Kolom M.U. Ginting: Metematika Politik dan KBB

0
207

M.U. Ginting muginting 98Matematika politik ini memang ’logis’ juga kalau 1+1 bisa jadi -2 (minus 2) karena masing-masing punya minus 1 di masa lampaunya, soal lumpur dan soal HAM. Tak ada pembaharuan di sini. Hanya kombinasi langgam yang lama dalam dua partai lama. Kombinasi dua tipe lama leadership dari abad lalu.

Yang terlihat jelas dalam semua partai-partai belakangan ini ialah bahwa ’wibawa ketua’ sudah sangat berubah total di abad sekarang. Tak ada ketua yang bisa bertindak sesukahatinya seperti pada era lalu. Orang lantas meninggalkan saja atau bahkan langsung melawan dan bersikap tegas atau partainya pecah.

KEBEBASAN dan HARGA DIRI dalam bayang-bayang kepentingan rakyat (belum sepenuhnya menggambarkan kepentingan rakyat) sudah menjadi faktor penting dalam perpolitikan, terutama dalam menghadapi pemimpin dan pimpinan. Mengabdi kepada pemimpin dalam cerminan kultus individu sudah jauh tertinggal. Tak ada lagi dalam kesadaran manusia sekarang. Filsafat ’siapa lu siapa gua’ berlaku, sudah dimulai sejak era egaliter Gus Dur ketika permulaan reformasi. Ini sangat berkebalikan dengan era Soeharto, Stalin, Mao, Franco, Hitler, era ’apa saja kata Bapak’.

Transparansi dan Dialog adalah unsur-unsur yang tak dikenal di zaman orang-orang itu. Begitu juga masih berlaku secara umum di banyak partai peserta Pemilu barusan, seperti sikap dan cara-cara ketuanya yang bertindak sendiri tanpa diskusi lebih dulu. Tetapi, sikap ketua ini langsung dilawan dan ditentang seperti di PPP (SDA).

Itulah tanda perubahan dan perkembangan dalam intern partai-partai pada era abad 21, fokus dalam pilihan yang baru (diwakili Jokowi) atau tetap mempertahankan yang lama.

Transparansi masih ditabukan dalam berbagai bidang sekarang ini, terutama di bidang militer, tetapi juga masih di bidang bisnis/perdagangan. Perubahan sudah banyak, terutama dengan cara DIALOG sebagai pegangan utama dalam solusi banyak persoalan sekarang, termasuk politik besar internasional. Ukraina adalah salah satu contoh konkret. Tak ada pihak yang percaya akan bisa diselesaikan dengan cara perang, besar atau kecil. Tak ada yang percaya akan bisa diselesaikan dengan jalan Vietnam, atau Afganistan pada abad lalu.

Dendam Soviet Putin hanyalah gejala ’balas dendam’ orang-orang lama, yang belum melihat pembaruan dalam tingkat kesadaran rakyat dunia, perubahan di Barat pada umumnya. Perubahan kesadaran rakyat di ex blok Timur juga cepat, termasuk di China, negeri Komunis konservatif yang masih berusaha mempertahankan cengkeramannya atas daerah-daerah dengan kultur berbeda seperti Tibet.

muginting 97Walaupun perang/konflik antara bergagai etnis/kultur masih akan bisa berlanjut sejenak lagi, karena ini ada kaitannya dengan INTERNAL COLONIALISM dalam semua bentuk dan pencerminannya di berbagai negeri dan daerah, misalnya seperti ’pembatakan’ di Sumut tergambar sekarang dalam bentuk pura-pura tak mau mekar seperti Protap dan Sumtra yang tadinya sangat gigih mereka perjuangkan.

Internal colonialism orang Tapanuli atas Sumtim di Sumut ingin dipertahankan dengan diam-diam, dengan sendirinya juga akan menghalangi ASLAB dan propinsi Karo. Begitu juga di Aceh, ’pengacehan’di NAD tergambar misalnya dalam MOU Helsinki yang melarang pemekaran ABAS dan ALA tak boleh pisah dari NAD. Tetapi inipun bukan tak mungkin diselesaikan dengan DIALOG dan TRANSPARANSI, semua soal di atas meja seperti dibikin dalam gerakan KBB (Karo Bukan Batak).

Ini berarti masalah kontradiksi dalam kultur dalam bingkai internal colonialism, bisa ditangani dengan politik PENCERAHAN DAN HARAPAN. KBB contohnya. Perjuangan untuk keadilan dengan DIALOG. Pencerahan dalam dialog dan dialog dalam pencerahan.

Dialog dan Pencerahan dari semua dan untuk semua.

Leave a Reply