bahwa Menteri Keuangan kabinet Megawati ialah neo liberal Boediono (wakil presiden sekarang). Lebih penting lagi ialah BLBI ulah Soeharto dan para konglomeratnya adalah pencipta utang dan korupsi terbesar sepanjang zaman Rp. 600 T.

Dengan klarifikasi tiap soal, maka akan terlihat mana yang benar dan mana pula yang salah serta mana yang bohong dan mana tak bohong. Dengan klarifikasi dan penjelasan yang terus menerus semakin luas dan mendalam dan semakin ilmiah juga, hasilnya tak mungkin lain kecuali tinggal yang murninya saja, dalam arti yang benar. Ini semua diumumkan secara terbuka, di atas meja agar semua rakyat awam tahu dan bisa menilai. Mayoritas akan memihak yang benar, setelah persoalannya jelas dan tak ditutupi.

Serangan-serangan sepihak (belum tentu benar) ditujukan ke Jokowi tanpa ada klarifikasi dari pihak yang diserang bisa lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran. Sama halnya dengan kebohongan-kebohongan rezim Soeharto atau Hitler, dianggap benar karena tak ada yang boleh berikan kontra argumen.

muginting 71Sekarang, zamannya lain. Semua yang mengetahui seluk-beluk persoalan sudah boleh buka mulut, DAN HARUS buka mulut. Kalau tidak buka mulut akan sama saja dengan era Soeharto atau Hitler. Sudah jelas bohong tak ada yang berani mengomongkannya. ‘Big Lie‘ lama-lama akan jadi kebenaran kalau terus menerus itu saja yang terdengar tanpa adanya anti-argumentasi seperti pada era Orba atau Hitler.

Big lie oleh orang-orang loud mouth and braggarts Wall Street abad lalu dibiarkan saja selama satu abad, dan mereka (extrovert) berdominasi satu abad. Keruntuhan ekonomi finans dunia sebagai akibat dominasi kebohongan loud mouths ini mengakibatkan munculnya Quiet Revolution dan pergeseran  dominasi introvert dunia sekarang..

Berangsur-angsur pergeseran ini juga terjadi di Indonesia. Contoh yang sangat tipikal sekarang ialah antara ‘singa’ dan ‘kambing’. Jokowi yang dijuluki sebagai kambing, adalah salah satu yang mewakili introversi dunia di Indonesia.

Leave a Reply