Kolom M.U. Ginting: Revolusi Mental

0
143

muginting 102M.U. GintingGejala khusus keadaan dan kualitas partai-partai politik sangat tepat digambarkan oleh DSS: “Ketidakmampuan dalam berkolaborasi dengan partai lain dan tidak cepat ambil keputusan.” Begitulah umumnya sekarang situasi partai-partai politik kita.

Perubahan situasi yang sangat cepat mengakibatkan perubahan pikiran yang juga cepat, dan bikin banyak bingung. Partai-partai umumnya sudah tak ada sandaran ideologi sehingga tak ada pegangan kokoh dan permanen. Mana yang menguntungkan saja dalam sekilas, atau ‘pragmatis’ dibilang sekarang.

Ini sangat terlihat dengan sikap berkoalisi. Hari ini dengan A, besok dengan B, berubah lagi, atau organisasinya pecah lagi, prosesnya sangat cepat. Tidak adanya pegangan dasar adalah juga tak terpisahkan dari proses perkembangan dunia yang memaksa orang yang tak berdasar untuk berdasar.

Artinya, dari dasar cari keuntungan sementara ke dasar keuntungan permanen kepentingan bersama kemanusiaan. Ini tuntutan perubahan pikiran karena perubahan zaman.

Di sini termasuk pilihan etnis Karo dalam hubungan dengan KBB. Karo sudah menentukan dan memilih dengan tegas siapa Karo sebagai etnis berdiri sendiri, punya kultur sendiri dan tertua di Indonesia (7400 tahun).

muginting 104Sekiranya Karo masih ragu dan tak bisa menentukan siapa Karo, apakah dia Batak atau Karo, situasinya akan lebih bingung lagi dalam menentukan sikap siapa kawan dan lawan dalam ethnic competition yang tak terelakkan secara nasional dan dunia. Tetapi, sekarang Karo sudah menetapkan diri. Ada pegangan dasar sebagai suku Karo, sehingga tak lagi  jadi soal bersaing dengan siapapun atau berkoalisi dengan siapapun, dan bisa cepat ambil keputusan.

Karena itu juga, suku Karo dengan dasar yang sudah pasti itu, tak ada keraguan memilih jalan abad 21 yaitu: jalan DALOG dan PENCERAHAN, Bukan kekerasan atau perang. Kedua kata ini akan melahirkan harapan bagi kemanusiaan dalam proses perkembangan dan kemajuan kemanusiaan.

Sebab lainnya ialah, karena masa transisi dunia, dari extoversi loudmouth ke introversi quite revolution, juga tergambar dalam perubahan dari era kekerasan ke era dialog.

Masa transisi ini tak bisa dilewati atau dilangkahi oleh siapapun. Semua terlibat, mulai dari tukang kepul big mouth Wall Street sampai ke politikus besar, bahkan sampai ke tukang kepul biasa (orang kecil biasa) merasakan dan terpaksa ikut menyesuaikan diri. Tak bisa lagi sembarangan seperti bersikap ‘kai pe belasina’.

Di Indonesia, pemusatan terakhir kontradiksi ini, terdapat dalam diri Jokowi sebagai Capres 2014. Gerombolan big-mouth ini melukiskan introvert Jokowi sebagai orang yang ‘tak bisa ngomong, tak bisa menulis’, dsb.

 Jokowi memang tak bisa ngomong dan tak bisa nulis. Tak bisa memformaliskan kemauan dan cita-citanya maupun kejujuran dan ketulusannya berdedikasi kepada rakyat banyak. Ini memang betul semua. Itulah Jokowi, contoh introversi tulen, contoh kejujuran tulen, dengan cita-cita pengabdian tulen dan tak meragukan sedikitpun akan melaksanakannya kalau jadi presiden.

Akan banyak orang akan menghalangi terlaksananya cita-cita mulia ini dengan mendiskreditkan Jokowi. Meski itu soal lain, tapi pasti akan terjadi. Itulah Jokowi yang mau memulai dengan revolusi mental. Dia tidak menuliskan dalam kata-kata yang muluk-muluk dan menarik. Mengertikah kalian semua apa itu revolusi mental?

Jokowi mengerti walaupun dia tak bisa menguraikan panjang lebar sehingga meyakinkan semua,tetapi dia akan melaksanakan sekuat tenaganya. Itulah keyakinan introversinya, tak terlukiskan dalam kata-kata. Atau, perlukan semua dituliskan dalam kata-kata? Bukankah melaksanakan dalam perbuatan lebih baik?

Pengertian atas revolusi mental pastilah tidak sama bagi orang introvert dan orang extrovert, terutama orang-orang extrovert loudmouth. Orang-orang ini, biar dibikin dengan formulasi apapun, tidak akan pernah mengerti atau susah untuk bisa mengerti. Karena sifat extroversinya tadi. Sifat stimulasi extern yang hanya bisa menangkap soal-soal extern praktis.

Di sini menyangkut soal otak, biologis dan genetis. Kita harus menerima saja. Bagi orang introvert harus juga menerima kalau orang extrovert ini tak akan pernah bisa menerima perumusan ini (revolusi mental). Kita akan terus hidup dalam situasi ini, dalam kontradiksi terus menerus antara introvert dan extrovert. Itu pulalah yang membikin lengkap kehidupan kita sebagai manusia dan itu pulalah salah satu tenaga penggerak perkembangan pikiran manusia.

Tetapi, kontradiksi adalah kontradiksi. Proses thesis-antitesis-syntesis (Hegel), termasuk dalam kontradiksi antara extroversi dan introversi. Salah satu diantaranya akan mencapai puncaknya dan berdominasi. Dominasi extrovert abad lalu telah mulai dikalahkan oleh introvert abad 21. Proses ini masih berjalan. Introvert belum masuk ke tingkat dominasi, tetapi sedang dalam perjalanan.

Proses ini bisa terlihat hampir dalam semua proses perubahan dunia, soal Putin Ukraina, atau juga soal koalisi dalam Pilpres 2014; antara ‘kambing’ dan ‘singa’, antara Jokowi dan Prabowo.

Leave a Reply