DIVERGENT: Kisah Manusia yang Terkategori

0
264

Oleh: Ita  Apulina Tarigan (Surabaya)

 

Usai sebuah perang besar yang nyaris menghancurkan manusia di suatu waktu, di masa depan, manusiapun menata perdamaian di antara mereka dengan paksa. Pada masa itu, sebuah sistem dirancang untuk menempatkan manusia sesuai karakternya, dirancanglah 5 faksi, yaitu:

1. Abnegation untuk orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri, peduli pada siapa saja dan tanpa pamrih sehingga kelompok inilah yang mengatur negara

2. Amity untuk orang-orang yang cinta perdamaian dan keselarasan sehingga mereka menjadi petani

3. Candor untuk orang-orang jujur yang akan selalu mengatakan kebenaran walaupun manusia tidak menginginkannya (mereka banyak menjadi hakim)

4. Dauntless untuk orang-orang ksatria pemberani membelanegara dan rakyat, sehingga merekalah menjadi penjaga keamanan Negara

5. Erudite untuk orang-orang jenius, sehingga mereka banyak sebagai peneliti.

Permasalahan dimulai ketika dalam sebuah upacara rutin negeri masa depan ini. Setiap anak yang berusia 16 tahun harus mengikuti test untuk memastikan karakter mereka sehingga bisa ditempatkan di salah satu faksi. 95% anak biasanya akan kembali ke faksi asalnya. Tetapi, pada upacara kali ini, Caleb Prior dan Beatrice Prior, yang orangtuanya adalah pemimpin negara dan juga pemuka faksi Abnegation memilih faksi yang berbeda dari orangtuanya.

Caleb memilih Erudite, dan Beatrice memilih Dauntless. Mengejutkan, mereka tidak akan pernah kembali kepada keluarganya, menjalani peraturan hidup sesuai faksi yang mereka pilih.

Seiring waktu, ternyata karakter Beatrice bukan Dauntless, juga bukan keempat faksi lainnya. Kelima karakter faksi ada pada dirinya. Ini berbahaya bagi pengatur system. Di luar control. Artinya, kemanusiaan Beatrice aktif sekali dan dianggap merupakan kelemahan yang bisa menghancurkan perdamaian.

Trainer Beatrice di Dauntless, bernama Four, ternyata mengetahui penyimpangan Beatrice dan menyebutnya Divergent. Four mengingatkan Beatrice agar menjaga rahasia kelainan dirinya, sebab bisa dibunuh kapan saja. Akhirnya, ketahuan Four juga adalah seorang Divergent. Sementara itu, perburuan terhadap Divergent mulai gencar dilakukan sehingga mereka harus berjibaku mepertahankan hidup.
*****
Menonton film ini membuat aku berpikir banyak di atas taxi.

Disebutkan, kisah ini kelak di masa depan setelah perang nuklir. Padahal, jika direnungkan dalam-dalam, saat inipun banyak manusia yang mengurung hidupnya dalam faksi-faksi tertentu. Lalu, mereka menganggap orang-orang yang bukan faksinya adalah sesat. Ada hasrat untuk bisa lebih besar dari faksi lainnya. Hasrat superior dengan menghalalkan segala cara. Tak ragu menumpahkan darah demi ego

Ketika ada manusia berpindah faksi, diiringi dengan tepuk tangan dan sambutan meriah dan juga duka lara. Seolah jalan hidup hanyalah soal angka. Apalagi ketika ada orang yang berbeda, bukan termasuk dalam kategori resmi, maka dianggaplah aliran sesat yang harus dibasmi, dilenyapkan.

Ternyata, kisah Divergent bukanlah kisah masa depan. Saat ini kitapun sudah menjalani kisah itu. Pahit, ya.

Merunut ke film ini, salah satu cara mengembalikan perdamaian tanpa kekerasan adalah kemanusiaan kita, kelebihan dan kekurangan manusia. Tidak ada yang sempurna, tetapi sempurna.
Secara keseluruhan film ini cukup bagus, walaupun banyak yang menganggapnya film remaja. Tontonlah dan lihat dengan cara berbeda.

Leave a Reply