Borong Tarigan, Kegelisahan atas Kemiskinan Desa

0
151

Oleh: Saurlin V. Siagian

 

saurlin 2
Pdt. Borong Tarigan (tengah) (2012).

saurlin 1Tulisan tahun 2007 ini sengaja saya tampilkan ulang, mengenang kembali karya Almarhum yang meninggal hari ini Minggu 3 Agustus 2014 sekitar pukul 15.00 WIB di Taman Jubileum, GBKP Gelora Kasih, Sukamakmur, Bandar Baru, Deli Serdang, Sumatera Utara.

************

”Saya sering menatap dari atas (bukit) di Bandar Baru tempat saya sebagai pendeta Jemaat, saya pandang ke bawah. Ada dua yang berbeda kontras antara bandar baru dengan desa desa disekelilingnya. Semua rumah yang beratap seng, pasti bungalow-bungalow itu, dan semua rumah yang beratap daun rumbia, pasti rumah penduduk desa. Petani yang benar-benar bekerja susah payah, sangat miskin, sementara orang yang tidak susah payah kerja, kaya. Ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi saya setelah menjadi pendeta untuk 13 desa se kecamatan Bandar Baru”

Kutipan ini sepertinya sudah bisa menceritakan semuanya, mengapa Pdt. Borong ingin melakukan pemberdayaan pedesaan. Namun jika ditelisik lebih jauh, ternyata kesadaran akan persoalan pedesaan ini sudah terbentuk sejak lama. Borong adalah anak desa terpencil, bernama Selakkar, kecamatan Bandar Baru, sekitar 15 kilometer dari ibukota kecamatan Bandar Baru, desa yang sangat kesulitan secara ekonomi. Satu momentum penting bagi Borong muda adalah ketika bertemu dengan ”agama-agama’ sewaktu menempuh sekolah menengah atas di Kabanjahe. Borong memiliki kelompok diskusi, 5 orang teman satu kost, yang mendiskusikan agama-agama yang menurut mereka hal yang baru dan menarik saat itu, kemudian mereka sendiri akan memilih agama yang menurut mereka menarik. Mereka, yang semuanya menganut pemenah itu merencanakan untuk mendiskusikan agama satu persatu. Rencananya giliran pertama adalah membaca kitab agama kristen, kemudian dilanjutkan dengan membaca kitab Alquran.

Selesai diskusi tentang agama Kristen, diskusi tentang Alqur-an tidak dilanjutkan karena kesulitan bahan. Akhirnya Borong masuk kristen bersama teman temannya, segera pergi ke gereja dan minta didaftarkan. Rupanya syaratnya, Borong harus melepaskan jimat-jimat yang dikantonginya, sebagai penjaga badan yang diberikan oleh orang tua. Hingga kini, Borong masih ingat dengan mantra-mantra yang diajarkan kepadanya, bahkan Borong sempat sudah bisa mengobati penyakit dan keracunan dengan hanya membaca mantra. ”Tidak apalah, katanya”,kemudian Borong menjadi Kristen. Tahun 1960, Borong dibaptis.

Setelah melanjutkan studi ke Fakultas teknik Universitas Sumatera Utara, tahun 1962, Borong muda langsung aktif ke gereja, bahkan menjadi guru sekolah minggu dan pembaca ’ting-ting’(pengumuman) di gereja GBKP Batang Serangan, tempat Selamat Barus sebagai pimpinan gereja, yang belakangan menjadi koleganya di Parpem. Di kampus USU yang saat itu masih di Jalan Gandhi, Borong juga sempat memasuki GMNI, under bow-nya PNI. Tetapi tidak bisa merasa tenang, karena konflik yang tinggi di kampus antara organisasi-organisasi mahasiswa seperti CGMI, GMNI, GMKI, Masyumi dan HMI. Terkadang Borong merasa kiamat sudah dekat, karena setiap hari ada saja demo besar besaran, saling unjuk kekuatan antara massa yang satu dengan massa yang lain, termasuk ormas-ormas besar saat itu. Oleh karena itu Borong semakin tertarik membaca alkitab, khususnya Wahyu.

Ketika terjadi peristiwa G 30 S, terjadi perubahan besar di Indonesia yang berdampak luas termasuk ke Sumatera Utara. Tepat pada saat kejadian ini, bersama TB. Simatupang, Borong sedang berada di Nias melakukan kerja bakti yang disebut dengan Kelompok Kerja Oikumene (KKO), dimana Borong sebagai salah satu utusan dari gerejanya.

”Tahun 1965 saya ikut Tim Kerja Oikumene di Nias, disitu pertama kali saya ketemu dengan TB Simatupang, disitu pula terjadi G 30 S. Pas Jubileum 100 tahun BNKP. Pada waktu itu mau di perkuatlah gereja ini begitu. Kami di sana membuat jembatan di Teluk Dalam. T.B. Simatupang mendapat kabar bahwa terjadi pembunuhan terhadap petinggi militer di JAKARTA, yang kemudian dikenal dengan G 30 S.(Oleh karena itu) harus pulang segera ke Jakarta, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Jakarta. Tapi sudah kira kira cemas cemas lah”.

Dimana mana terdapat penghakiman massal terhadap orang orang yang dituduh terlibat PKI. Ini juga punya dampak terhadap agama-agama. Kristen salah satu yang mendapat keuntungan. Banyak yang masuk ke Kristen, bukan persoalan mereka terlibat atau tidak dengan persoalan politik, tetapi dengan memiliki agama resmi, warga merasa lebih aman. Dengan demikian terjadi kekurangan para pelayan gereja untuk melayani orang orang yang mau masuk kristen itu.

Di gereja GBKP Batang Serangan, Borong termasuk salah satu yang diminta untuk ikut dalam pelayanan. Oleh karena itu Borong harus ikut pelatihan yang lamanya sekitar 2 minggu. Disitu diajari bagaimana cara membabtis orang, dan sebagainya. Pelatihnya Pdt. Boden Grafen, seorang Belanda yang datang dari Papua.

”Saya kursus oleh Pdt. Bodergrafen, tapi sebelumnya saya sudah guru sekolah minggu GBKP dulu. Setelah pelatihan itu, pergi ke kampung kampung mengajari orang. G 30 S masih berkecamuk. Saya juga ke Langkat,jalan kaki puluhan kilometer, disana ada perkampungan komunis, semuanya ditangkap, romobongan Beheng Keliat, ada perkampungan 5 hektar disitu. Dikampung itu saya mengajar orang untuk naik sidi. Hanya 1 bulan, dan langsung bisa dibabtis begitu, heheee. Seberanya, jalan yang parah menuju desa-desa itu menjadi pergumulan khusus bagi saya”.

Setelah itu Borong terlibat ke desa-desa untuk melakukan pelayanan. Keprihatinan yang muncul saat itu adalah susahnya masuk desa, sungai tanpa jembatan, sehingga harus berenang, SERTA memprihatinkannya kehidupan masyarakat desa saat itu.

Kampus USU saat itu tidak berjalan dengan baik, sementara Borong sudah aktif dalam pelayanan di Gereja. Akhirnya dengan konsekuensi diputus dana dari kampung, Borong memutuskan untuk mendaftar di sekolah pendeta ke Siantar, STT HKBP Nommensen, dan meninggalkan USU pada tahun 1967. Orang tua sangat menentang keputusan ini dan pada akhirnya tidak membiayai kuliah Borong lagi.

Setelah diterima sebagai mahasiswa STT, proses selanjutnya adalah mencari biaya kuliah dan akomodasi. Tidak jauh dari Kampus, terdapat sebuah rumah kosong, yang ternyata adalah rumah salah seorang dosen asing yang ada di STT Siantar. Borong bersama seorang temannya, Usman Meliala, mengajukan permohonan untuk tinggal dirumah itu.

Permohonan itu diterima pemilik rumah, dengan syarat mereka harus memotong rumput halaman dan kebun rumah yang tergolong luas, juga melayani tamu yang datang ke rumah tersebut. Rumah itu ternyata hanya dipakai jika ada pertemuan pertemuan saja. Seperti mendapat durian runtuh, mereka juga akhirnya mendapat uang pengganti lelah memotong rumput sebanyak Rp. 7000 setiap bulan. Menurut ukuran tahun 70-an, tentu uang itu sudah lebih dari cukup buat mereka. Sebagian dari uang itu mereka berikan kepada mahasiswa yang kesulitan ekonomi.

Dikampus, terdapat dua dosen yang dianggap Borong cukup berkesan, Bayern dan Pdt. F. Siregar. Bayern, dosen berkewarganegaraan Jerman dan perwakilan VEM pada saat itu, memiliki pemahaman teologi yang menurut Borong sangat menarik perhatiannya. Belakangan, Bayern memiliki peran besar atas terbangunnya kerjasama besar antara EZE dengan Parpem GBKP. Secara sederhana, Borong menyebut teologi itu dalam satu kalimat : ”Keselamatan itu sudah ada, tetapi harus diperjuangkan, tidak ada perubahan tanpa perjuangan”. Sementara itu, Pdt. F Siregar memiliki daya tarik diberikannya kebebasan akademik kepada mahasiswa, yakni dibebaskan kotbah apa saja bagi mahasiswa, sebelum pelajaran dimulai.

Tahun 1971, menjadi tahun yang berkesan khususnya bagi Borong Tarigan dan Usman Meliala. Rumah tempat mereka melayani menjadi salah satu penginapan peserta Sidang Raya DGI VII yang diselenggarakan di Siantar. Peserta yang menginap dirumah itu kebetulan adalah orang kunci dalam sidang tersebut, diantaranya SAE Nababan (Sekjen DGI), dan TB Simatupang. Sehari-hari mereka mendapat kesempatan untuk cerita di rumah pada pagi hari dan malam hari. Perdebatan di sidang-sidang DGI tentunya menjadi topik pembahasan di rumah. Borong dan Usman tentu menguasai wacana di sidang, karena mereka, sebagai senior di kampus, adalah sebagai panitia lokal sidang raya tersebut. Cerita tentang teologi sosial, peran sosial gereja dan pembangunan menjadi wacana yang akrab bagi mereka.

[one_third]Asal Usul jabatan Kepala Padat Karya[/one_third]

Tahun 1971, Borong diangkat menjadi pendeta yang ke 30-an di GBKP segera setelah menamatkan sekolahnya dari STT. Modal keterlibatan masyarakat yang sudah sering dilakoni sebelumnya menjadi sangat berharga dan memberikan warna berbeda dalam melakukan kerja kependetaan ke desa-desa se-kecamatan Sibolangit. Waktu lebih banyak dihabiskan dengan diskusi di Jambur desa daripada di altar gereja. Masalah desa ditemukan melalui media diskusi jambur. Muncullah jawaban-jawaban atas masalah masalah kongkrit yang dihadapi, yang menuntut tindak lanjut penyelesaian kongkrit. Ternyata, masalah pada waktu itu terpusat pada kesuntukan masyarakat pada kebutuhan fisik dan fasilitas umum yang tidak memadai seperti akses jalan ke desa, air minum, listrik dan masalah pertanian mereka. Tentu Borong juga merasakan hal yang sama sebagai pendeta yang tinggal sehari-hari bersama-sama dengan warga desa.

Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah ketika diputuskannya gotong royong secara terus menerus dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah bersama tersebut. Ketiga dilakukan gotong royong untuk membangun jalan sepanjang lebih dari 4 kilometer, kondisi desa saat itu sedang carut marut dilanda kelaparan. Namun kondisi ini tidak menghentikan usaha warga untuk meneruskan niatnya. Borong Tarigan mencoba membangun kontak dengan lembaga dari luar bernama CWS ( Christian World Service) untuk memberikan bantuan terhadap kebutuhan warga desa itu sembari melakukan gotong royong itu.

Gayung bersambut, CWS datang dengan bantuan beberapa truk beras, pakaian bekas dan logistik lainnya menuju desa. Sesampai di jalan menuju desa, timbul masalah siapa penanggungjawab gotong royong itu, sebagai orang yang bertanggungjawab nantinya terhadap bantuan yang diberikan oleh CWS. CWS ternyata tidak membenarkan seorang pendeta untuk menanggungjawabi bantuan semacam itu. Borong Tarigan tidak kehabisan akal, merasa sangat rugi jika bantuan itu harus pulang karena tidak ada yang bisa menandatangani surat pertanggungjawaban, Borong Tarigan mengaku sebagai Kepala Padat Karya GBKP. Petugas CWS itupun langsung menyodorkan kertas untuk ditandatangani, tanda setuju barang bantuan itu diturunkan dari truk dan diserahkan kepada warga desa.

Lelucon ’kepala padat karya” ini tentunya bisa jadi masalah besar kalau tidak segera dibereskan dengan ketua Moderamen GBKP, yang pada saat itu dijabat oleh Pdt. Anggapen Ginting Suka. Akhirnya, karena merasa tidak tenang, Borong Tarigan bergegas berangkat ke Kabanjahe, melaporkan kepda moderamen jabatan baru yang dibuatnya sendiri itu di tubuh GBKP.

”Aduh aku sudah salah ini pak, aku sudah bilang sebagai kepala padat karya GBKP kepada petugas CWS, karena kalau tidak, bantuan yang sangat berharga bagi desa itu akan dibawa pulang. Terpaksa aku berbohong kepada mereka, karena jika saya bilang pendeta, mereka tidak mau memberikan bantuan itu”. Ketua moderamen tersenyum saja sama saya, dan dia bilang,”Udah, ngga apa-apa itu”. Sejak saat itu, sesama pendeta menyebut saya sebagai kepala padat karya”

Belakangan, jabatan ini menjadi jabatan yang benar benar ada dan disahkan secara formal di tubuh GBKP tahun 1975, dengan kepalanya yang pertama (dan terakhir) dijabat oleh Borong Tarigan. Struktur yang kemudian diganti menjadi unit infrastruktur ini berada dibawah Departemen pelayanan pembangunan yang diketuai oleh Pdt. Selamat Barus pada waktu itu.

Bulan oktober 1974, Borong Tarigan memperoleh kesempatan dari gereja untuk mengikuti pelatihan di Cikembar yang diselenggarakan oleh Depelpem DGI selama tiga bulan. Pertemuan itu membahas proyek-proyek gagal yang ditangani oleh gereja sebelumnya, dan memikirkan model baru bentuk proyek yang akan dilakukan. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk memikirkan apa yang tepat untuk dilakukan didaerahnya masing-masing yang kemudian akan dievaluasi bersama.

Bulan februari 1975, setelah pulang dari pelatihan Borong membuat proposal kecil membuat sebuah jembatan ditempat yang sangat terpencil, desa Laja kecamatan Sibolangit, sekitar 10 kilometer dari ibu kota kecamatan. Nilainya sebesar Rp. 375.000. Kemudian untuk memenuhi persyaratan DGI, Borong memohon tandatangan dari Ketua Moderamen. Setelah satu minggu tidak ada tanggapan, Borong mendatangi Ketua Moderamen kembali. Moderamen menyuruh Borong Tarigan meminta surat resmi dari DGI bahwa DGI memohon tandatangan moderamen.

Akhirnya Borong Tarigan tidak pernah lagi meminta tanda-tangan moderamen, setelah melaporkan hal itu kepada DGI, karena DGI setuju mencairkan dana itu tanpa tanda tangan dari moderamen. Hal membuat moderamen GBKP kaget, dan segera tersebar kepada pendeta-pendeta lainnya bahwa Borong mendapat dana pembangunan. ”Kepala padat karya itu mendapat proyek lagi” . Hal semacam ini tentunya sangat sensitif, ditengah sulitnya keuangan yang dihadapi gereja, pasca pemandirian gereja, sepeninggalan NZG sekitar tahun 40-an.

Gaji pendeta sangat kecil. Sebagai contoh, gaji Borong Tarigan sebagai pendeta sebesar Rp. 2.200 per bulan, dan mendapat beras 2, 5 kaleng per bulan, jauh dibawah gaji ketika Borong sebagai tukang babat rumput halaman rumah majikannya di Siantar, sebesar Rp. 7.000 per bulan.

Proyek pembangunan jembatan itu ternyata cukup berhasil menurut ukuran DGI, setelah mereka melakukan kunjungan ke desa itu. Pada pelatihan berikutnya, tahun 1976, yakni yang dikenal sebagai generasi ke II Cikembar, Borong Tarigan diminta menjadi salah seorang narasumber. Topik yang disampaikan adalah bagaimana sebuah masalah di desa ditemukan, merencanakan sebuah proyek, melaksanakan hingga melaporkannya.

Pada kesempatan itu Borong menyampaikan perlunya memikirkan semacam BANK untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan dan gereja. Hal ini bercermin pada gagalnya proyek-proyek gereja dan hilangnya dana itu begitu saja. Usul Borong itu menarik perhatian Pelpem DGI, dan mereka berniat mengirim Borong untuk orientasi ke sebuah bank pedesaan yang dianggap berhasil di Palakogon, Philipina Selatan. Sepulang dari Philipina inilah, mulai terpikirkan untuk membangun bank secara kongkrit di pedesaan tanah Karo, yang kemudian bersama Selamat Barus dan bantuan M.P. Ambarita, bank didirikan awal tahun 90-an, BANK yang kini kita kenal dengan Bank Perkreditan Rakyat Pijer Podi Kekelengan (BPR PPK).

Leave a Reply