Bangso Batak Tentukan Siapa Karo?

5
445

bangso batak 3BRANDY KARO SEKALI. MEDAN. Pesta Bangso Batak yang diagendakan berlangsung pada Senin 7 Juli 2014) di Stadion Teladan Medan merupakan acara yang digagas oleh pemuda-pemuda dari Toba (Batak). Akan tetapi, mereka mengklaim bahwa kegiatan ini didukung oleh 5 puak Batak dimana Suku Karo disebut-sebut sabagai salah satunya.

Menurut rencananya, panitia akan mengadakan berbagai acara, diantaranya Pegelaran Seni Budaya dan Tradisi Batak 4 puak, deklarasi Hari Kebangkitan Generasi Muda Batak dan Budaya Batak, Deklarasi Pelantikan Forum Generasi Muda Batak (FGMB), pemberian penghargaan kepada penggiat budaya dan dan tokoh adat Batak 5 puak. Acara ini juga akan dihibur oleh berbagai artis serta seniman daerah dan ibukota.

Mengingat selama ini kebanyakan orang Karo sangat tidak nyaman disebut sebagai bagian dari Batak, beberapa pemuda Karo di dunia maya mempertanyakan keberadaan kegiatan Pesta Bangso Batak melalui laman grup kegiataan ini di Facebook. Ketika ditanyakan siapa saja orang Karo yang turut mendukung kegiataan Pesta Bangso Batak, beberapa orang yang diduga turut dalam kepanitiaan acara ini tidak dapat menjawab dengan jelas.

Pada awalnya disebutkan ada orang Karo yang mendukung bernama Juanra Ginting. Tapi, ketika diklarifikasi siapa yang bernama Juanra Ginting itu, pihak pengelola grup facebook kegiatan Pesta Bangso Batak tidak memberikan jawaban apa-apa. Kemudian disebutkan pula bahwa ada beberapa dosen Fakultas Sastra USU yang orang Karo turut mendukung kegiatan mereka. Tapi ketika dipertanyakan siapakah nama dosen tersebut, juga tidak dijawab oleh pengelola Facebook Bangso Batak ini.

Kini beberapa pemuda Karo yang mencoba mengklarifikasi terkait kegiatan Pesta Bangso Batak yang mengikutsertakan Suku Karo telah diblokir dari grup Facebook tersebut. Beberapa status pemuda Karo yang mempertanyakan pengklaiman Karo sebagai bagian dari Pesta Bangso Batak juga telah dihapus.

Sejauh ini belum diketahui secara pasti tujuan dan manfaat dari kegiataan Pesta Bangso Batak tersebut. Apakah Pesta Bangso Batak ini juga ada kaitannya dengan kegiatan politik praktis dengan mengatasnamakan dukungan dari semua suku yang mereka katakan bagian Bangso Batak? Sejauh ini juga tidak diketahui secara pasti, mengingat belum ada klarifikasi resmi yang didapatkan dari pihak terkait.

Sebagaimana diketahui dari pemberitaan sebuah media masa terbitan Medan sebelumnya, tak ada seorangpun yang orang Karo ada di dalam kepanitiaan.

“Ketika kita mengatakan Karo Bukan Batak, mereka marah-marah dan mengatakan kita begu ganjang yang lepas dari kandang. Apa mereka yang menentukan siapa sebenarnya Karo atau orang Karo harus mendengar wejangan dari orang-orang bukan Karo tentang siapa sebenarnya Karo?” Kata seorang merga Tarigan kepada Sora Sirulo dengan wajah kusam.

5 COMMENTS

  1. Toba kan = jering.. dengan kata lain mbau… organisasi bangso batak bukan untuk menyatukan suku batak tapi memperburuk persaudaraan suku batak. Karena toba ga pernah memasukkan orang Karo. Tapi selalu menulis kalau Karo ikut dalam organisasi mereka dan kegiatan mereka. Tapi buktinya sekalipun Karo ga pernah diikutkan.. dasar jering..

  2. Setuju bg MUG.. Kalo bisa kedepan ny kita lebih kompak dan jangan setengah2 mengungkapkan pendapat dan tujuan kita. Harus bersatu!!!

  3. “Jika diam saja tak akan ada perubahan”
    Itulah yang dipakai oleh ‘bangso batak’ dalam taktik survivalnya sebagai satu etnis dalam ethnic competition secara nasional maupun regional di Sumut.
    Kita masih ingat di Cililitan dimana Jokowi di’kerjakan’ jadi Batak Karo.
    Sudah itu di SIB dibikin pula marganya Pertangin-angin, marga ‘batak’.

    Di Kabanjahe bikin ‘organisasi horas’ dalam menyambut SBY pertama kalai ketika bencana Sinabung. Bikin organisasi budaya Batak dengan mengikutkan orang-orang Karo a.l. sebagai sekjen. Abad lalu memang ada fenomena ‘karo jadi ketua’. Walaupun ini sudah berkurang tetapi bukan berarti berhenti.

    ‘Batak’ sebagai organisasi akan terus dan akan terus giat, karena ini adalah salah satu taktik survival tadi dalam ethnic competition. Competition ini masih akan terus selama masih ada etnis-etnis dalam berbagai kultur yang masing-masing akan terus menjaga dan mengembangkan existensinya. Siapa yang mau hilang atau dihilangkan oleh yang lain. Pembatakan sudah jelas adalah taktik damai ‘menghilangkan atau melenyapkan’ yang lain secara perlahan dari segi kultur dan budaya. Banyak contohnya, dari dekat bisa dilihat suku Pakpak dan Simalungun di Sumut, dan di Aceh seperti suku Alas dan Gayo.

    “selama ini kebanyakan orang Karo sangat tidak nyaman disebut sebagai bagian dari Batak”, kata BKS. Sangat betul memang, siapa yang merasa nyaman kalau dibilang ‘kau itu bagian dari suku kami’. Masalah suku bukan soal siapa memiliki siapa, tetapi adalah masalah saling mengakui, saling menghormati dan saling menghargai tiap etnis, tiap kultur, tiap bahasa etnis bersangkutan dalam bhinneka tunggal ika. Itulah yang betul dan itulah yang harus kita selalu perjuangkan. Perjuangan KBB berintikan persoalan 3 saling ini. Tak ada jalan lain dalam mencari dan memelihara kedamaian sesama etnis di negeri multi etnis, negeri bhninneka tunggal ika ini.

    DPR telah bikin uu pemekaran Protap, tetapi mengingat begitu galaknya tadi perjuangan Protap ini, bahkan sampai mengorbankan ketua DPRD Sumut, tetapi kegiatan dan nafsu besar itu sekarang jadi tak terlihat lagi. Ada apa dengan protap? Dan juga Sumtra? Ini tak bisa dipisahkan dengan KEKUASAAN di Sumut, siapa yang akan berdominasi kalau kedua suku dominan ini (Batak dan Mandailing) bikin propinsi sendiri meninggalkan Sumut. Ini ada kaitannya yang sangat ketat dengan INTERNAL COLONIALISM di Sumut atas etnis Karo, Pakpak, Simalungun, Melayu pantai sebagai penduduk asli dan pemilik tanah ulayat di Sumtim. Salah satu dari pemerakarsa Sumtra telah bilang sejak semula terus terang saja, dia lebih menginginkan jadi ‘gubsu’ dari Tapsel seperti jaman lama. Begitu juga orang Batak sangat ragu meninggalkan dominasinya di Sumut atau lebih tepat di Sumtim sebagai daerah ulayat suku lain selain suku Batak dan suku Mandailing.

    Jika diam saja tak akan ada perubahan, . . . orang Batak dan Mandailing tidak diam, supaya ada perubahan disuku mereka. Karo juga tidak diam, sudah kita tunjukkan. Yang diam pasti kalah, dan kekalahan bukan bikin damai tapi bisa menciptakan perang. Dan perang bukan jamannya lagi. DIALOG kita teruskan. Karo telah jadi contoh terbaik dalam menyebarkan pencerahan dan harapan bagi kita semua, semua etnis bhinneka tunggal ika. Karo tidak diam, karena diam saja tak akan ada perubahan,

    MUG

  4. Ini susah keterlaluan.. Ga bisa di diamin ini tingkah laku toba!! Biar Semua warga Karo paham, kalo selama ini toba sudah sok jagoan mengklaim dan menghina Suku Karo!!!! Perlu pindakan lebih lanjut ini…

Leave a Reply