Kolom M.U. Ginting: Posisi dan Profesionalisme

0
139

M.U. Ginting muginting 91Wakil Ketua Bappilu Hanura YC mengatakan: ”Saya yakin kalau bergabung mitra koalisi sudah otomatis akan pikirkan posisi-posisi.” Bagi YC, pembagian posisi akan ’otomatis’, ini artinya kesadaran di bawah sadar.


Bagi Hanura YC Wakil Kketua Bappilu ini, posisi sangat diharapkan kalau koalisi dengan PDIP. Pengalaman sejarah SBY ialah, teman koalisi model ini tak terlihat ”punya kiprah untuk kinerja terhadap kesejahteraan rakyat”. Karena itu, Jokowi punya pikiran baru. Tidak ada pembagian kursi (posisi), kata Jokowi.

Tiap tugas memang patut diberikan kepada orang-orang professional, menguasai kerjanya serta mau mengabdikan tenaga dan waktunya untuk penyelesaian kerja itu. Bukan untuk cari posisi. Posisi itu membutuhkan seseorang, bukan sebaliknya seseorang yang membutuhkan posisi/kursi.

Contoh yang sangat menarik di Eropah, Swedia, banyak posisi ditinggalkan oleh orang-orang terpilih dengan alasan tempat/posisi itu tidak membutuhkan orang seperti mereka. Artinya, profesinya tak cocok sehingga tak bisa menyelesaikan pekerjaan, atau karena tak bisa mengabdi sebagaimana seharusnya. Di negeri kita, masih kebalikannya yang terjadi. SEMUA butuh kursi/posisi. Tak urusan apakah tempat itu membutuhkan orang seperti dia atau tidak. Tak ada yang mau meninggalkan begitu saja kursinya.

Pemikiran pembaharuan, bahwa kursi membutuhkan orang yang dibutuhkan,  bisa dimulai di Karo, sebagai homogen kultur. Tak bisa dimulai di daerah yang berkultur heterogen karena tiap kultur akan berlomba menyerakahi rezeki atau mencari posisi seperti pikiran YC di atas. Bahkan ada kultur yang mau menangnya saja dari bawah sadarnya, berkebalikan dengan kultur Karo win win solution; ’sikungingen radu megersing siagengen radu mbiring’. Pepatah yang mulia ini tak bisa berkembang di tempat multikultur tanpa adanya kultur yang berdominasi seperti kultur win win solution Karo.

Ethnic diversity seriously undermines the trust and social bonds within a community”, kata Putnam seorang proessor dari Harvard.  “The effect of diversity is worse than had been imagined.”

Perubahan dan perkembangan ke arah kemajuan sangatlah masuk akal kalau dimulai di daerah. Teori Putnam ini adalah salah satu sebab utamanya. Di daerah homogeny, kultur masih bisa ngomong soal ‘melestarikan budaya dan kultur’. Ini sulit terjadi di daerah multikulti, karena tidak adanya saling percaya. Semua daerah etnis negeri ini masih dominasi tiap kultur daerah. Karena itu, tak soal melestarikan kultur dan budaya daerah. Artinya, memanfaatkan dan menggali potensi yang ada dalam kultur itu. Dalam tiap kultur ada KEKUATAN, ada potensi yang tak bisa dibayangkan atau digerakkan oleh orang di luar kultur itu.

Belakangan banyak yang keberatan dengan perumusan Putnam di atas, terutama dari pikiran lama yang ingin mempertahankan multikulturalisme abad lalu, atau ’multikulti’ yang sudah gagal total, kata Angela Merkel dan Cameron. Orang-orang multikulti ini meminta supaya text bukunya soal itu ditarik kembali. Putnam menolak karena, katanya, ini adalah kesimpulan dari bertahun-tahun penyelidikan di daerah-daerah multietnis.

Banyak contoh di Indonesia, terutama di tempat-tempat multikulti. Di sini umumnya lebih berdominasi KEJAHATAN daripada KEBAIKAN, lebih berdominasi SALING TAK PERCAYA dari pada SALING PERCAYA. Semua orang Indonesia yang hidup di tempat-tempat multikulti ini bisa kasih contoh konkret dari hidup mereka. Siapa yang mempercayai siapa, yang jujur pasti tertipu. Lengah sedikit saja bisa kecolongan. Kesimpulan teori Putnam sangat betul dalam praktek dan pengalaman hidup di tempat multikulti.

Jokowi orang jujur, simpel dan tak banyak cingcong. Berapa banyak orang akan kerja keras menipu Jokowi, mulai dari yang berpantun sampai yang berkantung. Dari tukang obral janji sampai ke neoliberal pemilik tambang, semua akan mengadu untung, pestanya pastilah akan meriah.

Kita akan saksikan semua dalam waktu dekat ini.

Leave a Reply