RIP Pdt. Em. Dr. Anggapen Ginting Suka STh

0
226

mulia sembiring 2anggapen ginting sukaMULIA SEMBIRING. JAKARTA. Mantan ketua Moderamen GBKP Pdt. Em. Dr. Anggapen Ginting Suka STh telah kembali ke Rumah Bapa hari ini [Kamis 15/5: 10.15 WIB] di RSPAD Gatot Soebroto, Jaksarta.

Saat ini, jasad pendeta yang lebih sering disebut A. Ginting Suka ini disemayamkan di rumah duka RSPAD Gatot Soebroto. Malam ini diberi kesempatan untuk melayat bagi kerabat, kenalan dan jemaat GBKP. Besok [Jumat 16/5], jasad akan diberangkatkan ke Medan.

A. Ginting Suka ini adalah orang paling lama menjadi Ketua Moderamen GBKP. Dia menjadi Ketua Moderamen GBKP pada Periode 8 (1966-1971), Periode 9 (1971-1975), Periode 10 (1975-1979), Periode  11 1979-1984, dan Periode 12 (1984-1989) .

Bagi seorang pendeta yang lahir di Desa Batu Penjemuren, Namorambe (Deliserdang) ini, waktu dan pikiran sepenuhnya dicurahkan untuk gereja adalah suatu hal yang harus. Buah dari kerja kerasnya telah banyak menghasilkan jiwa baru. Betapa tidak, ketika pertama kali dia melayani di GBKP jumlah jemaat baru sekitar 15.000 orang, Itu terjadi pada tahun 1958 awal, ketika ia ditahbiskan. Sekarang jumlah jemaat kira-kira 300.000 jiwa.

Pendeta yang telah melayani GBKP lebih dari 35 tahun ini menempuh pendidikan SD tahun 1944, SMP 1947, SMA 1953 di Siantar. Tamat dari STT Jakarta tahun 1958, dan mengambil Studi Sosial di Yale University USA 1962-1964. Dia menyelasaikan program doktor (PhD) dari SEAG Graduate School of Theology tahun 1985.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini melayani di GBKP dalam berbagai posisi, mulai dari Pendeta Jemaat, Sekretaris Klasis, Kepala Departemen GBKP, Ketua Klasis, Sekum Moderamen dan menjadi Ketua Moderamen beberapa periode. Bapak yang tinggal di Pasar Baru (Padangbulan, Medan) ini memiliki prinsip “Selalu mengutamakan hal yang terpenting dan tekun dalam mencapai tujuan”.

“Saran saya kepada Orang Karo terutama generasi muda, supaya berjuang untuk memberhasilkan cita-cita pembangunan. Untuk itu, kita harus tekun membenahi diri dalam iman dan ilmu, serta mengaktualisasikan kebudayaan suku Karo dalam hidup berbangsa dan bernegara agar kita mempunyai pegangan dan tujuan hidup,” jelas Bapak yang menguasai bahasa Inggris ini semasa hidupnya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan mendapat penghiburan dari Tuhan.

Leave a Reply