Melaka, Kota Tua

0
229

ita-13.jpgOleh: Ita Apulina Tarigan

 

Perjalanan ini sudah setahun yang lalu, tepatnya di bulan November 2013. Kebetulan ada libur yang berdekatan di weekend, jadilah perjalanan singkat ke Melaka.

 

melaka 6
Sebuah benteng tua di Melaka

Mengapa saya niat sekali ke Melaka? Ceritanya panjang, tetapi singkatnya sejarah kuno Karo dan Sumatera terkait erat dengan Melaka, termasuk intrik-intrik di selat paling ramai di Asia yang bergelar sama dengan kota ini. Itu semakin memantapkan hati berkunjung, ditambah mendapat tiket promosi dari Tiger Mandala, hanya Rp 800 ribu Surabaya – Kuala Lumpur, pp.

Baiklah, kita mulai perjalanan di Melaka, sebuah negeri yang kaya yang merupakan kota penting di Asia pada abad 15. Melaka pernah disinggahi oleh Laksamana Ceng Ho dari China pada 1409. Dia mencatat tentang sebuah kota yang didirikan oleh Raja Parameswara. Berbenteng kayu yang kuat dan mempunyai 4 pintu.  Kota ini adalah Bandar perdagangan yang ramai, Sungai Melaka adalah jalur lintas utama dari laut ke darat, termasuk membawa barang-barang dagangan.

Di tahun 1511, melalui sebuah pertempuran yang hebat Portugis menaklukkan kota ini. Laksamana  Alfonso de’Albuquerque tidak hanya menaklukkan tetapi menghancurkan kota ini, sehingga kemudian dia merencanakan seluruh kota dibangun dari batu. Kemudian dia membangun kota di atas bukit yang dinamai A Fomosa yang artinya Kota Yang Termasyur. Reruntuhan gerbang kota ini dapat ditemui di kaki Bukit St. Paul yang disebut ‘Porta de Santiago’.

melaka 2
Gereja St. Paul

Di Bukit St. Paul terdapat reruntuhan gereja St. Paul. Menurut prasasti yang tertulis di situ, dulunya gereja ini dibangun seorang kapten Portugis yang selamat dari pertempuran di laut China Selatan, bernama Duarto Coelho. Chapel ini disebut Chapel Bunda Maria yang diberi nama ‘Nosa Senhora-Our Lady On The Hill’. Francis Xavier selalu menginap di Chapel ini setiap berkunjung ke Melaka pada kisaran tahun 1545-1553.

Ketika Francis Xavier meninggal di Pulau Sancian, jasadnya dimakamkan di gereja ini selama 9 bulan, kemudian dipindahkan ke Goa, India. Di tahun 1961, Belanda bersama Kerajaan Johor menghabisi kekuasaan Portugis di Melaka dan merubah gereja ini menjadi gereja Protestan, sampai kemudian dibiarkan menjadi gudang senjata setelah Belanda membangun Gereja Kristus di tahun 1753.

Situasi politik di Eropa pada tahun 1795 membuat seluruh jajahan Belanda di Asia harus diserahkan kepada Kerajaan Inggris untuk sementara waktu. Pada masa ini, Inggris memusnahkan Kota Fomosa pada tahun 1806. Pemusnahan ini dilandasi oleh keraguan Inggris akan Belanda memanfaatkan kembali Kota Fomosa untuk membangun kekuatan. Atas perintah Gubernur Inggris di Pulau Penang waktu itu, William Farquhar meledakkan Melaka, sehingga sebagian besar hancur.

Melaka Kini

Untuk mencapai Melaka dari Kuala Lumpur sangatlah mudah. Begitu anda menjejakkan kaki di di kedatangan Internasional, segera beralih ke kedatangan domestik. Di kedatangan domestik, akan mudah menemukan loket-loket bus yang akan membawa kita ke kota-kota besar di Malaysia. Untuk ke Melaka, carilah loket Bus Transnasional. Jurusan ke Melaka akan tetap mereka layani hingga Pukul 08.00 waktu setempat. Membutuhkan waktu 2 jam untuk mencapai Melaka. Biayanya hanya sekitar RM 24.1

Sesampai di Melaka, bus akan berhenti di terminal bus Melak. Carilah Panorama Bus No.17. Dalam waktu 30 menit bus ini akan membawa anda ke pusat kota tua. Turunlah di Gedung Merah atau Stadhuys. Ongkosnya hanya RM 1. Turun di Stadhuys, anda sudah berada di pusat Melaka. Dari sini, silahkan berjalan kaki ke jembatan di seberang menuju Jonker Street.

 Jonker Street adalah pusatnya para turis, termasuk backpacker. Silahkan memilih penginapan di sini, mulai dari Rp 80 ribu – Rp 150rb/malam. Dengan Rp 80 ribu anda sudah mendapatkan mandi air panas, single bed dan bertemu dengan berbagai macam manusia dari seluruh belahan bumi.

Di Stadhuys anda akan langsung melihat Christ Church yang dibagun Belanda pada 1573. Gereja ini masih dipakai hingga sekarang. Di dalam gedung ada sebuah prasasti yang menuliskan nama Reverend yang bertugas sejak gereja berdiri. Di tahun 1970-an nama-nama Reverend mulai terlihat Asia, yaitu Melayu dan China. Di dalam gereja ini juga makam-makam orang-orang penting yang dikuburkan di dalam, awal-awal gereja berdiri. Batu nisan mereka tertempel di dinding dan di lantai gereja.

Di depan gereja ada air mancur Ratu Victoria dan jam yang dihadiahkan Kerajaan Inggris kepada rakyat Melaka. Perjalanan dapat dilanjutkan ke gerbang kota A Fomosadi  Bukit St. Paul, ‘Porta de Santiago’. Terus naik melalui tangganya, anda akan berjumpa dengan reruntuhan Gereja St. Paul. Dalam gereja ini juga terdapat makam-makam dan nisan yang jauh lebih tua daripada di Christ Church. Memasuki reruntuhan gereja ini terasa mistis dan senyap, walaupun banyak wisatawan di dalamnya.

Salah satu makam yang bisa dibaca pahatannya dan diberi terjemahan Bahasa Inggris, berbunyi demikian:

“Tuhan membawa roh anak lelaki sulung dan anak perempuan kami ke surga dan meninggalkan jasadnya dikebumikan di sini. Terbaring bersama dengan damai adalah Daniel Massis Junior yang dilahirkan pada 21 Juni 1658 dan meninggal pada 14 February 1660 dan adiknya Sophia Massis yang dilahirkan pada 21 Juni 1664 dan meninggal pada 11 November 1665.”

Setelah hanyut dengan nisan-nisan tua ini, silahkan melanjutkan kembali ke Jonker Street. Jonker  adalah nama lain dari Laksamana Hang Tuah. Beruntung sekali, pas di sana rakyat Melaka sedang merayakan ulang tahun ke 608 mendaratnya armada Cheng Ho di Melaka. Di jalan masuk Jonker Street, ada miniatur kapal armada Cheng Ho, lengkap dengan segala sajiannya.

melaka 4Menyusuri Sungai Melaka akan membawa sensasi sendiri, baik berjalan kaki atau menggunakan boat. Apalagi masuk ke jalan-jalan kecil di tengah kota, bangunan-bangunan tua di Pecinaan tak kalah menariknya. Di sini, anda akan menemukan Kuil Hindu bersebelahan dengan Kelenteng China dan juga mesjid.

Di Melaka terdapat kelenteng tertua di Malaysia bernama Cheng Hoong Teng Temple. Cheng Hoong Teng berarti Awan Bersih dalam bahasa Hokkien. Didirikan pada tahun 1645 oleh pemimpin kelompok China di Malaka di masa itu yang bernama Tay Kie Ie. Hingga kini, kelenteng ini masih dipergunakan sebagai tempat beribadah.

Masih banyak bangunan dan tempat bersejarah di kota ini. Tak heran kemudian UNESCO mencatatnya sebagai salah satu warisan dunia. Sebagai kota warisan duni, kelihatan sekali warganya sadar akan kekayaan mereka. Contoh kecil, bagaimana mereka mengelola kebersihan masing-masing, sehingga sungguh mustahin menemukan sampah di sini.

Tiga hari belumlah cukup di Melaka. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk berkunjung kembali.

Leave a Reply