Hilangnya Kudin Taneh dari Jaberneh

3
216

ariston 2ARISTON GINTING. JUHAR. Kudin taneh (periuk tanah) adalah sebuah  karya nenek moyang kita sejak jaman dahulu kala. Tapi, sekarang ini, sungguh sulit menemukan hasil kerajinan tangan ini di Kabupaten Karo.

Di Desa Jaberneh (Kecamatan Juhar), pernah ada produksi kudin taneh sejak 1980an sampai awal tahun 2000. Saat itu, kudin taneh adalah salah satu penghasilan penting bagi warga desa itu.

Mereka menjual setiap kudin taneh dengan harga antara Rp 25.000 sampai Rp 60.000. Seorang penjual kudin taneh mampu menjual 15 sampai 20 buah per pekannya. Setiap harinya seorang pengrajin dapat menghasilkan 2 atau 3 kudin taneh.

Adanya produksi kudin taneh saat itu sangat membantu perekonomian warga desa setempat. Namun, kini, meningkatnya produksi alat memasak modern yang serba instan membuat penjualan kudin taneh menurun drastis. Menurunnya pesanan terhadap kudin taneh diikuti dengan matinya usaha perekonomian rakyat ini sehingga sulit menemukan kudin taneh di pasar-pasar Kabupaten Karo.

Sebenarnya, sebagian orang Karo masih membutuhkan kudin taneh untuk memasak, khususnya masakan-masakan tradisional Karo. Menurut beberapa orangtua di pedesaan Karo kepada Sora Sirulo, memasak di kudin taneh adalah suatu kenikmatan bagi mereka dengan rasanya yang khas dan gurih.

Namun, apa daya, sulitnya menemukan kudin taneh membuat mereka juga terpaksa tahan selera lama.

3 COMMENTS

  1. Kudin taneh kerajinan tangan produksi kuta Jaberneh Kec. Juhar. berdekatan dengam kua Jaberneh yaitu kuta Mbetung punya juga kerajinan tangan mbayu amak /anyaman tikar. Dulu pada waktu Tiga/ pekan Tigabinaga mereka berdekatan menjualnya erdaya kudin taeh anak Jaberneh erdaya amak mbentar anak Mbetung. Sebenarnya kuta Jaberneh sudah ganti nama menjadi Pasar Baru tapi lalap la tangkel gelarna jadi tetap nge igelarken Jaberneh. Kai sikataken senina MUG, bahwa pake kudin taneh nggule kaperas, berek, beru lau memang beda nanamna. Beru Lau, berek & kaperas lit denga kang ijumpai i Lau Jandi kuta Kidupen Kec. Juhar.

  2. Adi nggule nurung pake kudin taneh nanamna lanai terturiken makyusss, tapi sayang I kuta pe gundari lanai pake kudin taneh

  3. Pada zamannya masak berek atau beru-lau di Dairi Karo dengan periuk tanah. rasanya memang sangat spesifikk, gurih dan tak bisa dibandingkan. Pakai santan dan asam cekala/patikala. Kadang kuahnya dipisahkan sehingga lebih kering.
    Berek, beru-lau dan kaperas asalnya dari Lau Belulus. Sering juga ketika itu masakan ini dijual di pekan Tigalingga seminggu sekali dan sangat laris. Masakan ini dibawa kepekan sering dengan periuknya sekalian atau dibungkus dengan daun pisang. Tidak ada yang menjual nasi, sehingga harus dibawa pulang dan makan dirumah. Agaknya setelah sampai dirumah rasanya semakin enak, atau karena sudah capek juga jalan kaki pulang pergi ke pekan. Ketika itu tidak ada kendaraan walaupun ada juga sadu (kereta kuda), jarang yang naik karena umumnya rakyat tak punya duit, dan jalan kaki sudah jadi kebiasaan bagus yang tidak disedari. .

    MUG . . .

Leave a Reply