Kolom Ita Apulina Tarigan: Hari Ini, Jokowi !

1
134

[box type=”shadow”]

ita-13.jpgSaya ingin menutup hari  dengan indah. Kemarin, berdebar mengikuti debat Capres yang gemilang, dan hari ini, Taneh  Karo dikunjungi oleh Jokowi.

[/box]

 

 

jokowi 10
Jokowi di sebuah Posko Pengungsian (Kabanjahe) [Selasa 10/6] (Foto: NGGUNTUR PURBA)

Mungkin bagi banyak generasi sekarang, tidak terlalu mengenal Karo. Saat ini namanya sedikit mencuat karena Sinabung mencari perhatian, selebihnya Karo tenggelam di bawah bayang-bayang kata ‘Batak’ dari Sumut. Padahal Karo, punya diri sendiri. Lekatnya ideologi Marhaenis dan Komunis di kalangan Karo, membuat orang Karo terhalang di Orde Baru. Tidak terlalu ligat beradaptasi seperti suku tetangganya.

Bagi kami orang Karo, perkenalan dengan Indonesia, jauh sebelum masa Kebangkitan Nasional. Di Pancurbatu (Arnhemia), di awal abad 19, telah dicetak koran-koran terbitan Kapitalis dan Komunis, peperangan ideologi pembebasan dan penindasan bergulir di sini. Belum lagi dengan perjuangan gerilya Datuk Sunggal melawan  modal asing di Sumatra Timur yang dikoordinir Belanda, yang bekerjasama dengan Sultan Deli membabat hutan-hutan Karo untuk dijadikan perkebunan.

Orang Karo sangat Sukuis sekaligus Nasionalis, kata Juara R. Ginting dalam sebuah makalahnya yang dia sampaikan pada acara 100 Tahun Soekarno di Amsterdam 13 tahun lalu. Itu sebabnya mereka cinta setengah mati pada Bung Karno. Sepanjang Republik ini berdiri, kerasnya pergolakan di Sumatera, sekalipun orang Karo tidak pernah berkhianat kepada NKRI.

Saya pribadi sekarang mengerti mengapa Jokowi dielu-elukan orang Karo. Kata ‘Bhineka Tunggal Ika sudah final’ adalah fajar baru untuk Indonesia yang sekarang tenggelam dan mundur dalam soal menghayati perbedaan. Jaminan seperti ini sangat dinantikan rakyat Indonesia yang beragam, tidak dijegal menjadi diri sendiri, tidak hanya menjadi komoditas politik oleh kelompok mayoritas, menyuarakan suaranya sendiri.

Damainya Sinabung hari ini (setelah beberapa hari lalu memuntahkan abunya) mungkin seiya sekata dengan pengharapan baru ini. Rakyat tidak meminta banyak, hanya terjamin haknya setara sebagai warga negara Indonesia dan diperlakukan secara adil.

Saya akhiri dengan sebuah lagu dari kampung halaman, Taneh Karo tercinta, gendang ini akan menghantarkan Jokowi menuju harapan baru Indonesia.

1 COMMENT

  1. Alampun ikut menyemangati Karo dan Jokowi, Sinabung ikut mengantarkan Karo ke puncak yang lebih tinggi.
    ‘harapan baru’ (IAT) dan dengan tekad bersama pasti akan menjadi kenyataan baru, bagi Indonesia dan juga bagi Karo, kultur dan daerahnya.
    Bhinndeka tunggal ika ‘sudah final’ kata Jokowi. Artinya tak ada lagi soal selain tinggal memanfaatkan kekuatan atau potensi yang tersirat dalam kebhininnekaan atau perbedaan-perbedaan itu. Kekuatan/potensi perbedaan inilah yang akan mengangkat tinggi negeri bhinneka tunggal ika ini ke puncak baru yang akan mengagumkan seluruh dunia.

    MUG

Leave a Reply