KBB, Debat dan Publik

1
177

Oleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

 

robinson g. munthe robinson munthe 16Umumnya orang yang belum memahami,  menganggap sosialisasi pencerahan KBB adalah gerakan yang didasari sakit hati, iri hati, perasaan dikalahkan, eksklusivisme, naif dan sukuisme yang sempit. Itulah sebabnya dibutuhkan data, fakta dan pendapat para ahli yang kompeten dalam berargumentasi.

Tapi jangan lupa, sekuat apapun dan sebaik apapun kita berargumentasi akan selalu ada orang yang tidak setuju dengan melontarkan argumentasi yang kontra (baik masuk akal maupun masuk tong sampah). Karena itu, ketegasan dalam menentukan sikap sangat diperlukan, yakni sikap atas kebenaran KBB dan sikap untuk sesegera mungkin meninggalkan debat yang mengarah ke debat kusir, karena debat kusir tidak efektif dan mencederai kehormatan gerakan KBB di mata publik.

Diperlukan kecermatan dan kejelian untuk mendeteksi apakah sebuah debat akan mengarah pada debat kusir atau tidak. Tanda-tandanya adalah kalau seseorang sudah menyerang karakter (pribadi ataupun etnis), penggunaan kalimat sarkastis yang merendahkan, ke luar dari topik bahasan dan argumen yang kacau (asal menjawab). Jika perbincangan telah mengarah ke sana, segeralah tinggalkan debat dengan kata-kata penutup (kata kunci) karena debat itu tidak akan menguntungkan KBB.

Ingat, medan sosialisasi KBB demikian luas dan beragam. Jangan pertahankan berdebat hanya karena menjaga gengsi diri (takut kalah malu). Aktivis KBB adalah representasi suku Karo yang cerdas, santun, taktis, kuat dan berakal budi. Namun jika debat/ diskusi masih dalam konteksnya, maka layanilah perdebatan sampai tuntas sehingga orang tersebut memahami secara jelas sudut pandang yang mendasari KBB. Entah dia setuju atau tidak setelah itu, bukan masalah.

Tujuan berdebat bukan untuk menang-menangan dan menunjukkan keunggulan pribadi, tetapi menjelaskan dan menyebarluaskan tentang kekaroan dan memperkuat positioning Karo di masyarakat. Tak ada gunanya menang berdebat (dan orang merasa kalah dan dipermalukan) jika pada akhirnya citra Karo rusak di mata publik.

Pasar KBB adalah publik. Khususnya di media sosial/ umum. Selain dengan rekan berdebat, orang lainpun bisa melihat kualitas kita sebagai orang Karo. Itu satu hal  yang harus selalu menjadi pertimbangan.

1 COMMENT

  1. Harus memang jadi pegangan kita kalau akan ada selalu yang tidak setuju KBB. Kelihatan formulasi sederhana tetapi benar dan objektif, dalam segala soal selalu ada yang tidak setuju. Satu bukti ialah bahwa sampai sekarang juga ada orang Indonesia yang lebih setuju dengan penjajahan, hidup dulu lebih baik katanya. Begitu juga dengan era Orba. Tetapi dengan kegigihan kelompok pejuang kemerdekaan maka jumlah orang ini berkurang dan semakin sedikit sehingga tak berarti lagi. Begitu juga pengikut Orba, begitu juga dalam KBB. Semakin gigih pejuang KBB semakin sedikit penentangnya seperti juga semakin sedikit jumlah pro Orba yang menginginkan kembmali ke era Orba atau pro kolonial yang menginginkan kembali ke era kolonial.
    Contoh lainnya yang sangat nyata ialah dalam soal pilpres, pro ‘singa’ atau pro ‘kambing’, akan terus berlaku sampai 100 th lagi kedepan. Dan dalam setiap pemilihan ada a35-40% ‘swing voter’. Mereka ini akan menentukan siapa yang berhasil merebut hatinya dan menentukan arah terakhir swing votes ini. Sama halnya dengan KBB, perlu kerja keras, gigih dan bikin pencerahan yang meyakinkan 40% yang belum mengerti KBB.
    MUG

Leave a Reply