Dari Prapaskah ke Paskah (Pengenalan Singkat) 

0
500

Jimm SongOleh: Jimm Song (Yogjakarta)

PRAPASKAH (Lent)

Masa prapaskah adalah masa 40 hari menjelang Paskah. Inti masa prapaskah adalah momen jemaat untuk mempersiapkan diri, atau sebuah kesempatan (pelatihan) spiritual untuk lebih mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.

Hari pembuka masa prapaskah disebut “Rabu Abu” (Ash Wednesday). Rabu Abu adalah masa pertobatan, perkabungan, instropeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Kenapa disebut “Rabu Abu”? Pertama, karena memang pelaksanaannya pada hari Rabu (di tahun 2014 Rabu Abu dirayakan pada tanggal 5 Maret); Ke dua, karena di hari itu dipakai abu (yang biasanya ditorehkan di dahi jemaat) di dalam ritus ibadahnya; Abu, yang diambil dari tradisi Israel, melambangkan kefanaan manusia (Kej 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat (Yos 7:6; Ayub 2:12; Yes 58:5-7, dsb).

Warna liturgis dalam Rabu Abu adalah hitam yang menyimbolkan kedosaan atau kematian, atau ungu sebagai simbol pertobatan. Sesudah Rabu Abu, bagi umat Katolik prapaskah diteruskan ke Minggu prapaskah I hingga prapaskah  V, dan Minggu prapaskah V mereka sebut sebagai “Minggu Sengsara” atau passion, sebab di sinilah tema kesengsaraan dimunculkan secara eksplisit dalam liturgi. Tetapi bagi beberapa gereja Protestan, Minggu Sengsara diletakkan pada “hari Minggu Palem”. Warna liturgis di minggu prapaskah V adalah merah muda, menyimbolkan penderitaan dan darah Kristus. Sedang warna liturgis secara umum dalam masa prapaskah adalah ungu sebagai simbol pertobatan dan kekhidmatan.

PEKAN SUCI (Holy Week)

Pekan Suci (atau prapaskah VI) adalah masa seminggu menjelang hari raya Paskah. Pekan Suci adalah masa persiapan untuk Paskah, dan mengenang hari-hari terakhir Yesus di masa hidup-Nya. Dengan demikian, Pekan Suci adalah juga pekan atau minggu terakhir dalam masa prapaskah, dimulai pada hari Minggu Palem/ Palmarum atau Minggu Sengsara (Passion/ Palm Saturday) yang mengenangkan Yesus sebagai Raja memasuki kota Yerusalem dan disambut dalam sambutan meriah daun-daun palem/palma untuk merealisasikan penyaliban dan kebangkian demi menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 21:1-11 dan paralelnya) hingga hari Kamis Putih siang.

Dalam Pekan Suci ini terdapat tridum/tri hari Paskah. Di tahun 2014 hari Minggu Palem jatuh pada tanggal 13 April. Warna liturgis dalam Minggu Palem dan Kamis Putih adalah merah atau merah muda atau putih/emas sebagai simbol keagungan seorang Raja.

TRIDUM PASKAH (Easter Triduum)

Tridum Paskah atau tri hari paskah adalah tiga hari penting dalam perayaan gerejawi, dimulai setelah matahari terbenam pada Kamis Putih sampai mata hari terbenam pada Hari Paskah. Dengan begitu, tridum meliputi: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Putih/Suci (Vigili Paskah), dan Minggu Paskah.

Dalam perayaan Kamis Putih (Maundy Thursday), orang Kristen mengenang dan melakukan pembasuhan kaki seperti yang dilakukan Yesus kepada para murid, serta perjamuan kudus (Yoh 13) sebagai simbol disiplin spiritualitas yang menggambarkan sikap batin saling melayani, bertobat dan mengampuni yang disampaikan bukan dengan menggurui melainkan dengan kerendahan hati.

Jumat Agung (Good Friday) adalah perayaan pengenangan yang amat penting dalam kehidupan bergereja, sebab di sini kita merasakan penderitaan dan kematian Kristus sebagai kurban bagi keselamatan manusia; bacaan liturgisnya biasanya dari Yes 53 dan surat Ibrani mengenai penderitaan dan ketaatan Kristus; dan warna liturgisnya hitam, menyimbolkan kesedihan atau kematian.

Kemudian besoknya, di hari Sabtu yang disebut Sabtu Suci/Sunyi (Holy Saturday), gereja mengenang kesendirian Yesus dalam kematian di makam-Nya. Yang ada hanya keheningan, kesunyian, dan perenungan bahwa hidup itu singkat (Ayub 14:1-14), sembari menantikan apa yang terjadi setelah kematian Yesus. Bacaan-bacaan Kitab Suci biasanya diambil dari Mat 27:57-66; Yoh 19:38-42; Ayb 14:1-14; Maz 130; 1 Pet 4:1-8.

Pada Sabtu malam, yang disebut Vigili Paskah atau malam Paskah (Easter Vigil), mulailah gereja merayakan Paskah. Malam Paskah ini biasanya dirayakan dengan amat meriah dengan upacara Cahaya dan lilin Paskah, sebagai simbol bahwa Kristus yang bangkit dari kematian adalah terang dunia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci dalam liturginya antara lain: Kej 1:1-2:4a; Mazmur 16, 42, 43, 46, 136; Yes 55; Amsal 8; Rom 6:3-11; Mark 16:1-8 dan paralelnya). Biasanya, saat Sabtu Sunyi hingga menjelang Vigili Paskah, orang Kristen juga melakukan puasa sambil berhening. Alangkah baik apabila ibadah di ketiga perayaan ini bernuansa meditatif atau kontemplatif. Perayaan Paskah diteruskan hingga acara puncak di pagi hari Minggu Paskah. Di tahun 2014 Kamis Putih jatuh pada tanggal 17 April; Jumat Agung tanggal 18 April; dan Sabtu Suci tanggal 19 April.

PASKAH (Easter Day) 

Kata “Paskah” berasal dari kata Ibrani “Pesach” atau Yunani “Pascha”, artinya: “melewati”, “menyeberangi”. Istilah “Paskah” mulanya diambil alih dari pemahaman Yahudi bahwa hari Pesach merupakan hari pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Orang Kristen perdana kemudian mengubah maknanya; Paskah menjadi hari istimewa karena kebangkitan Yesus yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa.

Maka, Paskah, yang berasal dari ibadah hari Minggu (Latin: “Dies Dominica”: “Hari Tuhan”), adalah pusat-inti iman Kristen dan tahun liturgis! Tetapi sayang, gereja sekarang ini masih menganggap perayaan Paskah biasa-biasa saja, ketimbang perayaan Natal. Padahal orang Kristen perdana dulu kala merayakan Paskah dengan sangat gembira melebihi perayaan-perayaan lainnya –termasuk Natal–, dan itu dirayakan selama 50 hari!

Kenapa Paskah dirayakan sampai begitu meriah dan dalam waktu panjang? Karena puncak iman Kristen sebetulnya terletak pada kebangkitan Kristus; dan itulah Paskah. Bacaan liturgis biasanya diambil dari Kisah Para Rasul, 1 Kor 5, Kol 3, Yoh 10, dsb. Perayaan Paskah I hingga Paskah VII menjelang Pentakosta disebut minggu-minggu Paskah. Setelah Paskah VI, gereja merayakan hari Kenaikan Tuhan ke Sorga. Di tahun 2014 hari Paskah jatuh pada tanggal 20 April. Warna liturgis Paskah adalah putih/emas, melambangkan terang/cahaya.

A short reflection…

Seorang yang mendaki sebuah gunung, hal yang kepingin disaksikan di puncak gunung adalah melihat sunrise, matahari yang terbit. Sunrise memang selalu menarik perhatian. Keindahannya begitu luar biasa mengagumkan. Namun, di puncak gununglah orang baru bisa menyaksikan kemunculannya secara utuh, mempesona. Oleh sebab itu, orang diajak secara bergairah untuk mendaki gunung itu. Gerbang pendakian, awal melangkahkan kaki, itulah prapaskah. Sedangkan puncak gunung, itulah paskah.

Tidak mudah mencapai puncak gunung. Tidak mudah mencapai paskah. Seorang mesti butuh bekal yang cukup, keberanian yang super, mental yang kuat, dan harapan yang dijaga lestari. Banyak tantangan, memang. Hasrat untuk korupsi, melecehkan musuh secara psikis maupun psikologis, menindas, memperbudak, mengotori dan mengeksploitasi alam sesuka diri, membiadabkan agama, suku, etnis yang berbeda dengan diri atau kelompok, membohongi publik, memiskinkan sesama demi memperkaya diri, hingga membunuh sesama, semua ini adalah rupa tantangan, yang membanal, yang membiasa dalam hidup kita.

Kalau disatukan, kita bilang ini semua: kejahatan. Sama seperti membayangkan apa yang bakal terjadi di puncak gunung yang kita daki, membayangkan apa yang bakal terjadi di paskah adalah suatu harap-harap cemas. Akankah keburukan yang terjadi atau kebaikan? Bekal yang cukup, keberanian yang super, mental yang kuat, dan harapan yang dijaga lestari, ini semua memang ada di dalam diri kita, namun semua ini tak cukup kokoh, apabila Sang Roh tidak berdiam di dalamnya. Sang Roh, yang menurut mata kita tidak bisa dilihat jelas tetapi dalam mata batin sesungguhnya amatlah terang.

Ia hadir. Meski ketika kita tidak menyadarinya. Ia menemani kita mendaki hingga sampai ke puncak. Artinya, Ia hadir di depan, di samping, dan di belakang kita, guna menemani kita menantang segala tantangan, yang disebut kejahatan. Kini mestinya yang membanal bukanlah kejahatan, melainkan kebaikan. Inilah harap-harap cemas yang kita upayakan di puncak perayaan itu, yaitu paskah.

We are not alone evermore. We need He who needs us to be friend to walk together.

Barangsiapa mau berjalan bersama-Nya, akanlah menemukan kebaikan yang mampu mengatasi dan menjauhkan kejahatan dari dirinya sendiri, dari lingkungannya. Kita butuh Sang Roh sebagaimana  Ia pun butuh kita. Kita berjalan mendaki bersama-Nya menuju cahaya kebangkitan, the sunrise, supaya itu menjadi terang di dalam batin yang gelap dan sumuk. Di puncak gunung, puncak paskah, the sunrise memandang kita, dan kita memandang-Nya.

Bersatulah kita dalam pesona cinta. Kebaikan memandang, dan yang mau menerima kebaikan pun memandang. Rentangkan batin. Biarkan diri diresapi oleh Sang Cahaya, agar diri meresapi Sang Cahaya. Dan seluruh diri kitapun silau akan Cahaya, menyilaukan kejahatan, sekaligus memancarkan kebaikan. Agar dunia tahu, bahwa ia tak bisa menjadi dunia tanpa Cahaya.***

*) Sabtu Membisu, 19 Ap 14, Pondok Hauma  

Leave a Reply