Kolom M.U. Ginting: KBB, Zona Aman dan Perubahan

1
139

M.U. GintingTadi pagi saya mendengar seorang guru besar dari salah satu universitas mengatakan dia tidak lagi memberikan kuliah seperti 20 tahun lalu. “Apa yang saya kuliahkan, mahasiswa bisa baca sendiri. Tiap orang bisa mencari bahannya atau bukunya di perpustakaan atau dengan menggoogle di internet,” katanya.

 

mahansa 1

“Perkembangan pengetahuan sangat cepat, berbeda dengan apa yang pernah saya kuliahkan 20 tahun lalu,” katanya lagi menambahkan.

Oleh karena itu, kwalitas perkembangan dan kemajuan seorang studen tidak lagi banyak tergantung pada si pemberi kuliah, tetapi pada kegiatan studen dalam MEMBACA DAN MENULIS. Pembicaraan ini tadi berlangsung dalam rangka masih pentingnya terus dihiidupkan perpustakaan di samping internet sebagai laboratorium besar abad 21.

Yang lainnya yang melekat dalam benak saya ialah soal KREATIFITAS para mahasiswa. Faktor apa yang menentukan perkembangan kreasi ini? Sangat menarik bagi saya saat dikatakannya: “Keluar dari zona aman adalah syarat utama lahirnya kreasi.” Jadi, selama studen masih tak mau keluar dari zona aman itu tak akan ada kreasi dan pembaruan baginya.

Saya jadi teringat KBB dan perjuangannya. Pada mulanya sangat tak mau kita meninggalkan zona aman kita. Misalnya, pikiran kalau diketahui orang Batak maka persahabatan bisa mundur. Orang-orang yang berani keluar dari zona aman ini sering terpaksa emosi, berlaku bagi kedua pihak. Masih banyak tercatat dalam ingatan kita, ketika pada permulaan kita nyatakan ‘perang’ KBB. Sekarang telah banyak yang berubah, dalam perdebatan dan diskusi KBB.

“Bagi para aktivis KBB sendiri dari waktu ke waktu tampak makin matang dan kuat dalam argumen-argumen mereka dengan data dan fakta-fakta yang relevan dalam mendukung KBB,”  kata Robinson G. Munthe.

Inilah perubahan itu. Hebat memang aktivis KBB. Mengapa bisa mencapai perubahan yang begitu pesat?

[one_third]tegas meninggalkan zona aman[/one_third]

Tentu karena semakin banyak orang Karo terutama anak-anak mudanya dengan suka rela dan ada yang dengan tegas meninggalkan zona aman tadi. Dan, yang lebih dahsyat lagi ialah bukan hanya meniggalkan zona aman itu, tetapi juga kita telah berusaha mengubah zona aman itu menjadi satu LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PENCERAHAN bagi suku Karo dan juga bagi suku-suku lainnya. Kita tidak berusaha meninggalkan tetapi malah berusaha mendalami dan mengembangkan.

Zona aman yang tidak menyambut Jokowi dengan ucapan Mejuah-juah atau tidak mengganti B dalam GBKP, kita sikapi dengan sopan santun, menganalisa dan mempelajarinya dari semua segi ilmu. Di situlah KBB dengan peranannya yang semakin dibutuhkan dalam perjuangan Karo sebagai etnis berdiri sendiri, satu culture entity yang sederajat dengan suku-suku lainnya.

Zona aman lainnya yang kita dulu sungkan meninggalkannya ialah MENULIS. Tetapi, inipun sudah banyak perubahan di kalangan orang Karo, sudah banyak yang menulis, pendek atau panjang, bagus atau tidak, benar atau tidak, dangkal atau mendalam, tetapi sudah banyak yang MENULISKAN. Meninggalkan zona aman satu ini penting bagi Karo untuk melahirkan atau bikin kreasi artinya bikin pembaruan.

Saya baca tulisan soal hierarki kebutuhan di www.sorasirulo.com. Hierarki ke 3 ialah soal ‘kebutuhan sosial’ atau Maslow tulis dengan istilah ‘belonging needs’. Istilah ini lebih tepat karena menyatakan termasuk suku mana tiap manusia. Maslow seorang Yahudi, dia sangat terikat dengan keyahudian. Karena itu dia pakai istilah belonging needs.

KBB menunjukkkan dengan sangat analitis mengapa orang Karo membutuhkan belonging needs ini. Sudah semakin banyak orang Karo yang mengerti dan meyakini pentingnya tiap orang Karo berafiliasi ke suku mana.

Tiap orang Karo tak mungkin meningkatkan kebutuhannya ke nnomor 4 (esteem needs) kalau yang ke 3 ini belum terpenuhi. Juga tak mungkin ke tingkat 5 self-actualization. KBB akan terus berusaha supaya tiap orang Karo bisa mencapai kebutuhan hierarki ke 3 ini, sebagai syarat utama untuk bisa maju ke hierarki kebutuhan yang lebih tinggi.

KBB sudah banyak bikin perubahan.

1 COMMENT

Leave a Reply