Kekerasan Pada Anak dan Dampaknya

1
1704

lahargo profil 2Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ

Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi, Bogor 

 

 

 

Akhir-akhir ini banyak sekali kita saksikan dan dengarkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang/ sekelompok orang terhadap orang lain. Kekerasan yang dilakukan bisa memiliki banyak alasan dan motivasi, tetapi perilaku kekerasan yang dilakukan memiliki dasar pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya. Salah satunya adalah pengalaman mengalami perlakuan kekerasan pada masa kecil.

Kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk tindakan/ perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya yang mengakibatkan cidera/ kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh-kembangnya anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggungjawab.

□       Kekerasan fisik adalah kekerasan yang mengakibatkan cidera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya ada dalam kendali orangtua atau orang dalam hubungan posisi tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan.

□       Kekerasan seksual adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau dengan anak lain.

Aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi pelaku. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan, memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, perkosaan, hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest) dan sodomi.

□       Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak meremehkan anak, mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek, atau menertawakan, atau perlakukan lain yang kasar atau penolakan.

□       Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya seperti kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah  atau tempat bernaung, dan keadaan hidup yang aman yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh. Penelantaran anak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial.

Kelalaian di bidang kesehatan seperti penolakan atau penundaan memperoleh layanan kesehatan, tidak memperoleh kecukupan gizi, perawatan medis, mental, gigi, dan pada keadaan lainnya yang bila tidak dilakukan akan dapat mengakibatkan penyakitnya atau gangguan tumbuh kembang. Kelalaian di bidang bidang pendidikan meliputi pembiaran mangkir (membolos) sekolah yang berulang, tidak menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, atau kegagalan memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus.

Kelalaian di bidang fisik meliputi pengusiran dari rumah atau menolak sekembalinya anak dari kabur dan pengawasan yang tidak memadai. Kelalaian dalam bidang emosional melipti kurangnya perhatian atas kebutuhan kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan terhadap pasangan di hadapan anak dan pembiaran penggunaan rokok, alkohol dan narkoba oleh anak.


[one_third]
Dampak Kekerasan Terhadap Anak[/one_third]

Korban atau kasus anak yang mengalami kekerasan dapat berdampak jangka pendek ataupun jangka panjang.

  1. Jangka pendek. Dampak jangka pendek terutama berhubungan dengan masalah fisik antara lain: lembam, lecet, luka bakar, patah tulang, kerusakan organ, robekan selaput dara, keracunan, gangguan susunan saraf pusat. Di samping itu seringkali terjadi gangguan emosi atau perubahan perilaku seperti pendiam, menangis, dan menyendiri.  
  2. Jangka panjang. Dampak jangka panjang dapat terjadi pada kekerasan fisik, seksual, maupun emosional.
    1. Kekerasan fisik. Kecacatan yang dapat mengganggu fungsi tubuh anggota tubuh
    2. Kekerasan seksual. Kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, gangguan /kerusakan organ reproduksi.  
    3. Kekerasan emosional. Tidak percaya diri, hiperaktif, sukar bergaul, rasa malu dan bersalah, cemas, depresi, psikosomatik, gangguan pengendalian diri, suka mengompol, kepribadian ganda, gangguan tidur, psikosis, dan penggunaan napza.


[one_third]Penanganan Kekerasan Pada Anak[/one_third]

Pertama :  Pencegahan. Aktivitas pencegahan ini dapat dilakukan secara bersama dalam bentuk sosialisasi hak-hak anak dan sejumlah peraturan ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan keluarga.

Ke dua : Deteksi Dini. bagi anak-anak yang rentan terhadap terjadinya kekerasan serta dalam lingkungan keluarga dan masyarakat perlu dilakukan langkah cepat (quick response) untuk mengevakuasi sementara anak ke tempat yang aman, serta memberikan peringatan dini kepada lingkungan keluarga yang rentan melakukan kekerasan. Artinnya, bagi anak-anak yang rentan terhadap kekerasan sedini mungkin bisa dihindari.

Ketiga :  Intervensi Krisis. Bagi anak-anak yang telah mengalami kekerasan, langkah yang perlu dilakukan melalui pendekatan Intervensi Krisis. Aktivitas ini dilakukan dengan metoda mendampingi korban dan keluarga korban untuk melakukan upaya hukum, dan melakukan terapy terhadap trauma yang diakibatkan oleh tindak kekerasan.


[one_third]Menghindari Kekerasan Pada Anak[/one_third]

Ada beberapa upaya yang patut dilakukan agar kita dapat terhindar dari kekerasan terhadap anak diantaranya adalah :  Hargai anak dan bersikap adil : Ciptakanlah suasana hangat dan penuh kasih sayang di lingkungan anak. Berilah penghargaan bila anak melakukan perbuatan terpuji dan beritahu kesalahannya bila melakukan tindakan tidak baik. Dengan demikian anak belajar menghargai orang lain, terutama orangtuanya.

□       Dengarkan keluhan anak. Bila anak berperilaku buruk, seperti melawan, suka memukul atau berbohong, maka pahamilah lebih dahulu perasaaanya dan dengarkanlah penolakan dan keluhannya.

□       Ungkapkan dengan jelas ketidaksetujuan anda ketika anak berperilaku tidak baik.

□       Hindari ungkapan yang memojokan dan menyalahkan anak. Hindari kata-kata menghardik seperti “Ayo, cepat mandi, mama tidak suka punya anak bau dan pemalas!”

□       Gunakanlah kata-kata mengajak, “Yuk mandi sayang, supaya wangi dan bersih. Setelah itu, kita jalan-jalan”.

□       Peringatan lebih awal. Ketika anda ingin anak anda melakukan sesuatu, cobalah ingatkan  lebih awal dan berikan pilihan serta penjelasan. Misalnya, “Nak, sepuluh menit lagi waktunya tidur ya, supaya besok pagi kamu tidak terlambat bangun  dan tidak mengantuk ketika sekolah” .

□       Menghindar ketika marah (time out). Ketika anda marah karena perilaku anak, maka menghindarlah seketika dari anak-anak kemudian tenangkanlah diri anda, setelah itu dialogkan dengan anak, mengapa anda marah.

□       Berupaya lebih akrab. Binalah hubungan yang lebih hangat dan akrab dengan anak, sehingga anak  menjadi lebih terbuka pada orang tua.

□       Jadilah contoh bagi anak dalam menanamkan nilai-nilai moral  dan sosial yang berlaku. Dunia anak adalah dunia yang penuh kegembiraan dan keceriaan, karena itu kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi  anak-anak.

1 COMMENT

  1. Artikel ini sangat bagus untuk pencerahan bagi orang tua yang punya anak kecil.

    “Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak meremehkan anak, mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek, atau menertawakan, atau perlakukan lain yang kasar atau penolakan.”

    Kejadian sehari-hari dalam menghadapi anak berbagai macamnya, tak bisa juga dilepaskan dari sifat/pembawaan kulrural atau watak orang tua sendiri.

    Ada yang mengatakan kepada anaknya, kalau jatuh bilang “mampuslah kau mengapa kau tidak hati-hati”. Yang lain bilang “mari anakku enta kam semburi”.

    Dua cara menghadapi anak jatuh ini pastilah ada hubungannya dengan pengalaman masing-masing orang tua itu ketika masih anak-anak pula dan dipraktekkan terhadap anaknya sendiri sama seperti mereka diperlakukan orang tuanya dulu. Jelas bahwa sikap orang tua punya pengaruh yang berlainan dalam jiwa dan mental anak itu setelah dewasa. Semua sikap dan sifat orang tua dan anak-anak ini tentu tak bisa dipisahkan juga dari kultur masyarakat masing-masing orang tua yang pernah hidup didalamnya.

    MUG

Leave a Reply