Warga Berastepu dan Gurukinayan Setelah ‘Dipulangkan’

1
259

 

Oleh: Petrus Sitepu (Kabanjahe)

 

petrus 2Entah apa yang menggerakkan, sore ini [Kamis 14/8: sekitar 17.30 Wib], kuputuskan berangkat mengunjungi teman-teman ex-Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung. Sejak diputuskan untuk meninggalkan lokasi penampungan di Kabanjahe (sambil menunggu tempat relokasi), mereka tinggal di sekitar Desa Payung.


Memasuki daerah sekitar Payung, banyak bertebaran rumah (barangkali lebih tepat “Gubuk”) yang mereka bangun seadanya sebagai tempat tinggal. Salah satu pengungsi ex-Berastepu (merga Sitepu), yang dulu kami pernah bertemu di Lokasi Pengungsi SPP Jl. Irian (Kabanjahe) bercerita banyak soal duka yang mereka alami.

“Sejak kami pindah ke gubuk ini, sepertinya tidak adalah perhatian lagi pada kami. Lihatlah, Pak Tepu, kami sudah coba menanam tomat. Lumayan panennya. Cuma, tidak laku dijual),” tuturnya.

Banyak cerita lain darinya yang menyentuh, meskipun si bapak dan istrinya ini bercerita sambil mencoba tersenyum.

Sekitar 400 meter dari simpang kearah Gurukinayan, sebanyak 14 Keluarga membangun tempat tinggal di sebelah kanan jalan. Kami berhenti (kebetulan penghuni di sini semuanya penduduk Desa Gurukinayan) langsung menyapa.

“Ke mana kam, Pak Tepu?”

“Njumpai kena. Enggo tedeh ateku,” kujawab dengan perasaan gak karuan melihat kondisi mereka.

Kami duduk di halaman (karena memang tidak ada tempat lain). Cerita duka masih berlanjut. Seorang ibu berkata:

“Bngenda me kondisi kami, Pak. Idahndu min ingan kami tading enda.”
Gubuk 3 x 4 m. Dinding tepas, atap sebagian seng, sebagian tenda plastik, diisi oleh 1 keluarga (4 orang). Dapur dan balai tempat tidur menjadi satu.

“Rusur kal kami ngandung berngi e, Pak. Apaika naatap beberéndu ah si sangana sekolah denga lanai kal ia banci erlajar. Tuhu lit nge listrik Genset 3 jam sada berngi. Jam 7 – 10. Berngi e rusur kal kubegi anakta, beberéndu ah, ngandung. Aminna gia itahan-tahanna maka gelah ula kal begi nandé ras bapa é aténa. Bage gia, me me begi kami nge.”

Anaknya itu, Adelina br Sembiring, murid kelas 3 SMPN Payung.

petrus 3Aku tidak bisa berkata apa. Hampir di semua tempat kondisinya seperti ini. Aku sempat berbicara dengan Adelina dan Rima. Keduanya siswa SMP Kelas 3. Semangat masih tergambar di tatapan matanya. Meskipun mereka tersenyum. Aku tahu itu hanya seyum yang dibuat-buat untuk menyembunyikan kegalauan hati mereka.

“Tutus aténdu erlajar, beberé. Lit nge pagi jorena,” hanya itu kata-kata yang terlontar dariku. Entah mengapa, aku tiba-tiba kehilangan kata.

Kutambahkan: “Adi SMA pagi, adi nggit kam, i rumahta saja kam tading. Usahaken kami pagi biayana. Enterem nge kade-kadenta.”

“Ué, pak Bujur kal,” katanya sambil matanya berkaca-kace.

Kebetulan aku tidak membawa uang banyak, tapi apa adanya kuberikan sama mereka berdua.

“Enda sitik penukur buku kena, ya. Minggu si reh, reh ka aku ras mamindu.”

“Ué, Pak. Aku ku rumah lebe erdakan,” sambil membawa periuk untuk menanak nasi.

Kusempatkan masuk ke rumah nya. Dan, matakupun ikut berkaca-kaca.

Maaf saudaraku. Aku tidak lanjutkan cerita ini karena hanya akan menambah kesedihan di dalam mobil sewaktu pulang. Aku hanya terdiam, sambil berfikir, apakah aku sudah memberikan setetes air pada orang yang kehausan? Apakah aku sudah melakukan walaupun sedikit saja? Apa sudah sesuai dengan yang diajarkan agamaku (aku beragama Katholik) atau aku memang berdoa hanya sebatas rutinitas saja?

Tapi, akhirnya aku menyadari, Tuhan memberikan aku pengalaman yang menyadarkan aku.

1 COMMENT

  1. Cerita nyata yang sangat mengharukan, tetapi juga gemas akn sikap pemerintah (daerah maupun pusat) yang dulu telah menjanjikan lebih bagus dari keadaan nyata sekarang.

    Berita bagenda perlu nge iluasken man kerina kalak Karo, kerina organisasi Karo, pemuda mahasiswa, wanita Karo, pemda/DPRD Karo bagepe Sumut.
    Situasi enda banci kang ngangkat kegiatan/keaktifan erbage organisasi Karo bagepe organisasi suku sideban.

    Bujur Pak Sitepu berita singkat enda.
    Entah lit kari kai kin kari si enggo banci siras-rasken, beritakendu man banta kerina.
    MUG

Leave a Reply