Kolom M.U. Ginting: Tari Saman di Bundaran HI

2
172

M.U. Gintingmuginting 109

Pertunjukan Tari Saman di Bundaran HI, Jakarta [Minggu 18/5] punya arti yang lumayan bagi Capres Jokowi, tetapi juga bagi semangat kesatuan negeri ini.

Tari Saman adalah tari asli tradisional Suku Gayo, tetapi sudah terbiasa disebutkan tari dari Daerah Aceh. Di sini, istilah ’Aceh’ malah dimanfaatkan oleh orang Gayo dalam arti positif.

Orang Gayo seperti juga orang Karo di Sumut, sangat patriotis nasionalis pro Soekarno ketika berjuang melawan penjajahan. Suku ini tak pernah berideologi GAM dan berada dalam situasi ’terancam’ ketika GAM perang dengan RI Jakarta. Karena itu, dukungan orang Gayo terhadap PDIP dan Jokowi punya arti bernuansa sejarah patriotisme/ nasionalisme.

Bersama dengan pertunjukan Tari Raja dari Papua di Bundaran HI, membikin arti nasional yang lebih besar lagi seperti dalam arti ’Sabang-Merauke’. Bangsa kita tentu sangat berterimakasih adanya inisiatif ’Sabang-Merauke’ ini dalam bentuk seni, tarian  yang indah.

Inisiatif orang Gayo, satu etnis minoritas Indonesia tetapi bersama Karo sebagai etnis dengan kultur tertua di negeri ini (7400 tahun), dalam menunjukkan Tari Saman Gayo di Bundaran HI, merupakan satu kegiatan yang sangat banyak artinya bagi Gayo maupun bagi Indonesia terutama sekali dengan dimunculkannya pertunjukan kedua macam tari itu (Tari Saman dan Tari Raja).

Bravo Gayo

(Jika diam saja tak akan ada perubahan)

2 COMMENTS

  1. Konflik akibat pemekaran
    Dalam alam demokrasi, suatu ide sangat dihormati. Konflik akibat perbedaan pendapat adalah biasa. Yang tidak biasa adalah jika menggunakan kekuatan2 militer dan senjata untuk memaksakan kehendak. Kalau sekarang yang popular adalah militer mesir yang melawan demokrasi, demikian juga yang terjadi pada kasus pemekaran wilayah Aceh. GAM memang sudah tersebar ke seluruh wilayah Aceh. Mereka menjalankan aksi intimidasi dan menyuap untuk menggagalkan pemekaran. Jadi kalau anda ke kampung-kampung melihat orang menggunakan T shirt (kaos) dimasukkan dalam celana jin dan bersepatu kulit itulah seragam GAM yang suka mengintimidasi. Mereka ada di TPS jika pemilu. Mereka ada datang ke tokoh2 saat ada perbincangan. Mereka ada di warung-warung kopi. Keberadaan mereka adalah terror bagi rakyat Aceh, baik ‘aceh’ maupun ‘non aceh’. Jika anda orang aceh dan tidak menurut kata-kata mereka, maka dipastikan malam ini anda tidak pulang. Polisi ? tidak berdaya. TNI ? sudah terperangkap undang-undang untuk tidak boleh bermain. Siapakah yang melindungi rakyat aceh ? sedangkan parpol2 asyik mencari suara. Demokrat sama blangsaknya dengan GAM karena mau berselingkuh hanya demi kemenangan Demokrat dan SBY. Prabowo ? sekali tiga uang. Lihatlah hasil perselingkuhan ini di april 2014, bisa dipastikan Gerindra dan Prabowo (apabila mencalonkan) akan mendapatkan suara 100% kurang sedikit di Aceh.
    http://politik.kompasiana.com/2013/08/14/cerita-dibalik-pemekaran-aceh-583650.html

    NB.
    Gerindra dan PD dapat suara terbanyak di Aceh dalam pileg April 2014, walaupun pada masa konflik GAM, TNI dan Kopassus paling aktif menumpas GAM. Lobbi-lobbi kepentingan politik dan perubahan perpolitikan di Aceh, banyak menghasilkan suara pileg yang ’tak normal’. Isu pemekaran ALA/ABAS tak lepas dari lobbi politik kekuatan GAM sebagai penghalang terakhir perkembangan dan perubahan di Aceh. Memecah gerakan ALA juga salah satu cara, dengan mengangkat Iwan Gayo oleh pemerintah Aceh jadi kepala desa terpencil. Tetapi intermezzo ini tidak bisa menghalangi pemekaran.
    MUG

  2. Suku Gayo pencinta Bung Karno pro PDIP,telah terbukti pada pada pileg kemarin, dimana masyarakat Gayo punya tekat harus punya wakil di DPR RI maka terpilihlah Tagore Abubakar caleg PDIP No.urut 6. Tagore Abubakar pernah jadi Bupati Kab. Bener Meriah.

Leave a Reply