Kolom M.U. Ginting: TRANSPARANSI

0
105

M.U. GintingJawaban Jokowi membela intelijen mantan Kepala BIN Hendropriyono masuk Tim Transisi, masih bisa dimengerti karena butuh pengetahuan dalam segala bidang, termasuk dari segi rahasia intelijen misalnya seperti yang dilakukan oleh Edward Snowden.


Alangkah senangnya rakyat Indonesia kalau Hendropriyono misalnya bisa memaparkan di atas meja bagaimana ’intelijen’ bekerja dalam pembunuhan Munir, atau juga dalam kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya di masa lalu, bagaimana intelijen memata-matai Ormas pemuda atau Ormas-ormas lainnya, dsb.

Menyelamatkan masa depan manusia dunia dan di sini tentu termasuk juga para pelanggar HAM, tak bisa luput dari proses perkembangan transparansi. Sudah jelas bahwa transparansi juga sudah merupakan ciri utama jaman ini.

muginting 114
Foto: Ita Apulina Tarigan

Sekiranya Hendropriyono berani dan konsekwen, dia bisa jadi calon Pahlawan Nasional dari segi ’pembongkar rahasia’, tak ubahnya seperti Snowden. Dia bisa jadi Snowden Indonesia. Sekarang ini masih jamannya, sebentar lagi soal ’intelijen’ akan memasuki kondisi barang usang. Intelejen menuju museum karena tak dibutuhkan lagi dalam dunia transparan, dalam hubungan antar negara dan bahkan dalam hubungan bisnis. Hubungan bisnis memang hingga saat ini masih tinggi ’intelijen’nya tetapi sudah mulai menuju perubahan. Berangsur-angsur hanya kepala-kepala negara yang konyol atau pebisnis konyol yang masih tak bisa hidup tanpa ’intelijen’nya.

Dengan hadirnya Abad Diskusi dan debat ilmiah secara transparan, kegelapan manusia tak bisa lagi dipertahankan. Salah satu lapangan yang sangat menarik dalam soal ’membongkar kegelapan’ ini ialah soal INTELIJEN tadi. Soal ini di abad lalu dan sampai pembongkaran seksama oleh Snowden dan juga Assange, tetap dimistiskan sebagai RAHASIA BESAR KEAMANAN NEGARA bagi setiap negara dan kekuasaan. Dengan semua atribut kekuasaan akhirnya juga RAHASIA itu dianggap juga menyangkut keamanan rakyat. Padahal, rakyatlah yang selalu mati konyol karena ’rahasia besar’ itu.

Berkat usaha Snowden dan pemuda-pemuda pro-perkembangan dan kemanusaan, soal intellijen ini ternyata hanya soal ’pencuri biasa’, mencuri dan menyadap semua yang lain yang dianggap musuh atau tak sependapat, dengan menggunakan uang negara (rakyat) dalam jumlah tak terukur.

Semuanya untuk mengabdi pada kepentingan kelompok tertentu yang sama sekali tak menghormati manusia lain dengan pandangan lain atau pendapat lain dan sangat takut akan perubahan dan perkembangan di negerinya sendiri maupun di bagian lain dunia. Mereka sangat takut akan pergolakan yang bisa bikin perubahan. Tetapi, dunia jelas-jelas memang sudah ada perubahan. Seperti Snowden bilang, semua rakyat dunia dari seluruh pelosok sudah mulai bangkit. Semua harus bisa bangkit mengajukan opininya; dunia yang bagaimana kita akan ciptakan sehingga kita senang dan bebas hidup di situ.


[one_third]Sikap memuja dan mengutamakan persamaan?[/one_third]

Soal kegelapan lainnya ialah, dalam hubungan kultur/ tradisi kelompok manusia. Persaingan antara berbagai kultur atau persaingan etnis di abad lalu masih dalam periode kegelapan. Perbedaan antara kelompok manusia, perbedaan kultur dan tradisi pada abad lalu masih dirahasiakan. Hanya persamaannya yang ditonjolkan. Perang etnis yang terbuka, frontal dan besar-besaran serta memakan korban jutaan, telah mendorong ahli-ahli sosiolog membuka matanya mempelajari kegelapan. Mereka mempertanyakan rahasia apa yang ada selama ini dalam sikap memuja dan mengutamakan persamaan dan menggelapkan perbedaan diantara kultur/ tradisi grup manusia.

Pada abad lalu tentu aneh kalau kita ngomong persaingan etnis antara Jawa dengan Sunda di Jawa atau antara Karo dengan Batak atau Mandailing di Sumut dalam soal kekuasaan, ekonomi, maupun dalam soal tanah/daerah. Di bagian lain dunia juga tak pernah terdengar seperti antara Jews dengan Gentiles (orang Yahudi dengan orang Putih) seperti dikatakan oleh Prof. Kevin MacDonald. ”Jewish/ gentile relations as being examples of competition between ethnic groups”.

Kevin MacDonald sangat banyak menulis soal hubungan persaingan etnis orang-orang Yahudi dengan orang Putih di Eropah maupun dengan orang-orang Pribumi di banyak negeri selain Eropah, sejak abad 2 Masehi. Tiap etnis punya taktik dan strategi sendiri dalam menghadapi persaingan etnis, begitu dari dulu dan begitu juga sekarang. Soal persaingan etnis Yahudi ini bisa dikatakan merupakan soal kegelapan tersendiri, karena belum pernah tertulis sebelumnya soal taktik dan strategi orang Yahudi dalam persaingan dengan etnis-etnis lain. MacDonald lah yang pertama menulis secara lengkap dalam Trilogy-nya.


[one_third]Penelanjangan bisnis[/one_third]

Sangat menarik memang kalau orang lain menuliskan taktik dan strategi satu etnis dalam soal persaingan, karena pastilah tidak akan diterima oleh etnis bersangkutan, karena di situ banyak ’rahasia’ yang masih dibutuhkan dalam tiap persaingan dengan etnis lain. Bisa dibandingkan dengan penelanjangan rahasia bisnis atau perdagangan pada abad lalu akan sangat merugikan bagi pebisnis bersangkutan.

Karena itu, kritik keras dan juga sering adhominem dari pihak Yahudi atas Trilogy MacDonald sangat banyak pada awal-awal penerbitan bukunya. Tetapi, akhir-akhir ini, terlihat perubahan signifikan. Semakin banyak yang ikut beropini di internet media sosial memihak transparansi MacDonald. Semakin banyak memihak transparansi dalam semua bidang kehidupan termasuk soal ribuan tahun kegelapan dalam soal persaingan etnis/ kultur dan terutama antara Yahudi-orang Putih atau dengan penduduk Pribumi lainnya sejak abad-abad permulaan Masehi. Maka, semakin berkurang juga kritikan atas Trilogynya.

Apakah dunia sudah semakin meyakini bahwa transpransi adalah kunci penyelesaian segala soal kemanusiaan pada abad ini? Ya, saya rasa memang begitulah. Kehidupan memang akan sangat indah di bawah naungan transparansi, tanpa kegelapan.

Leave a Reply