Kolom M.U. Ginting: Kritik Fitri Pada Jokowi

1
188
fitri 2
Menanti Suami Pulang

M.U. GintingMengharukan, tetapi juga inspiratif, tanggapan dan kritik gadis putri penyair Wiji Thukul yang diculik 1998 dan hilang sampai sekarang.

Jokowi mempromosikan Revolusi Mental, dan Fitri mengatakan supaya (Revolusi Mental itu, Red.) “dimulai dari menghargai nyawa rakyatnya meskipun cuma satu nyawa”. Syarat dan tanda yang jelas Revolusi Mental dikemukakan Fitri sangat simpel dan gampang dipahami oleh semua orang.

Banyak masih terjadi dimana penghargaan terhadap nyawa manusia di negeri ini masih sangat jauh dari terpuji. Dimulai dari pembunuhan oleh militer Belanda, disambung dengan pembunuhan massal jutaan manusia oleh militer Soeharto dan yang kemudian dilanjutkan dengan penculikan serta diteruskan dengan meracuni orang karena penculikan tak mungkin lagi.

Korban ’keracunan’ terhitung banyak juga tetapi yang sangat menonjol dan terbuka lebar ialah meracuni Munir sampai tewas. Munir adalah pejuang HAM termasuk soal penculikan orang-orang tak bersalah seperti Wiji Thukul ayahnya Fitri.


[one_third]Urutan kekejaman HAM di negeri ini[/one_third]

Dari pembunuhan kejam militer kolonial Belanda pada era Perang Kemerdekaan, pembunuhan massal (60-70-an) ke pembunuhan tersembunyi 80-an (Penembak Misterius) ke penculikan 90-an, ke peracunan (permulaan Reformasi). Seterusnya ke era tuntutan PENCERAHAN DAN KEADILAN Abad 21.

Semua tahap-tahap pembinasaan ini sesuai dengan situasi yang berlaku pada setiap ‘tahap pembinasaan musuh’ tadi. Mulai dari pemerintahan kolonial, pemerintahan Soeharto dan ke era Reformasi terus ke era Transparansi Abad 21.

Kritik dan tuntutan Fitri adalah dalam rangka PENCERAHAN DAN KEADILAN Abad 21, supaya omongan soal HAM tidak hanya omongan, tetapi bisa ditindaklanjuti dalam sikap dan politik praktis di pemerintahan yang akan datang, di bawah pimpinan presiden terpilih Jokowi.

Bahwa pemikiran HAM secara umum masih sangat jauh ketinggalan dibandingkan dengan pemikiran umum HAM di negeri maju tak perlu diragukan. Maling ayam dipukuli sampai mati atau disiram bensin dan dibakar sampai mati. Masih sering terjadi di kalangan rakyat banyak. Kejadian-kejadian seperti ini sangat tak masuk akal bagi negeri-negeri maju.

Tidaklah mungkin juga pemikiran HAM di kalangan rakyat kita bisa meningkat drastis seperti di Barat tanpa persyaratan yang cukup seperti adanya lebih dahulu peningkatan kesadaran para pejabat/pemimpin dan politikus terkemuka negeri ini.


[one_third]kesiapannya memperjuangkan HAM[/one_third]

Dimulai dari pemimpin dan politikus cerdik, bisa kiranya berubah seperti tuntutan logis dan kritikan penting yang disampaikan oleh Fitri putri Wiji Thukul. Para pemimpin dan pejabat negeri ini harus menunujukkan kesiapannya memperjuangkan HAM dalam sikap dan tindakan politiknya. Misalnya dengan mengambil jarak jelas dari para pelanggar HAM yang masih bercokol di semua tingkat kepemimpinan atau jabatan negara. Bagi Jokowi, sekarang (setelah angkat sumpah jadi presiden RI) adalah sudah mungkin mengambil jarak yang jelas dalam soal ini, walaupun tadinya selama masih di bawah kekuasaan SBY tak mungkin sama sekali.

Bagaimanakah rakyat banyak akan mengerti HAM kalau di ‘atas’ masih bercokol banyak pelanggar HAM dan Pemimpinnya juga tak mengambil jarak atau tak berbuat apa-apa terhadap mereka? Bukankah pada tempatnya kalau rakyat banyak tak mengerti HAM?

Di bawah ini saya ikutkan kata-kata mutiara dari Edi Suranta Ginting di facebook:

Budaya luhur bangsa kita:
menang tanpa mengalahkan
memilih tanpa menyisihkan
mendapatkan tanpa ada yang kehilangan

1 COMMENT

  1. Terkadang isu isu ham ini menjadi konsumsi politik angkat isu demi mendulang suara di parlemen.Revolusi mental yg di janjikan Jokowi sebelum nya banyak di dukung para aktivis HAM.Namun belakangan menuai kritik dgn masuknya eks peting BIN di transisi pasca Pilpres .

Leave a Reply