Pelayanan

0
154

Oleh: Raninta Mila (Jakarta)

 

Gereja sebagai tempat persekutuan, gereja sebagai perpanjangan Kasih Kristus di bumi dan gereja adalah orang-orang beriman yang menyatakan Kasih Kristus itu. Namun, pada kenyataan hidup, adakah gereja menyatakan kasih tanpa melihat latar belakang, status sosial? Adakah gereja memberikan pelayanan pastoral bagi mereka yang termarjinalkan?

Pekerja seks, lesbian, homo adakah tempat bagi mereka di dalam gereja atau bahkan gereja membentengi diri dari orang-orang yang dianggap berdosa atau sampah masyarakat? Jika begitu di manakah Kasih Kristus sesungguhnya?

Beberapa pekerja seks terpaksa mereka lakoni karna traficking dan bukan karna keinginan mereka. Jika pun alasannya karna keinginan mereka, selayaknya gereja merangkul mereka. Bukan sebaliknya menjauhi mereka dan menganggap mereka hina.

Semua manusia tak luput dari keberdosaan, tidak ada yang benar satu pun tidak. Jangan merasa ketika memakai jas safari dan kebaya Perancis tubuh dibalut dengan keanggunan membuat sosok kita menjadi arif. Jika hidup tidak memiliki Kasih Kristus untuk menolong mereka yang termarjinalkan maka kita semua adalah manusia-manusia yang telanjang dari kearifan.

Kita tak ubahnya seperti mereka, pekerja seksual, kaum homo dan lesbi yang mencari kesenangan sendiri tanpa memperdulikan sekitar. Jika tidak suka dengan kelakuan mereka setidaknya kita yang disebut sebagai orang beriman mau merangkulnya, menghargainya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Memanusiakan manusia bagian yang penting dilakukan untuk memperlihatkan apakah kita betul-betul bagian dari manusia itu sendiri

Ada konseling bagi kaum perempuan yang terkena KDRT atau beban hidup lainnya dan lembaga hukum yang membantu orang mendapat keadilan. Beberapa waktu lalu, ada orang mengeluhkan ketika ia harus bercerai ia diberi sanksi oleh gereja karena di dalam Alkitab dan aturan gereja tidak diperbolehkan cerai. Pertanyaannya, di mana kah kasih itu? Harus kah kita menambah beban hidup mereka dan menghakimi mereka?

Jika di Alkitab dituliskan hanya Tuhanlah yang berhak menghakimi umatnya maka mengapa kita harus mengambilalih kedudukan Tuhan sebagai hakim yang agung? Benarkah kita orang yang beriman? Atau kita juga bagian orang berdosa yang penuh dengan ketelanjangan dan birahi namun dibalut dengan jas safari dan kebaya Perancis.

Mari, belum terlambat, sudah saatnya kita berrefleksi dan memaknai hidup lebih baik. Berguna bagi sesama, menjadi sahabat bagi mereka yang termarjinalkan. Mungkin kita tidak bisa mengubah mereka, namun melalui kehadiran kita mereka mampu melihat kasih Kristus. Biarkan mereka bebas memilih jalan hidup yang mau dijalaninya tanpa kita perlu mendikte mereka harus bertobat dan ke gereja.

Manusia bukan robot yang harus diatur dan ditekan tombolnya untuk mematuhi keinginan kita. Manusia diciptakan unik. Tidak perlu merasa gagal jika mereka masih menjadi pekerja seks, lesbian atau homo. Yang jelas, tugas kita sebagai duta-duta Kasih Kristus kita lakukan dengan baik. Jikapun mereka berubah menjalani hidupnya dengan lebih baik tidak perlu membusungkan dada dan bangga karna mampu mengubah orang.

Semua itu karena keinginan pribadi orang tersebut yang dibantu oleh Roh Kudus.

Leave a Reply