Cerpen: Senggulat Mbacang

4
240

Oleh: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

 

ita-13.jpg ita 61Malam-malam panjang sudah menanti semenjak kami meninggalkan kampung sebulan yang lalu. Berbekal seadanya dan keberanian serta keteguhan hati kaki kami terus berjalan mengikuti matahari terbenam. Kata Paguh, kekasihku, nanti di sebelah sana ada satu negeri yang makmur subur, di situlah kami akan menanamkan benih kerja keras, menyiram dengan cinta kami dan dengan bangga kami akan tunjukkan pada orangtuaku dan orang-orang sekampung, bahwa perjuangan kami bukan sekedar cinta monyet.

Ternyata cukup menyenangkan berkelana berdua begini. Kami bisa melakukan apa saja yang kami mau, berbagi dan saling mencurahkan cinta. Hanya, ketika gelap atau hujan turun kami sedikit kesulitan. Aku takut gelap, terkadang sungguh sulit mendapatkan penginapan. Acap kali kami tidur di alam terbuka. Apalagi kalau hujan, sungguh, aku tak kuat dingin. Itu saja, hanya itulah yang kesulitannya.

Tapi apalah arti kesulitan jika sebentar lagi kami akan sampai. Paguh yakin tekad kami berdua mampu menghidupi cita-cita kami menjadi ‘orang’ . Inilah hutan terakhir yang harus kami lewati, selepas ini usailah penderitaan.

“Ayo, kuatkan hatimu, tidak lama lagi sayangku, tidak lama lagi,” bisik Paguh sambil memeluk pinggangku.

Pagi yang cerah, matahari baru muncul. Kami bergegas menuju sungai tak jauh dari tempat kami menginap semalam, di celah-celah akar pohon kemenyan.

Aku memakai baju terbaik yang aku punya. Rambutku wangi setelah digosok Paguh dengan jeruk purut. Rasanya segar sekali. Paguh juga gagah dan wajahnya semakin dewasa, walau kulit kami sedikit menghitam. Senyum lebar menghias wajahnya menguatkan kakiku memasuki hutan terakhir. Setelah hutan ini, terbentanglah masa depan kami.

Terbayang wajah Nande dan Bapa ketika sangat berang menentang hubunganku dengan Paguh. Demikian juga orangtua Paguh. Terutama Bapa-nya sampai pernah menyumpahi Paguh tidak akan pernah berbahagia jika menikahiku.

Sungguh kekanak-kanakan para orangtua ini. Persoalan hanya soal tai burung. Bagaimana tidak, perseteruan Bapa Paguh dengan Bapaku hanya soal harga diri di masa muda, soal pembuktian siapa yang paling jantan. Sama-sama merasa dicurangi. Coba, masakan soal harga diri begini belum tuntas juga, apa tidak tai burung namanya? Umur sudah tua, sudah punya cucu kelakuan masih remaja.  Bapaku juga tidak kalah gila, mengancam tidak mau menganggapku anak dan bilang jika sesuatu terjadi padanya, semuanya adalah salahku.

Tapi sudahlah. Toh aku dan Paguh sudah bersama dan jauh dari mereka. Seperti kata Paguh, akan tiba harinya kami pulang dan menjadi perhiasan mereka yang paling berharga. Sekarang aku tidak merasa menyesal dan malu lagi ketika abangku menangkap basah kami di sapo sore itu. Jika tidak tertangkap basah mungkin sampai hari ini kami tidak akan bersama. Ya, mungkin itulah jalan kami untuk membuktikan diri.

*****

Paguh mengayun-ngayunkan parang di tangannya, menebas ranting-ranting penghalang jalan. Keringatnya berleleran di dahi dan leher. Tak henti-hentinya dia memperhatikan langkah  Malem. Dia tahu kekasihnya tak pernah menjalani hidup berat sepeti sebulan terakhir yang mereka lewatkan bersama. Baginya, membahagiakan Malem dan membuktikan diri sudah menjadi tekad bulat. Tidak akan malu kedua kali, begitu tekadnya dalam hati.

Mereka sudah berjalan lebih setengah hari, rasanya hutan semakin lebat. Sebentar lagi pasti gelap. Paguh awas memperhatikan pohon-pohon sekitar tempat menginap malam ini.

Tadi di bawah pohon mbacang mereka menemukan buah mbacang matang 3 buah.  Malam ini ada yang dimakan, cukuplah sampai besok pagi pikir Paguh. Gelap makin turun, cahaya bintang muncul satu-satu. Walau tak ada bulan, langit bersih cahaya bintang lembut menerangi malam mereka.  Api unggun kecil yang dinyalakam Paguh berderak-derak dimakan api. Malem mengupas mbacang tanpa berkata.

“Apakah kam kenyang dengan sebutir mbacang ini, sayangku?” tanya Paguh pelan sambil memakan bagiannya.

Kam juga apa kenyang?”  balik Malem.

“Hahahha… itulah yang kusuka darimu, kam tak pernah mau kalah. Terang saja tidak kenyang, itu sebabnya aku bertanya padamu,” kata Paguh tertawa.

“Ya, sama sajalah. Tapi katamu kita harus selalu sehati, senasib sependeritaan dan memang itulah yang bisa kita lakukan untuk bertahan. Apa salahnya lapar semalam tapi esok berkelimpahan?” bujuk Malem.

Paguh menimbang-nimbang sebutir mbacang yang tersisa di tangannya. Lalu katanya: ”Hoi, mbacang walau rasamu sangat manis, baumu sangat enak, walau aku masih lapar tapi tidak malam ini nasibmu masuk ke perut kami. Esok adalah takdirmu untuk dikunyah-kunyah, lalu ditelan.” Malem tertawa lebar.

“Apa mesti kam sumpahi mbacang itu seperti itu. Biar bagaimanapun itu untuk bekal esok hari, karena besok pagi kita tidak punya apa-apa untuk dimakan, jangan ditimang terus nanti malah dilahap pula,” kata Malem.

“Bagaimana aku mau melahapnya tanpamu? Aku hanya menjelaskan pada mbacang ini tentang takdirnya. Esok kita berbagi mbacang ini. Tak akan kumakan tanpamu,” tegas Paguh.

Langit makin cerah, bintang semakin banyak, api unggun mulai padam. Mereka berpelukan erat, saling mendekap, hangat, berciuman, basah. Paguh berkali-kali membisikkan kata cinta di telinga kekasihnya. Malam hangat mesra mereka selalu menggelegar dan malam ini lebih hangat dari malam biasanya. Terempas berpeluh di ujung malam. Paguh menatap wajah kekasihnya dalam. Rasanya semakin dan semakin cinta. Tekadnya membahagiakan malem semakin besar. Dibelainya mesra rambut dan wajah Malem.

Paguh menelentangkan tubuhnya di sebelah Malem, menatap bintang, teringat rumah Bapanya, kampungnya dan sahabat-sahabatnya.

“Ah.. sudahlah,” katanya sambil memegangi perut. Lapar terasa melilit.

“Uh…” Paguh melenguh sambil menekan perutnya.

Wangi mbacang menguar di udara, melintas-lintas di hidung Paguh. Melem mendengkur halus di sebelahnya. Paguh duduk, memperhatikan wajah kekasihnya. Bau mbacang sunggug menggoda.

“Apa yang akan terjadi jika aku memakannya seiris saja?” pikir Paguh.

“Tidak,” katanya lagi, “”kami sudah berjanji memakannya bersama esok.”

Perut semakin lapar. Paguh menatap lagi wajah teduh Malem, dia pasti mengerti kalau aku lapar sekali, pikirnya.

Paguh mencabut tumbuk ladanya, menimang mbacang. Ah, seiris saja, dia pasti paham, Paguh meyakinkan dirinya sendiri.

Sekelebat kelelawar mengagetkan Paguh. Ah, sudahlah pikirnya lagi. Tumbuk lada mengiris mbacang. Seiris. Paguh memakannya perlahan. Menikmati, sungguh manis rasanya. Seiris lagi tak apa, pikir Paguh lagi.

Seiris, seiris, seiris, seiris, separuh, seiris, seiris, seiris, habis. Sekarang rasanya sungguh mengantuk, Paguh merebahkan diri kembali di sebelah Malem.

*****

Matahari sudah tinggi ketika Paguh terbangun. Suara burung enggang terdengar di kejauhan, ditingkahi suara burung kecil-kecil. Malem tidak ada! Paguh terperanjat. Satu buntelan mereka juga sudah hilang, parangnya hilang.

“Apa-apaan ini? MALEMMMM!!!” Teriak Paguh berkali-kali. Berkali-kali, tetap tidak ada jawaban. Paguh panik, bingung terduduk lemas.

Tiba-tiba matanya tertuju pada guratan di kulit pohon di sebelahnya. “Ula aku daramindu Kaka, sirang jenda kita. Senggulat mbacang kepe ngenca batas atendu ngena. Malem.

Paguh terduduk lemas. Tidak mengira. Lupa jika Malem si perempuan keras kepala itu bisa marah seperti ini. Dulu dia bisa selalu menurunkan amarah Malem, tetapi kini bagaimana caranya jika orangnya sudah tidak ada? Tak sadar Paguh menjerit sekuat tenaga, mengagetkan makhluk hutan yang ada di dekatnya.

Langkahnya gontai mengemasi barang-barang yang tersisa, entah ke mana arah dituju. Buyar segala rencana dan cita-cita. Apa lagi yang hendak dikejar? Apa yang hendak dicapai?

Sejak hari itu dia hanya menurutkan kakinya membawa entah ke mana.

*****

Kuta Tengah gempar. Seminggu lalu kuta ini kedatangan seorang pengelana laki-laki berwajah dingin. Tak banyak bicara, tak pernah tersenyum. Tidur di jambur kuta bersama para lelaki lajang kuta. Sungguh piawai memainkan kulcapi dan bermain catur. Sejak kedatangannya jambur selalu dipenuhi lelaki.

Kabar yang beredar mengatakan, seluruh penghuni jambur sudah dikalahkan si pengelana dalam permainan catur. Dia juga sungguh berbaik hati setiap malam memainkan kulcapi sebelum tidur. Kata para pemuda, permainan kulcapinya membawa jiwa berkelana.

Setiap malam berganti-ganti lelaki yang melawan si pengelana di atas papan catur. Permainannya sangat lambat, selalu berlagak seolah akan kalah. Menopang dagu sambil menggelengkan kepalanya, berdecak sedih. Lalu berkomat-kamit pelan. Pelan tetapi seluruh penonton mendengar kata-kata yang diucapkannya. Sehhh… sergap lawannya. Si Pengelana lalu menopang dagu, menggelengkan kepala, berdecak lalu berucap: “Ndee…Nande Karo, karena senggulat mbacang kita berpisah….”

ita 66Sehhh…. lawan yang lain menyergap di malam berikutnya. Ndeee….Nande Karo, karena senggulat mbacang dirimu menghilang…

Senggulat Mbacang! Tiba-tiba gumam sang Pengelana menjadi buah bibir anak Kuta. Semua bertanya-tanya, apa gerangan maksudnya. Apa sebab senggulat mbacang menyebabkan perceraian? Mbacang yang bagaimanakah itu? Hampir semua laki-laki Kuta Tengah sudah berlawan dengannya dan semuanya kalah. Semuanya mendengar desahan: Ndeee..Nande Karo, karena senggulat mbacang kita berpisah.

Kisah Pengelana Senggulat Mbacang terdengar di rumah Sibayak. Sibayak lalu meminta anak berunya mengatur pertandingan catur dengan sang Pengelana. Penasaran sekali, bagaimana mungkin jagoan catur Kuta Tengah terkapar tak berdaya di tangan pengelana yang kerap menangisi senggulat mbacang.

Sementara itu itu, di dapur Sibayak suasana juga mulai heboh. Diam-diam Kemberahen Sibayak sudah mendengar cerita sang Pengelana. Hatinya berdebar dan mulai curiga dengan Sang pengelana Senggulat Mbacang. Dia mulai mengira-ngira. Perempuan-perempuan di dapur disuruhnya mencari tahu tentang Sang Pengelana, tetapi tidak ada yang tahu. Yang ada malah puja puji tentang kulcapi mautnya.

*****

Hari pertandinganpun tiba. Papan catur spesial disiapkan Anak Beru Sibayak. Buah catur besar nan indah terpampang di atas meja. Sang Pengelana sudah menunggu terlebih dahulu. Sibayak dengan baju terbagusnya, kain tenunan terbaik muncul megah di hadapannya. Pertandinganpun segera dimulai.

Kemberahen Sibayak diam-diam mengikuti dari belakang. Ingin memastikan siapa sesungguhnya si Pengelana. Tapi Kemberahen begitu sulit mengenalinya, wajah si pengelana tertutup bulang kain di kepalanya, tangannya selalu bertumpu di dahi. Sudah setengah hari, pertandingan berjalan sangat lambat. Makanan dan minuman seolah berhenti beredar, menahan nafas melihat pertandingan seru. Tak ada yang bersuara.

Tiba-tiba… Sehhhhhh……… Sibayak berkata keras mengagetkan hadirin. Pengelana tersentak, duduk tegak. Merenung berpikir lama, lalu mengguman: Ndeee….Nande Karo, senggulat mbacang membuatmu pergi dariku…. Lalu, menghindari skak mat Sibayak.

Kemberahen Sibayak tersentak. Dadanya mau pecah, sesak. Suara itu sangat dikenalnya. Dia berusaha menahan diri, tenang, tegar.

Sehhhhh……Sibayak menyergap kembali. Si pengelana tetap tenang dan murung. Lama sekali dia berpikir. Berguman lagi…. Nde.. Nande Karo, karena senggulat mbacang kita harus berpisah….

Bagai dihantam palu godam jantung Kemberahen Sibayak. Berkali-kali dia berusaha menguatkan diri. Gemetar dan dingin tangannya menahankan perasaan. Dia sudah yakin, sangat yakin, Sang Pengelana sangat dikenalinya. Petang itu, berakhir remis. Sibayak tidak puas. Meminta lagi esok dilanjutkan dengan pertandingan yang sama.

Malam itu bintang cerah bersinar, para lelaki masih berkumpul di jambur kuta. Malam ini tidak ada permainan catur, mereka hanya mendengarkan permainan kulcapi Sang Pengelana. Malam ini lagunya lain dari yang biasa. Pengelana memainkan lagu Burung Tersesat Masuk Kampung (Toldik Kepulon). Musiknya sangat menyayat, menggambarkan kebingungan dan kebimbangan, lupa arah tersesat tak tahu jalan pulang. Hilang arah dan harapan, percuma melompat ke sana kemari. Para lelaki Kuta Tengah terhanyut alunan kulcapi, membawa kesedihan dan ketakutan sang burung dalam peraduan mereka.

******

Pertandingan dimulai lagi. Hari ini sungguh lain dari biasanya, Sibayak meminta kemberahen duduk di sebelahnya. Sibayak sangat senang melihat Si Pengelana.

“Nanti malam, mainkanlah kulcapi itu untukku. Tadi malam aku mendengar lagumu, aku juga ingin mendengarnya,” katanya riang. Si Pengelana hanya mengangguk dan menatap Kemberahen Sibayak.

Hari ini sungguh berbeda dengan hari kemarin. Permainan tidak seimbang,  belum lagi sepenanak nasi, Sibayak sudah menyergapnya di atas papan. Seh! Si Pengelana terdiam. Berguman… Nde Nande Karo, senggulat mbacang membuatmu pergi dariku…..

“Dari semalam aku hendak bertanya, apakah yang kau maksud dengan senggulat mbacang?” kata Sibayak sambil menggeser buah caturnya.

“Tidak ada, karena memang hanya senggulat mbacang,” sahut si Pengelana datar.

SEH! Kali ini si pengelana duduk tegak. Posisinya sudah bahaya. Hanya ada satu jalan, jika dilakukan berarti mengorbankan banyak. Tapi, apalah artinya tumbang di papan catur, di kehidupan dia sudah mendapat tikaman lebih berdarah-darah. Ndee…Nande Karo, karena senggulat Mbacang kita berpisah.

Sungguh tidak diduga, Kemberahen Sibayak tiba-tiba menyambar tongkat kebesaran Sibayak dan memporakporandakan papan catur yang sedang sengit bertarung. Semua terhenyak! Ada apa? Apa yang kau lakukan? Sibayak berteriak keras pada istrinya. Dia menatap tajam ke wajah istrinya yang bercucuran airmata dan bernafas satu-satu.

Kemberahen tidak berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba mencabut pisau tumbuk lada di pinggang suaminya.

“Akulah yang meninggalkan dia karena senggulat mbacang, akulah yang marah padanya karena senggulat mbacang. Aku bersalah padamu, suamiku! Lalu perempuan itu menusuk lambungnya dengan pisau tajam beracun itu dan ambruk.

Si pengelana hanya terpana, lalu mengemasi barang-barangnya. Sibayak memintanya meninggalkan Kuta Tengah. Air matanya jatuh satu-satu. Sungguh tidak mengira bertemu Malem di desa ini. Tidak mengira Malem bunuh diri di depannya. Di luar gerbang kampung, sekelompok lelaki menunggunya. Paguh tidak melawan. Berkali-kali mereka menusuknya, lalu membuang badannya ke sungai.

Langit sore itu terlihat cerah di mata Paguh. Tidak dirasakannya darahnya mengalir dan habis. Sakitnya hilang ketika kemudian ditatapnya tubuhnya dibawa air ke hilir.

 

*Cerita Rakyat Karo ini pertama sekali kusaksikan di Taman Budaya Medan, ketika Bang Pulumun Ginting mementaskannya dalam bentuk musik sebagai ujian akhirnya untuk mendapatkan S-2. Cerita ini saya tulis berdasaran tafsiranku terhadap kisah ‘Senggulat Mbacang”.

4 COMMENTS

Leave a Reply