LOVING IS LETTING GO

0
237

Oleh:  Dwi Argo Mursito (Pekalongan)

 

 

dwi argo mursito 1Belakangan ini aku tergabung dalam sebuah forum percakapan, terdiri atas kawan-kawan yang berasal dari latar pendidikan di bidang yang sama. Seperti bisa diduga, forum ini menjadi tempat berbagi kecerdasan, sekaligus kegilaan. Aku bergabung, agar tidak hanya ketularan gila, namun juga ketularan cerdas. Hehehe…

Sebenarnya di forum itu kami berbagi apapun. Mulai dari guyonan tidak bermutu, gurauan yang saru dan SARA, bertukar informasi, sampai diskusi mengenai sejarah, budaya, teologi, filsafat, dan cinta. Dan, konon katanya, jiwa orang Timur – termasuk orang Jawa – adalah jiwa yang semanak dan semedulur. Maka budaya jagongan, nongkrong, ngobrol-ngobrol ringan menjadi inspiratif. Seringkali, bahkan ide-ide besar muncul dari obrolan ringan di tongkrongan tersebut.

Suatu hari, di forum itu, mas P mengirimkan sebuah gambar yang menginspirasi. Sebuah quote dari Rumi, si mistikus yang tersohor itu. Bunyinya: “It’s your road, and yours alone. Others may walk it with you, but no one can walk it for you.

Kalimat ini terasa menggema karena mampu menyelinap dalam kesadaranku, yang sedang bergumul mengenai jalan yang kutempuh.Tak hanya pergumulanku, namun juga pergumulan beberapa kawan dan rekan yang telah lebih dulu berbagi. Tentang lelah menunggu di tengah ketidakpastian, tentang cinta yang tak berbalas kasih, tentang perjuangan yang nampaknya akan sia-sia saja, tentang sakit hati yang tak kunjung terobati, tentang kesepian yang belum juga terusir.

Menariknya adalah, pengalaman-pengalaman itu menggema seiring masa Paskah yang di gereja-gereja sedang dihayati. Bagaimana kemudian kita teringat pada salah satu tokoh sejarah yang menanggung derita paling pahit sampai tak terkira. Aku memanggilnya Sang Guru. Ingatanku tertuju pada Jalan Salib. Jalan yang terbentang bukan hanya dari pengadilan sampai ke bukit tempat Sang Guru dieksekusi mati, melainkan jalan yang telah terbentang sejak kelahiran Sang Guru. Bagaimana sejak semula, jalan yang telah ia pilih untuk tempuh adalah jalan cinta. Jalan yang sayangnya sepi.

Jalan cinta itu berkumandang lantang, memang ketika darahnya mengucur dan dagingnya mengelupas. Ketika peluhnya serupa darah dan keringatnya tak berhenti membasah. Semua itu adalah bukti, bahwa ia konsisten pada jalan yang merupakan takdirnya, yaitu jalan cinta. Jalan itu sepi.

Jalan itu membuatnya tersingkir dari hingar-bingar dunia. Jalan itu menyingkirkannya dari kenyamanan. Namun begitulah pilihan itu diambil dan takdir itu dipenuhinya. Melawan kekerasan dengan kebajikan. Melawan kejahatan dengan cinta.

Sang Guru telah terbiasa dengan yang namanya ilmu kebatinan, nampaknya. Hulunya adalah ketidakmelekatan. Muaranya adalah cinta tanpa pamrih nan tulus. Gila, Sang Guru menjelma sosok yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Itulah mengapa hatinya meluap dengan damai, apapun yang terjadi di luar sana. Ketika kemelekatan menjauhkan manusia dari yang Ilahi, Sang Guru memberi teladan tentang bagaimana melepaskan menjadi seni yang teramat luhur. Kebahagiaannya tidak ditentukan oleh perlakuan orang terhadapnya. Kebahagiaanya adalah soal pilihannya sendiri. Soal apa yang dijalani. Soal sesuatu yang telah ada dari sumber bernama hati nurani. Ia sendiri yang menentukan kebahagiaannya.

Ilmu serupa memang juga diperdalam Budha, Gandhi, Theresa, Rumi, de Mello, Paulo Coelho, Gus Dur, Sujiwo Tejo, dst. Aku membaca beberapa tulisan (tentang) mereka. Cukup sering aku mencoba mempraktikkan ajaran para guru itu. Namun sesering itu pula aku gagal. Cintaku masih cinta yang kadang lamis. Cinta yang kuakui kuberikan untuk orang lain, adalah kamuflase dari cinta yang sebenarnya hanya kutujukan untuk diriku sendiri. Cinta yang menyenangkanku saja. Cinta yang pretensius. Lama-lama tak lagi layak disebut cinta. Lalu dengan apakah fenomena itu diberi nama? Kemelekatan. Kemelekatan pada apa? Harta, kekasih, keluarga, jabatan, kenyamanan, prestasi, nama baik, pengakuan, namun juga kekuatiran, ketakutan, keraguan, dst.

Konon katanya, kemelekatan inilah sumber derita. Maka lepas dari kemelekatan berarti bahagia. Seorang kawan bernama K menasihatiku, “…nanti kau akan mengerti jika sudah merasakan mencintai tenpa alasan. Mencintai kerena mencintai.”

dwi argo mursito 6Aku terperangah. Sadar bahwa ternyata selama ini aku belum mampu mencintai. Banyak orang sedang terjebak pada kemelekatan. Tandanya: perasaan kesepian yang dalam, perasaan terabaikan, perasaan ingin dimengerti, perasaan ingin mendapat balasan perhatian, perasaan takut kehilangan, perasaan tak sabar menanti, dan serangkaian perasaan lain yang tak terekspresikan.

Banyak orang, termasuk aku dulu, berpikir bahwa kebahagiaan dan cinta adalah soal mendapatkan dan memiliki. Namun ternyata itu salah. Kebahagiaan sejati adalah soal melepaskan dan membebaskan. Ini ilmu kebatinan yang baru kutahu teorinya, namun masih nol praktiknya. Setidaknya masih terseok-seok menempuhnya. Hehehe…

Paling tidak, di tengah segala rasa lelah ini, ada berita Paskah yang hari ini berkumandang. Kebangkitan. Bukti bahwa akhirnya kebaikan dan cinta menang atas kejahatan dan penderitaan. Maka Paskah adalah tentang tidak berhenti menempuh jalan salib itu. Tidak berhenti mencinta. Tidak berhenti menanti. Tidak menyerah pada keadaan. Kembali kepada panggilan kita semua: mencinta.

Itulah mengapa ada suara yang berkata pada dua orang Maria di dekat makam kosong itu, “Jangan takut… pergilah ke Galilea…” Galilea adalah habitat mereka. Adalah tempat di mana kemelut kehidupan sekaligus cinta tak pernah padam. Kembali ke Galilea berarti kembali ke rumah. Kembali ke tempat kita masing-masing. Untuk apa? Untuk terus menempuh jalan cinta. Telah terbukti, cinta akhirnya mengalahkan kesedihan.

Selamat Paskah, selamat mencinta. Maukah kita menempuh jalan ini?

_________________

Catatan ini menyisakan pertanyaan: Mungkinkah kita memiliki cinta seperti Sang Guru? Mungkinkah kita melepaskan dan membebaskan sesuatu/ seseorang? Bukankah cinta selalu berkelindan dengan keinginan memiliki, bahkan menguasai?

Di sore tadi, tanya di atas terjawab oleh tulisan salah satu guruku, EGS, yang menulis di status FB’nya – yang juga merefleksikan Paskah, mengenai cinta Maria Magdalena: “Cinta kita terbatas, dan cinta kita selalu mengandung keinginan untuk menguasai dan memiliki. Tetapi kalau kita tulus dan bertahan menjaga relasi, Dia yang adalah Cinta akan menyempurnakan cinta kita yang terbatas itu. Amin!”

Leave a Reply